METRO BISNIS

Penerapan Pajak Orang Super Kaya, Sri Mulyani Sebut G20 Belum menyepakati

0
×

Penerapan Pajak Orang Super Kaya, Sri Mulyani Sebut G20 Belum menyepakati

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi orang super kaya.

JAKARTA, METRO–Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut G20 belum menyepakati soal penerapan pajak orang super kaya. Sebe­lumnya, Brasil yang menjadi tuan rumah presidensi G20 mengusulkan untuk menerapkan pajak sebesar 2 persen untuk para miliarder.

“Brasil mengangkat usulan baru untuk dibahas yaitu pemajakan untuk ­o­­­rang super kaya yang sangat sulit dilakukan, yang menyebabkan erosi pe­nerimaan dan kecemburuan sosial. G20 masih belum sepakat mengenai lang­­kah terkait hal ini,” kata Sri Mulyani melalui Instagram pribadinya, @smindrawati, dikutip Minggu (28/7).

Selain kebijakan pajak orang super kaya, Brasil juga mengangkat isu Climate Change Financing termasuk penyelamatan Hutan Tropikal dan isu ancaman Kelaparan Dunia dan pentingnya Ketahanan Pangan.

Baca Juga  PLN Siagakan 47 SPKLU Layani Pengguna Mobil Listrik di Sepanjang Tol Jateng, Ada Unit Charger Mobile nya!

Lalu, kebijakan suku bunga tinggi oleh The Fed turut dibahas. Menurutnya kebijakan itu menyebabkan depresiasi sejumlah mata uang dan menyebabkan kenaikan biaya bunga di hampir seluruh dunia.

“Kebijakan suku bunga tinggi oleh The Fed yang lebih panjang menyebabkan arus modal keluar dan tekanan depresiasi mata uang serta kenaikan biaya bunga hampir di seluruh dunia. Ini menghasilkan tekanan dan kompleksitas kebijakan fiskal dan mo­neter di banyak negara-antara menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan dan kesempatan kerja,” bebernya.

Di sisi lain, Menkeu menyatakan perekonomian Indonesia relatif terjaga di tengah gejolak pe­rekonomian dan volatilitas pasar keuangan global saat ini. Pada Kuartal I-2024 pertumbuhan ekonomi tum­buh 5,1 persen (yoy), inflasi stabil sebesar 2,5 persen di bulan Juni, ting­kat pengangguran turun menjadi 4,82 persen dari 5,45 persen tahun lalu, dan tingkat kemiskinan turun menjadi 9,03 persen dari 9,36 persen.

Baca Juga  Layanan Kesehatan Gratis Untuk 16.931 Bayi Baru Lahir

Sejalan dengan itu, Indonesia juga terus fokus melakukan reformasi struk­tural untuk mengakselerasi pembangunan prioritas: SDM, infrastruktur, hilirisasi dan kelembagaan.

“Ditengah ketegangan geopolitik dan fragmentasi ekonomi – Indonesia mendukung spirit kerjasama global dan peranan forum G20 dan lembaga-lem­baga multilateral untuk terus meningkatkan kola­borasi agar kita bisa me­ngatasi permasalahan dunia bersama,” pungkas­nya. (jpc)