METRO PADANG

Disdik Sumbar Sosialisasi Pengurangan Risiko Bencana, 519 Sekolah Rawan Gempa, 465 Sekolah Terancam Banjir

0
×

Disdik Sumbar Sosialisasi Pengurangan Risiko Bencana, 519 Sekolah Rawan Gempa, 465 Sekolah Terancam Banjir

Sebarkan artikel ini
RISIKO BENCANA PESERTA DIDIK— Disdik Provinsi Sumbar melaksanakan sosialisasi pengurangan risiko bencana di lingkungan sekolah tahun 2024, Selasa (23/7) di Kota Padang.

PADANG, METRO–Menurut data hasil pemetaan Inarisk pada tahun 2022, sebanyak 57 persen satuan pendidikan terpapar lebih dari satu ancaman bencana. Untuk Sumbar, dari 734 sekolah negeri dan swasta di bawah kewe­nangan Pemprov Sumbar, sebanyak 519 sekolah (71  persen) berisiko tinggi bencana gempa bumi, selain itu sebanyak 465 sekolah (63 persen) berisiko banjir.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Sumbar Barlius, saat membuka sosialisasi pengu­rangan risiko bencana di lingkungan sekolah tahun 2024 yang digelar Disdik Sumbar, Selasa (23/7) di Kota Padang.

Sosialisasi yang mengusung te­ma “Melalui Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) Kita Ting­kat­kan Upaya Pencegahan dan Penang­gulangan Bencana pada Satuan Pendidikan SMA, SMK dan SLB se-Sumbar”  itu, melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar sebagai narasumber.

Kepala Disdik Sumbar, Barlius mengatakan,  Sum­bar secara geografis me­miliki potensi bencana yang cukup tinggi. Gempa, tsunami, tanah longsor, banjir bandang dan letusan gunung berapi rentan ter­jadi sewaktu-waktu. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah membangun kesadaran dan ketangguhan menghadapi bencana termasuk pada sektor pendidikan.

Menurutnya, salah satu penyebab terjadinya banyak korban jiwa pada saat bencana, karena kesalahan bertindak saat menyelamatkan diri. Di sisi lain, kelayakan bangunan dan sarana prasarana juga ber­pengaruh terhadap dam­pak yang ditimbulkan oleh bencana.

Di samping itu, menurut hasil pemetaan tersebut, terdapat risiko lain yang dihadapi oleh sekolah di Sumatera Barat yaitu tsunami, banjir bandang, tanah longsor dan letusan gunung berapi.

Dampak bencana terhadap dunia pendidikan antara lain, gangguan proses belajar mengajar, risiko kesehatan, gangguan psi­kologis, kerusakan sarana prasarana dan terganggunya layanan pendidikan. Hal ini tentu menimbulkan efek kepada dunia pendidikan baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Melalui Permendikbud Nomor 33 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Pro­­gram SPAB, Pemerintah sudah meluncurkan program SPAB. Program ini sangat penting untuk diterapkan di semua sekolah. Terutama di daerah yang rawan bencana seperti Sumbar.

SPAB bertujuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kemampuan se­kolah dalam menghadapi bencana, sehingga dapat meminimalkan dampak negatif yang mungkin terjadi.

SPAB sangat penting dalam mempersiapkan ge­ne­rasi muda Sumbar meng­hadapi potensi bencana alam yang dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Sehingga penting bagi sekolah-sekolah untuk memiliki kesiapsiagaan dan kemampuan untuk merespon bencana dengan tepat. “SPAB diharapkan dapat membantu meningkatkan ketahanan sekolah terhadap bencana dan memastikan keselamatan pa­ra siswa, guru, dan staf sekolah,” harapnya.

Dalam Persesjen Kemendikbud Nomor 2023 tentang Petunjuk Teknis Pe­nyelenggaraan Program SPAB, secara garis besar langkah dalam pelaksanaan SPAB adalah pe­me­taan risiko prabencana, penanggulangan saat terjadi bencana, dan pemulihan pascabencana.

Pemprov Sumbar su­dah mengakomodir tentang SPAB tersebut pada Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 2023 tentang Penanggulangan Bencana. Pada Pasal 72 Perda tersebut sudah memperhatikan tentang upaya pen­cegahan dan penanggulangan dampak bencana di satuan pendidikan.

Pelaksanaan program SPAB dilaksanakan tentunya dengan memperhatikan kearifan lokal masyarakat. Perda ini selanjutnya akan diatur dalam Peraturan Gubernur (Pergub), tentu berbagai instansi dan pemangku kepentingan harus bersama sama terlibat da­lam proses ini.

Namun sebagai leading sector, Dinas Pendidikan Sumbar berinisiatif melaksanakan SPAB secara komprehensif. Termasuk untuk pembentukan Sekretariat Bersama SPAB yang terdiri dari berbagai instansi dan unsur dalam ma­sya­rakat.

“Saya berharap, setelah sosialiasi ini langsung mengambil langkah konkrit untuk melaksanakan SPAB pada satuan pendidikan. Termasuk memastikan ketahanan infrastruktur se­kolah. Setiap satuan pendidikan, agar menyusun rencana SPAB, melakukan simulasi bencana, memberikan edukasi tentang bencana kepada siswa dan melatih mereka prosedur evakuasi dan tanggap da­rurat serta memastikan ke­siapsiagaan sarana dan prasarana sekolah,” ha­rap­nya.

Plh Sekretaris Disdik Sumbar, Benny Wahyudi mengatakan, sosialisasi pengurangan risiko bencana di lingkungan sekolah tahun 2024 ini dilaksanakan dalam upaya mensukseskan program Gubernur Sum­bar dan Kepala Dinas Pen­didikan Sumbar, yakni menyiapkan sekolah yang sa­tuan pendidikannya aman bencana.

“Melalui sosialisasi ini kita memberikan literasi kepada pendidik, tenaga pendidikan, peserta didik, apa yang harus dilakukan saat prabencana, bencana dan pasbencana. Sehingga diharapkan satuan pendidikan betul-betul siap saat menghadapi bencana,” terangnya.

Benny menambahkan, sebagai daerah etalase bencana, perlu upaya sosialisasi terhadap mitigasi bencana. Caranya dengan meningkatkan kapasitas. “Ketika ingin mengurangi risiko, menurunkan hazard dan kerentanan dan pada saat bersamaan perlu dilakukan meningkatkan kapasitas,” terangnya.

Sosialisasi pengurangan risiko bencana di lingkungan sekolah tahun 2024 diikuti 530 peserta. Terdiri dari wakil kepala sekolah bidang kesiswaan SMA, SMK SLB dan seluruh Cabang Dinas (Cabdin). (fan)