PAYAKUMBUH, METR–Dua bangunan yang berada di kompleks SMPN 1 Payakumbuh, Jalan di Jenderal Sudirman, hangus terbakar pada Sabtu (20/7) pada pukul 07.00 WIB. Mirisnya, salah saztu bangunan yang terbakar merupakan bangunan Cagar Budaya yang difungsikan sebagai aula.
Selain bangunan Cagar Budaya, kebakaran juga meludeskan bangunan bertingkat tiga yang digunakan sebagai labor sekolah. Letak kedua bangunan bersebelahan langsung dengan Pasar Payakumbuh.
Pemadam Kebakaran dari Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota berjibaku untuk memadamkan api. Dalam upaya tersebut, petugas Damkar juga dibantu oleh personel TNI Polri. Setelah api melalap dua bangunan tersebut barulah api dapat dijinakkan. Beruntung api tidak menghanguskan ruangan kelas lainnya dan bangunan sekitar.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Payakumbuh, Dasril, memastikan proses belajar mengajar (PBM) tidak terganggu sama sekali dengan kejadian kebakaran di SMP Negeri 1 Kota Payakumbuh. Pasalnya, kebakaran itu tidak berdampak ke ruang kelas.
“PBM tidak tertanggu, Senin ini proses belajar seperti biasa. Tidak ada ruang kelas yang terbakar. Dua ruangan yang terbakar, ruang labor komputer, gudang buku-buku dan kantin,” ungkap Dasril, kepada wartawan pasca kebakaran hebat yang terjadi disekolah itu.
Dia menyebut, akibat kebakaran ada 140 laptop yang terbakar di ruangan Labor Komputer. Kemudian buku-buku lama yang memang tidak terpakai lagi di Gudang Buku. “Untuk kerugian kita belum hitung secara detail. Tapi yang jelas di ruangan TIK ada 140 laptop yang terbakar, kemudian buku-buku lama,” sebut Dasril.
Sementara untuk asal api yang membuat warga Kota Payakumbuh kaget, terutama masyarakat sekitar sekolah SMPN 1 Payakumbuh, disebutkan Dasril diperkirakan berasal dari konsleting listrik ruang aula yang sedang kosong.
“Asal api kita perkirakan dari ruang aula yang sedang kosong. Ruang aula yang terbakar juga merupakan cagar budaya dan tidak pernah dirubah bentuknya,” ujar dia.
Dasril mengakui, untuk memadamkan api yang sudah membesar Damkar Kota Payakumbuh mengerahkan seluruh armadanya ke lolasi, ditambah dari armada Kabupaten Limapuluh Kota dan Kota Bukittinggi. Beruntung, api berhasil dijinakkan dan tidak merambat kepada bangunan sekolah atau lokal tempat PBM berlangsung.
Salah seorang alumni SMPN 1 Payakumbuh tahun 1980, Nedi Rinaldi, menyebutkan bahwa dahulunya aula yang terbakar tersebut pernah dipakai untuk ruang belajar atau kelas.
“Dahulu memang pernah dipakai untuk ruang belajar atau kelas, saya di kelas 1 D pada tahun 1977 hingga kemudian dijadikan aula untuk berbagai kegiatan kesenian,” ucapnya. (uus)






