SOLSEL, METRO – Hari keenam usai gempa melanda Kabupaten Solsel, ratusan warga yang mengungsi masih bertahan di tenda-tenda pengungsian. Mereka bertahan karena belum berani beraktivitas di dalam rumah, karena takut akan adanya gempa susulan yang masih dirasakan.
”Hari ini, gempa masih terasa sebanyak tiga kali. Meski tidak kencang, tapi ini cukup membuat warga cemas. Hal ini yang membuat warga tidak berani kembali untuk beraktifitas di rumah mereka, apalagi untuk bermalam,” ujar Camat Sangir Balai Janggo (SBJ) Muslim, Selasa (5/3).
Dijelaskannya, tiga gempa itu terjadi pada dinihari tadi sebanyak dua kali dan terakhir sekitar pukul 10.00 WIB pagi. Tentunya karena gempa itu membuat warga semakin cemas dan tidak berani beraktivitas di dalam rumah dimana gempa susulan masih dirasakan warga di Kecamatan SBJ yang disebut sebagai pusat episenter terdekat dan terparah kena dampak.
Di pihak lain, Kepala Dinas Kesehatan Solsel, H Novirman, menyebutkan, jumlah korban yang mengalami gangguan kesehatan terus bertambah. Sejauh ini telah tercatat sebanyak 267 orang pengungsi menderita berbagai gangguan kesehatan dengan 20 tambahan angka kesakitan baru (accident rate) hingga hari kemarin.
Menurutnya, angka itu akan terus meningkat tiap harinya, menyusul para pengungsi masih yang bertahan di tenda-tenda. Mereka bertahan karena gempa masih mengguncang. Masa tanggap darurat masih menyisakan satu pekan lebih lagi. Untuk mengobati segala keluhan penyakit dari warga tersebut, pihaknya sekarang tengah menyiapkan laporan dan berencana bakal meminta tambahan obat-obatan pada Kementerian Kesehatan.
”Kendati sekarang stok obat-obatan masih terbilang cukup. Namun, kita berencana akan meminta tambahan obat-obatan ke Kementerian, melihat korban yang terserang sakit tiap hari rata-rata lebih dari 20 orang. Dan dikhawatirkan obat yang tersedia tidak mencukupi,” katanya.
Data sementarap, dari 267 warga yang terserang sakit itu 25 orang masih Balita, 23 anak-anak, 34 remaja, 90 orang dewasa dan 69 lansia. Sementara untuk tambahan 20 orang hari ini (kemarin, red), pihaknya masih menunggu laporan rinci dari petugas kesehatan di lapangan.
Rata-rata, penyakit yang diderita para pengungsi masih relatif penyakit ringan yang penanganannya bisa dilakukan di lokasi. Misalnya pusing, mual, dan capek. Bila ada warga yang harus mendapatkan penanganan lebih, pihaknya langsung membawa ke Puskesmas untuk perawatan lebih intensif.
”Bahkan, dari mereka yang sakit tersebut, tiga orang diantaranya terpaksa di rujuk ke rumah sakit karena menderita sakit jantung dan luka-luka. Secara umun, untuk jenis penyakit yang dikeluhkan warga masih sama seperti hari-hari sebelumnya seperti demam dan ispa,” sebutnya.
Setiap hari tim kesehatan masih terus bersiaga mengantisipasi warga yang sakit. Pihaknya juga melakukan kroscek rutin ke lokasi dan bekerjasama dengan semua instansi baik Kecamatan dan juga relawan kesehatan lainnya
Bukan hanya pemeriksaan kesehatan, Tim bahkan juga memantau kondisi lingkungan yang dihuni pengungsi terutama di Jorong Koto Sungaikunyit. Dari mulai kondisi air, sanitasi, makanan, semua harus dipastikan baik sehingga tidak menimbulkan penyakit baru.
Hari ini bantuan obat-obatan, makanan bayi atau pemberian makanan tambahan, susu, makanan tambahan ibu hamil dari Dinas Provinsi Sumatera Barat datang ke posko bencana di SBJ. Bantuan ini diantarkan langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumbar.
“Bantuan tenaga kesehatan sudah sejak awal bencana kami datangkan, begitu juga dengan tenaga phisikolog trauma hiling. Hari ini baru bantuan obat-obatan dan makanan tambahan bayi dan ibu hamil,” kata Kadis Kesehatan Sumbar, Mery Yulisdey.
Setelah beberapa hari melakukan aksi kemanusiaan membantu korban gempa, sejumlah relawan dari berbagai unsur satu-persatu mulai meninggalkan Solsel. Mereka ada yang pulang dan ada ditarik ke instansinya masing-masing meninggalkan posko dan lokasi bencana secara bertahap.
Pantauan di lokasi sejumlah titik bencana mulai berangsur sepi. Asap dari dapur-dapur umum tak lagi terlihat. Demikian pula dengan mobil-mobil para relawan dari berbagai komunitas, lembaga dan organisasi kemanusiaan yang biasanya lalu lalang dan berdesakan hilir mudik mulai sepi terlihat berlalu lalang.
Namun demikian, tim tanggap darurat bencana Kabupaten, petugas kesehatan, BMKG, BNPB, TNI dan Polri masih standby di lokasi untuk berjaga dan memantau kondisi para korban. Termasuk membantu proses penyaluran bantuan.
Kalaksa BPBD Solsel, Johny Hasan Basri menyebutkan, kepulangan relawan ini, selain karena batas waktu tugas, juga dikarenakan sebagian dari relawan itu merupakan para pelajar yang memiliki banyak kewajiban lain.
“Termasuk dapur umum juga sudah dihentikan. Namun demikian, kami juga tetap menyiagakan satu dapur umum di posko utama. Aktifitas dapur umum ini dihentikan karena logistik seperti beras sudah disalurkan ke warga jadi mereka berkenan memasak secara mandiri,” tuturnya.
Tim inti tanggap darurat termasuk BMKG Padang Panjang masih tetap bertugas hingga suasana dipastikan aman atau masa tanggap darurat bencana habis. Kondisi terkini gempa masih terasa. Sehingga pihaknya masih akan terus memantau perkembangan dampak yang terjadi.
“Karena gempa masih mengguncang, jadi kami masih terus mendata seperti kerusakan rumah yang sebelumnya rusak ringan bisa jadi bertambah rusak. Termasuk menghimpun bantuan dan menyalurkan bantuan-bantuan yang telah ada,” katanya.
Sementara itu sambung Kalaksa, terkait fasilitas umum yang rusak seperti yang telah terdata sudah banyak dimanfaatkan kembali. Seperti, Puskesmas Mercu, SDN 02 Sei Kunyit, SD PT KSI, SMAN 11 Solsel, SMKN 2 Solsel, bangunan Mesjid Mukhlisin, Mesjid Muhajirin dan Mushallah Tauhid di kenagarian Sungaikunyit.
“Namun fasilitas umum yang rusak parah seperti Posyandu di Talunan atau Pustu di Koto Sungai Kunyit memang belum dimanfaatkan. Sedang yang rusak-rusak ringan sudah dimanfaatkan setelah dibersihkan,” jelasnya.
Lalu, pascagempa, diketahui Pemkab Solsel tidak meliburkan sekolah dari proses belajar mengajar (PBM). Namun demikian, pelajar yang terdampak bencana dan masih dalam keadaan trauma masih diberikan kelonggaran untuk menjalani pemulihan.
”Intinya sekolah tidak libur. Sebab, sebentar lagi ujian nasional. Hanya saja, bila saat dalam proses belajar mengajar ada gempa susulan, maka di wajibkan untuk menunda dan menyelamatkan diri terlebih dahulu,” sebut Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Solsel, Zulkarnaini.
Memang faktanya, selain masyarakat, mayoritas anak-anak yang terdampak gempa mengalami trauma. Bahkan, mereka takut datang ke sekolah dan memilih meliburkan diri. Saat ini banyak anak-anak tengah menjalani terapi trauma healing dari petugas kesehatan. Namun untuk pelajar yang datang ke sekolah tetap lanjut belajar.
Untuk sekolah-sekolah yang rusak terdampak bencana lanjutnya, pihaknya telah menyurati Dinas PU Solsel untuk segera mengkaji secara teknis kelayakakannya. Sehingga bisa pula ditangani secara cepat bila ditemui ada yang tidak layak. Namun sejauh ini anak-anak sekolah tetap menggunakan bangunan yang rusak tersebut.
”Saya sudah surati Dinas PU untuk memeriksa kondisi bangunan sekolah di lokasi yang terdampak. Tentu secara teknis mereka yang lebih mengetahui. Seperti bangunan sekolah SD 02 Sungai Sungkai dan sekolah lain, apakah ada yang perlu dirobohkan lalu diganti bangunannya dengan material berbahan kayu dan triplek,” katanya.
Bantuan untuk korban bencana terus mengalir ke posko bencana dari berbagai pihak. Baik dari pemerintah, perusahaan, organisas, perbankan dan donatur lainnya.
“Bantuan yang telah datang ke posKo, telah kami didistribusikan kepada korban gempa, tentunya dilakukan secara bertahap,” pungkasnya. (afr)





