PAYAKUMBUH/50 KOTA

Fenomena Kasus Stunting dan Kemiskinan Ekstrem, Supardi: Karena Hilangnya Kepekaan Kita

0
×

Fenomena Kasus Stunting dan Kemiskinan Ekstrem, Supardi: Karena Hilangnya Kepekaan Kita

Sebarkan artikel ini
BIMBINGAN TEKNIS —Ketua DPRD Sumbar, Supardi membuka sekaligus menjadi narasumber dalam bimtek pertemuan pilar pilar sosial Kota Payakumbuh angkatan IX.

PAYAKUMBUH, METRO–Ketua DPRD Sumatera Barat, Supardi, menyebut munculnya gejala sosial di tengah-tengah masya­rakat seperti kemiskinan ekstrim, stunting, LGBT, Narkoba,  kenakalan remaja dan busung lapar, karena hilangnya rasa peduli atau kepekaan dari individu di masyarakat akhir-akhir ini.

“Kenapa akhir-akhir ini ada sebutan stunting, ke­miskinan ekstrem, LGBT, Narkoba, kenakalan re­maja dan busung lapar, karena sudah hilanganya rasa kepekaan kita,” ung­kap Supardi, saat mem­buka Bimtek pertemuan pilar-pilar sosial Kota Pa­yakumbuh angkatan IX di salah satu hotel di Kota Bukittinggi, Senin (15/7).

Pada kegiatan yang berlangsung mulai 15-17 Juli 2024 itu, disampaikan Supardi, harusnya per­soalan sosial itu di ranah minang tidak perlu terjadi. Karena masyarakat mi­nang memiliki falsafah anak dipangku, kemana­kan dibimbiang, urang kampuang dipateng­gang­kan.  Dirumah-rumah ga­dang orang minang dulu, ada yang namanya rang­kiang, sebagai lumbung pangan. Sehingga anak kemanakan orang minang tidak kekurangan soal pangan.

“Ketika ada ibu-ibu yang kelaparan, kita ang­gap itu bukan persoalan kita. Ketika kepekaan ini kita anggap biasa, maka lambat laun akan biasa saja kita lihat dan rasakan. Ada masyarakat kita di ranah Minang yang sulit beli beras hari ini, ha­rusnya ini tidak terjadi karena kita punya rumah gadang. Maka harusnya di ranah Minang tidak ada yang namanya stunting, busung lapar, kemiskinan ekstrim,” ungkap Supardi.

Dia juga mengurai soal data HIV/AIDS dan LGBT di Payakumbuh. Kemu­dian soal pengguna nar­koba di pedesaan Paya­kum­buh menjadi kota pe­nyumbang tinggi karena berada di perlintasan. Selain itu angka perce­raian di Payakumbuh cu­kup tinggi. Pengangguran dan persentase penduduk miskin juga cukup tinggi.

Untuk itu Supardi, me­ngajak semua elemen untuk berkolaborasi da­lam menangani masalah sosial ini, termasuk harus ada rasa peduli atau peka terhadap warga sekitar tempat tinggal masing-masing. Bila rasa peka ini hilang, rasa tolong me­nolong tidak ada lagi, maka persoalan sosial ini akan semakin kompleks.

Kepala Dinas Sosial Provinsi Sumbar, Syai­fullah, diwakili Rumainur, menyebut dalam me­na­ngani masalah sosial yang akhir-akhir ini sangat kom­pleks, perlu sinergi dan kolaborasi semua elemen termasuk masyarakat. Dia berharap dengan adanya Bimtek bagi pilar-pilar sosial ini dapat mening­katkan SDM dalam me­nangani masalah sosial.

“Melalui kegiatan da­pat meningkatkan pe­nge­tahuan, keterampilan dan kemampuan dalam meng­gerakkan masyarakat di­ling­kungan masing-ma­sing. Kemudian perlu ko­or­dinasi diantara pilar-pilar sosial. Dan saat ini ada 88 peserta, kita berharap ikuti dengan baik dan sung­guh-sungguh. Dan kita ucapkan terimakasih ke­pada bapak Supardi,” se­butnya.

Pada kegiatan yang dilaksanakan Dinas Sosial Provinsi Sumbar ini, selain diikuti 88 orang peserta juga menghadirkan nara­sumber dari Widyaiswara BBPPKS Padang, Yazfinedi dengan tema ‘Urgensi kolaborasi dalam pe­na­nganan permasalahan sosial’. Kemudian Dr. Agus Widiatmo, dengan tema ‘Peran dan kontribusi pilar sosial dalam penyeleng­garaan kesos. Kemudian juga menghadirkan nara­sumber dari Dinas Sosial Kota Payakumbuh, yang disampaikan Kabid Sosial, Tuti Erlina dan Mellyq Novira, yang merupakan Direktur SMART Education Training Consulting. (uus)