SAWAHLUNTO/SIJUNJUNG

Jajaran Desa Tangguh Bencana di Sawahlunto, Perkuat Kemampuan dan Wawasan

1
×

Jajaran Desa Tangguh Bencana di Sawahlunto, Perkuat Kemampuan dan Wawasan

Sebarkan artikel ini

SAWAHLUNTO, METRO–Pemko Sawahlunto, meningkatkan wa­wasan dan kapasitas jajaran Desa Tangguh Bencana (Destana) di kota itu melalui pelatihan yang diselenggarakan dalam Jambore Destana.  Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sawahlunto Dedi Ardona, di Sawahlunto menyampaikan, jambore dilaksanakan selama dua hari di lapangan Desa Kubang Tangah dengan pemateri/instruktur dari komunitas Pe­merhati Bencana Sumatera Barat dan beberapa jajaran BPBD.

”Ada lima desa di Sawahlunto yang sudah menjadi Desa Tangguh Bencana (Destana), semuanya sekarang ikut dalam jambore ini. Ditambah satu Kelompok Siaga Bencana (KSB),” ungkapnya.

Ia menyebut dalam jambore itu dilatih bagaimana teknis pencegahan/antisipasi bencana sampai tindakan darurat dalam penanganan bencana.

Baca Juga  Bergantian Goro Bantu Masyarakat, PJ Wako Perintahkan Perangkat Dearah Turun Lapangan

Dengan pelatihan bersama di jambore itu ditargetkan selain memperkuat pe­ngetahuan dan kapasitas, juga mampu meningkatkan koordinasi antar sesama jajaran Destana.

”Kita evaluasi bagaimana penanganan bencana banjir dan longsor di Kecamatan Silungkang beberapa waktu lalu, itu menjadi bahan untuk jambore sekarang bagaimana yang masih kurang dan lemah pada saat itu maka melalui jambore sekarang dapat diperkuat,” sebutnya.

Penjabat (Pj) Wali Kota Sawahlunto Fauzan Hasan yang membuka kegiatan jambore Destana itu berpesan agar para peserta benar-benar mengikuti rangkaian kegiatan dengan tuntas dan serius.

”Ini ilmunya nanti akan bermanfaat tidak hanya bagi diri kita pribadi, namun bahkan menyelamatkan masyarakat lain. Jadi ilmu yang didapat di jambore ini merupakan amanah untuk membantu masyarakat dan lingkungan,” kata dia.

Baca Juga  Kenakan Pakaian Bundo Kanduang, Polwan Bagi-bagi Kue di Hari Ibu

Ia menyebut dengan kondisi topografi lembah dan perbukitan, kerawanan paling besar untuk bencana di Sawahlunto adalah longsor dan banjir. Maka Destana harus banyak berinisiatif dan bijak menyikapi ancaman bencana tersebut.

”Destana harus kompeten bagaimana pengelolaan saat penanganan bencana terjadi dan pasca bencana itu. Namun jangan lupa bahwa Destana juga harus memperhatikan dan mengurus bagaimana pencegahan bencana, bagaimana resiko-resiko bencana yang muncul bisa ditangani agar tidak berlanjut menjadi kejadian,” katanya. (pin/rel)