METRO SUMBAR

Biochar Solusi Pengusaha dan Petani Sawit Atasi Kelangkaan Pupuk

2
×

Biochar Solusi Pengusaha dan Petani Sawit Atasi Kelangkaan Pupuk

Sebarkan artikel ini
BERSAMA—Kepala Divisi Teknologi Proses, Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian IPB University, Prof. Dr. Erliza Hambali bersama narasumber dan peserta workshop bertajuk “Sosialisasi Karbonisasi Tandan Kosong Sawit dan Pemanfaatannya sebagai Soil Conditioner untuk Meningkatkan Efisiensi Pemupukan dan Kesuburan Tanah pada Perkebunan Sawit,” Jumat (5/7) di Padang.

PADANG, METRO–Salah satu masalah yang dihadapi perusahaan dan petani dalam me­nge­lola kelapa sawit di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) terletak di bagian hulunya. Yakni, terkait besarnya biaya operasional perkebunan. Kepala Divisi Teknologi Proses, Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Tek­nologi Pertanian IPB University, Prof. Dr. Erliza Hambali mengungkapkan, dengan melibatkan petani, pengusaha dan perguruan tinggi, telah banyak usaha yang dilakukan untuk me­ngurangi biaya perkebu­nan ini.

Salah satu upaya yang perlu dilakukan dengan melaksanakan karbonisasi terhadap lahan sawit yang kosong, sehingga menjadi jadi biochar atau yang dikenal masyarakat dengan nama arang tempurung.

“Jadi biochar ini diberikan  ke pokok tanaman. Ini perlu dilakukan, karena Indonesia tidak punya sumber pupuk yang cukup. Seperti pospor. Sebagian besar impor. Pupuk anorganik KCL, kita impor juga dari Rusia dan Kanada. Kalau terjadi perang Rusia Ukraina, supply change terganggu, harga pupuk naik, yang menderita petani,” ungkap Erliza, usai membuka Workshop bertajuk “Sosialisasi Karbonisasi Tandan KosongSawit dan Pemanfaatannya sebagai Soil Conditioner untuk Meningkatkan Efisiensi Pemupukan dan Kesuburan Tanah pada Perkebunan Sawit,” Jumat (5/7) di Padang.

Dengan manfaat biochar hasil karbonisasi ini, perlu disosialisasikan sehingga petani “tidak marah” lagi kepada pemerintah karena harga pupuk naik lagi. “Apalagi dengan kondisi rupiah yang melemah seperti sekarang,  Ini salah satu upaya membantu para petani sawit. Karena sawit sumber devisa terbesar dari Indonesia,” terang Erliza pada kegiatan Workshop yang didukung oleh SBRC IPB University de­ngan dukungan BPDPKS dan APOLIN itu.

Dekan Fakultas Pertanian Universitas Andalas (Unand), Dr. Ir. Indra Dwipa, MS mengatakan, sumbangan perkebunan sawit terhadap devisa Indonesia sangat besar di masa Co­vid-19, mencapai Rp300 triliun. “Jumlah ini sangat luar biasa karena bisa selamatkan Indonesia di masa Covid-19. Jadi sawit ini yang menyelamatkan pe­re­konomian Indonesia,” ungkapnya.

Indra Dwipa menambahkan, yang menjadi kunci dari budidaya sawit a­dalah tanaman sawit butuh pemupukan. Kalau tidak dipupuk tidak menghasilkan tandan buah segar (TBS). Menurutnya, prospek antara petani dan pe­ngusaha itu berbeda.

“Petani itu bagaimana TBS itu besar. Nilainya di situ. Dari perusahaan rendemennya tinggi, bisa capai 22 persen. Karena ada ditemukan alat yang menentukan rendemen itu, maka panen bisa me­ning­katkan rendemen bisa di atas 20 persen,” terang­nya.

“Kalau bisa, ke depan petani didorong secara massif sehingga peningkatan petani dapat mening­kat. Pengambil kebijakan sa­ngat menentukan, se­hingga bukan hanya pe­ngusaha tapi petani terangkat ekonominya,” ha­rapnya.

Sementara Perwakilan PT Bumitama Guna Jaya Agro, Dwi Diar meng­ung­kapkan PT Bumitama Guna Jaya Agro merupakan perusahaan pertama yang sudah produksi biochar dalam sekala pabrikasi.

“Setahun belakangan dilakukan penelitian me­lakukan pembuatan biochar secara konvesional dari tanah kosong. Hasil­nya cukup baik, karena berhasil meningkatkan PH ta­nah,” terangnya.

Dengan kondisi pupuk langka saat ini, perusahaan PT Bumitama Guna Jaya Agro telah mengaplikasikan biochar. Selain menghemat pupuk, sifatnya dapat menahan air dan hara serta meningkatkan orga­nisme.

Apalagi saat ini di Sumbar musim hujan cukup tinggi. Ketika kemarau bisa menahan dan menyimpan air, karena pori-pori tanah menjadi besar.

“Dengan mengunakan biochar, biaya produksi cukup sedikit peruntukannya dengan perluasan la­han yang kurang saat ini. Dengan karbonisasi, dalam lima tahun sekali semua areal akan meningkatkan karbon dan kesuburan tanah,” tambahnya.(fan)