AGAM/BUKITTINGGI

Rakor Bersama BNPB, Kepala BPBD Agam Sampaikan Kondisi Terkini Kebencanaan

0
×

Rakor Bersama BNPB, Kepala BPBD Agam Sampaikan Kondisi Terkini Kebencanaan

Sebarkan artikel ini
RAPAT KOORDINASI— Kepala BPBD yang juga Sekda Agam Edi Busti, menyampaikan kondisi terkini kebencanaan dalam rapat koordinasi bersama BNPB secara daring, Kamis (6/6).

AGAM,METRO–Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang juga Sekda Agam Drs. H.Edi Busti, MSi menyampaikan kondisi ter­kini kebencanaan dalam rapat koordinasi bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kamis (6/6).

Dalam rapat yang berlangsung secara daring tersebut, beberapa poin penting disampaikan terkait penanganan dan relokasi korban banjir bandang serta upaya normalisasi sungai.

Hingga saat ini, sebanyak 51 rumah yang terdampak banjir bandang, pemi­liknya telah bersedia me­lakukan relokasi secara mandiri.

“Masyarakat yang ter­kena dampak banjir bandang sudah mulai melakukan relokasi mandiri. Tercatat ada 51 rumah rusak yang pemiliknya telah pindah secara sukarela,” ujarnya.

Untuk relokasi terstruktur lanjutnya, masih menunggu persetujuan penuh dari warga. Namun, setelah dilakukan pendekatan dan sosialisasi, pada prinsipnya masyarakat mau direlokasi.

“Kami sudah melakukan pendekatan dan sosialisasi kepada masyarakat. Secara prinsip, mereka setuju untuk direlokasi. Kami saat ini tinggal me­nunggu lokasi yang diinginkan oleh masyarakat, yang disiapkan di Balingka, Matur, dan Lubuk Basung,” tuturnya.

Mengenai tanah eks Hak Guna Usaha (HGU), Kepala BPBD Agam menjelaskan bahwa prosesnya sudah selesai. Gubernur dan Badan Pertanahan Nasional (BPN) sudah menyetujui penggunaan tanah eks HGU.

Dalam proses relokasi dan penanganan pasca bencana katanya lagi, beberapa hambatan masih perlu diatasi. Salah satunya adalah kebutuhan akan alat pemecah batu untuk proses demolisi.

“Proses demolisi di Ba­tu Anguih sudah selesai. Namun, kami masih membutuhkan alat pemecah batu untuk mempercepat proses ini,” katanya.

Selain itu, terdapat enam jembatan yang akan diperbaiki, yang masih me­nunggu persetujuan dari BNPB.

“Ada enam jembatan yang perlu diperbaiki segera. Kami masih menunggu persetujuan dari BNPB untuk memulai pekerjaan ini,” katanya.

Isu kritis lainnya yang diangkat pada rakor tersebut yakni normalisasi sungai. Masyarakat Galuang yang berada di bantaran sungai sudah bersedia menyerahkan tanah mereka tanpa ganti rugi untuk keperluan ini.

“Masyarakat di Galuang sudah sepakat untuk menyerahkan tanah mereka guna normalisasi sungai tanpa meminta ganti rugi,” jelasnya.

Namun, jembatan di Galuang juga perlu diperbaiki karena berisiko tinggi terhadap banjir susulan.

“Jembatan di Galuang perlu segera diperbaiki karena berisiko terhadap banjir susulan,” tambahnya.

Selain itu, beberapa spot di sungai lain juga membutuhkan normalisasi segera. Pemerintah daerah terus memberikan dukungan kepada warga terdampak dengan menyediakan suplai makanan dua kali sehari.

“Kami memastikan bah­wa suplai makanan untuk warga terdampak terus ber­lanjut. Dua kali sehari, ma­kanan didistribusikan kepa­da mereka,” ungkapnya. (pry)