BERITA UTAMA

Rangkuman Kesaksian 4 Menteri di Sidang MK, Bansos dari Kemensos Turun Rp 8 Triliun dan Bantah untuk Pilpres

0
×

Rangkuman Kesaksian 4 Menteri di Sidang MK, Bansos dari Kemensos Turun Rp 8 Triliun dan Bantah untuk Pilpres

Sebarkan artikel ini
DIPANGGIL— MK memanggil Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menko PMK Muhadjir Effendi, Menteri Keuangan Sri Mulyani, dan Menteri Sosial Tri Rismaharini sebagai saksi dalam sidang sengketa Pilpres 2024.

JAKARTA, METRO–Sejumlah fakta terungkap dari kesaksian empat menteri Kabinet Indonesia Maju dalam sidang lanjutan perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) atau sengketa hasil Pilpres 2024, yang digelar Mahkamah Konstitusi (MK), pada Jumat (5/4). Berbeda dengan saksi lain di sidang sengketa Pilpres, empat menteri itu tidak disumpah sebelum memberikan ke­terangan.

Adapun, keempat men­teri yang juga pembantu Presiden Joko Widodo (Jo­ko­wi) itu yakni, Menteri Ko­ordinator (Menko) Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Mu­hadjir Effendy, Menko Pere­konomian Airlangga Har­tarto, Menteri Keua­ngan Sri Mulyani Indra­wati, dan Men­teri Sosial Tri Ris­maharini. Mereka membe­rikan ketera­ngan secara bergantian di ruang per­sidangan.

Hakim konstitusi Arief Hidayat memberikan ala­san keempat menteri itu ti­dak disumpah saat me­nyampaikan keterangan di ruang persidangan.

“Beliau itu tidak disum­pah karena sumpah jaba­tan yang dilakukan di ista­na waktu dilantik menjadi menteri, melekat sampai pada waktu memberikan keterangan di persidangan ini,” kata Arief dalam si­dang lanjutan sengketa hasil Pilpres 2024 di Gedung MK, Jakarta, Jumat (5/4).

Berikut fakta-fakta yang terungkap dalam sidang sengketa hasil Pilpres 2024 di MK:

1.Airlangga Sebut Bungkus Bansos Tidak Berwarna Kuning

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto meres­pons pertanyaan hakim konstitusi Arief Hidayat yang menyinggung melon­jaknya suara Partai Golkar pada Pemilu 2024. Ia me­ngaku, mengetahui perta­nyaan itu dari media mas­sa setelah salat Jumat.

“Tadi diangkat Pak Arief Hidayat dan sudah jadi berita di media. Saya baca sesudah salat Jumat sudah jadi berita. Jadi izinkan kalau diperbolehkan,” ucap Airlangga saat membe­rikan keterangan.

Airlangga mene­gas­kan, kehadirannya ke da­lam sidang sengketa Pil­pres setelah mendapat panggilan dari MK. Ia me­nyatakan, kehadiran diri­nya dalam kapasitasnya sebagai Menko Pere­ko­nomian, bukan sebagai Ketua Umum Partai Golkar.

“Pertama, saya hadir untuk perhitungan hasil pemilu presiden. Kedua, saya hadir sebagai Menko Perekonomian,” ucap Air­langga.

“Jadi, pertanyaan ter­kait Golkar izin saya tidak jawab,” tegasnya.

Baca Juga  Mantan Karyawan Leasing Gelapkan Mobil Tarikan

Namun, Airlangga me­mastikan bahwa bantuan sosial (bansos) yang disa­lurkan pemerintah bung­kusnya tidak ada yang berwarna kuning, sebagai­mana warna identik dengan Partai Golkar.

“Tetapi ada satu yang bisa saya pastikan bahwa bansos itu bungkusannya tidak ada yang berwarna kuning. Terima kasih,” ce­tus Airlangga.

  1. Menko PMK Muhadjir Bantah Bansos untuk Pemilu 2024

 Menko PMK Muhadjir Effendy menjelaskan, ban­tuan pemerintah berupa beras terhadap masyara­kat miskin pada Jamuari-Juni 2024 merupakan program perpanjangan dari 2023. Ia meminta, program bantuan kepada masya­rakat itu tidak dikaitkan dengan pelaksanaan Pe­milu 2024.

“Kami memahami apa­bila tugas dan fungsi kami untuk mengkoordinasikan, mensinkronkan, dan me­ngendalikan pelaksanaan program di lapangan ke­mudian dikait-kaitkan de­ngan pesta demokrasi be­berapa waktu yang lalu,” ungkap Muhadjir saat mem­berikan keterangan.

Muhadjir menjelaskan, program bantuan yang di­sa­lurkan kepada masya­rakat semata hanya untuk menurunkan tingkat kemis­kinan. Terlebih, berdasar­kan data Badan Perlindu­ngan Sosial (BPS) angka kemiskinan nasional men­capai 9,36 persen. Semen­tara target RPJMN pada 2020-2024 ditetapkan sebe­sar 6,5 sampai 7,5 persen.

Karena itu, Muhadjir menegaskan pelaksanaan program-program ban­tu­an sosial itu sudah diren­canakan secara matang untuk mengurangi angka kemiskinan.

“Perlu kami tegaskan, bahwa pelaksanaan program-program tersebut di atas sudah direncanakan sejak awal untuk mence­gah terjadinya angka ke­mis­kinan dan sekaligus untuk menu­runkannya. Ser­ta meng­hapus kemis­kinan ekstrem sebagaima­na yang telah kami papar­kan di atas,” ucap Muhadjir.

  1. Sri Mulyani Pastikan Penyusunan APBN 2024 Tak Dipengaruhi Peserta Pilpres

Menkeu Sri Mulyani memastikan, penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2024 telah selesai sebelum penetapan calon presiden dan calon wakil presiden (capres-cawapres) peserta Pilpres 2024.

“Kami menjelaskan ini untuk kemudian disan­ding­kan proses linimasa penyu­sunan APBN tahun angga­ran 2024 yang telah selesai pada tanggal 21 September 2023 dan diundangkan tang­gal 16 Oktober 2023,” ucap Sri Mulyani.

Sri Mulyani lantas men­je­laskan tenggat waktu pro­ses penyusunan APBN 2024. Dia menyebut, pe­nyu­sunan APBN 2024 sele­sai dibahas pada 21 September 2023 dan diundang­kan pada 16 Oktober 2023. Semen­tara, Komisi Pemili­han Umum (KPU) RI baru me­ngumumkan peneta­pan pa­sangan capres-ca­wap­res pada 13 November 2023.

Baca Juga  Pascagempa Sumbar 2009: Puluhan Bangunan Baru Berdiri Kokoh

Sri Mulyani pun mem­bantah penyusunan APBN 2024 dikaitkan dengan pes­ta demokrasi. Terlebih, ke­rap dikaitkan dengan politi­sasi bantuan sosial (bansos) oleh pihak pemo­hon, yakni Anies Baswe­dan-Muhaimin Iskandar dan Ganjar Pra­nowo-Mah­fud MD.

“APBN adalah instru­men penting untuk men­jaga masyarakat, negara dan perekonomian agar mampu hadapi dinamikan perekonomian global,” te­gas Sri Mulyani.

  1. Mensos Risma Akui Anggaran Kemensos Turun Rp 8 Triliun

Mensos Tri Rismaharini mengakui bahwa angga­ran kementerian yang di­pimpinnya mengalami pe­nurunan anggaran sebe­sar Rp 8 triliun pada 2024. Hal itu disebabkan, setelah Kemensos tak lagi meme­gang anggaran bantuan langsung tunai (BLT) el nino sebagai anggaran perlin­dungan sosial.

“Kalau kita bandingkan anggaran 2023 dan 2024, anggaran kami turun dari Rp 87.275.374.140.000 turun men­jadi Rp 79.214.083.464. 000. Hal ini karena belanja BLT el nino keluar dari ban­tuan di 2024,” ujar Ris­ma saat memberikan kete­rangan.

Ketua DPP PDI Perjua­ngan itu menjelaskan, BLT el nino sebesar Rp 7,5 tri­liun, baru dianggarkan setelah Komisi VIII DPR RI memberikan persetujuan melalui sidang paripurna pada November 2023.

“Ini (penyaluran BLT El Nino) harus selesai pada Desember karena tahun anggaran 2023. Saat turun adalah di bulan November,” ujar Risma.

Ia pun mengamini, ban­sos yang disalurkan pe­me­rintah tidak akan ter­ lam­bat. Sebab, penting bagi masya­rakat miskin untuk mereka bisa berta­han hidup.

“Kami memberikan me­­mang tidak boleh ter­lambat. Kalau orang miskin itu (un­tuk) dia bisa survive kadang satu bulan mereka tidak bisa makan, makanya kadang kartunya ada yang digadai­kan untuk menyam­bung sisa hidup mereka. Sehingga kami sangat di­siplin untuk tidak boleh terlambat dalam menya­lurkan,” pungkas Ris­ma. (jpg)