SAWAHLUNTO, METRO – Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Sawahlunto agendakan sosialisasi Program Rehabilitasi dan Pasca Rehabilitasi pada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Sawahlunto di Aula Hotel Ombilin, Kamis (21/2).
Pada kesempatan itu menghadirkan empat orang narasumber, diantaranya Kepala BNNK Sawahlunto, Guspriadi, Psikolog Klinis di Rumah Sakit Ahmad Muchtar, Zera Mendoza, Kasi Rehabilitasi BNNK Sawahlunto, Erlina Juwita dan Kepala Dinas Kesehatan Sawahlunto, Yasril.
Kepala BNNK Sawahlunto, Guspriadi mengatakan, program rehabilitasi merupakan program yang telah lama berjalan sejak BNNK Sawahlunto hadir di Sawahlunto atau sejak empat tahun lalu.
“Tepatnya pada September mendatang genap berusia empat tahun,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa rehabilitasi memang sangat penting dilaksanakan seperti dituangkan pada Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 yaitu pasal 54 yang mengatakan pecandu narkotika dan korban penyalahgunaan narkotika wajib menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial.
Ia menerangkan, untuk di Sawahlunto yang hanya ada empat kecamatan ini, hingga sekarang telah ada sebanyak 116 orang yang terdata dalam rehabilitasi.
“Untuk di kota kecil ini sudah 100 orang lebih yang sudah rehab, itu belum termasuk pada para pecandu lem yang sekarang marak,” ungkap pria tiga orang anak ini.
Ditambahkannya, dalam mengantisipasip penyalahgunaan narkoba ini semua lini wajib berperan, tidak hanya pihak BNN saja. Lebih utama juga peran orang tua dalam memantau anak, karena jika sudah kecanduan akan berdampak buruk pada masa depan anak.
Sementara Zera Mendoza yang juga sebagai pengajar di Sumbar mengungkapkan, rehabilitasi diawali dengan mengenali karakter pecandu tersebut agar bisa masuk apa yang diajarkan.
“Jika kita ingin membengkokkan besi, kita harus tahu juga apa itu besi dan zat yang terkandung di dalamnya. Dengan begitu baru kita bisa melangsungkan niat kita, begitu juga dengan pecandu tersebut,” ungkapnya.
Diantara materi yang diterangkannya itu, dia juga membahas masalah asal mula kenapa orang bisa jadi pecandu. “Dari banyak riset, pecandu itu berawal dari banyaknya masalah yang tak tertahankan, mereka berpikir tidak ada yang bisa memahami mereka,” ujarnya.
“Masalah itu terus memutar di otaknya dan tidak ada tempat mengadu hingga akhirnya terjerumus pada barang haram tersebut. Jadi jika kita mendengar keluhan teman jangan sampai diledek, dengarkan saja atau berikan solusi jika ada,” pungkasnya. (zek)





