METRO PADANG

Menjemput Malam Lailatul Qadar, Iktikaf di Masjid Darul Huda Didominasi Anak-anak dan Remaja

0
×

Menjemput Malam Lailatul Qadar, Iktikaf di Masjid Darul Huda Didominasi Anak-anak dan Remaja

Sebarkan artikel ini
MENJEMPUT LAILATUL QADAR— Sejumlah anak-anak dan remaja banyak mengikuti iktikaf pada sepertiga Ramadhan, di Masjid Darul Huda, Perumdam Punggai, Kelurahan Surau Gadang Kecamatan Nanggalo.

NANGGALO, METRO–Sudah empat tahun terakhir ini Masjid Darul Huda, Perumdam Punggai, Kelurahan Surau Gadang Kecamatan Nanggalo, Kota Padang melaksanakan iktikaf pada sepertiga Ramadhan. Di setiap tahunnya jumlah jamaah yang difasilitasi pengurus masjid ramah anak itu untuk melaksankan iktikaf selalu meningkat jumlahnya.

Ketua Umum Masjid Darul Huda, Prajar­so menyebut, di tahun awal itikaf awalnya hanya diikuti lebih kurang 5 sampai 10 jamaah saja. Kemudian dua tahun belakangan ini terus meningkat jumlah jamaah iktikaf menjadi 50-an jamaah.

“Dan di Ramadhan ta­hun ini sampai diikuti 100-an jamaah yang didominasi oleh anak-anak,” jelasnya, Minggu (31/3).

Pujarao menyebut, ham­­pir 80 persen yang melakuka iktikaf yakni siswa SD, SMP, dan SMA yang ber­domisili di sekitar masj­id. Hal ini menurutnya  patut disyukuri bahwa iktikaf telah menjadi agenda iba­dah penting bagi anak-anak dalam memaknai hadirnya malam lailatul qadar.

“Ramainya anak-anak itikaf di masjid dapat terlaksana karena pendampingan dan binaan dari ikatan remaja masjid yang selalu konsisten membina karakter anak-anak agar memakmurkan masjid. Pe­nga­wasan dari remaja mas­­jid dilakukan supaya ak­ti­vitas anak selama i’ti­kaf di masjid tidak me­ng­gang­gu kekhusukan ja­maah dewasa lainnya,” terangnya.

Sementara itu, Pembina Ikatan Remaja Masjid Darul Huda, Wanda Leksmana mengatakan peserta itikaf yang mendaftar mencapai 100-an orang ja­maah. Hampir seluruhnya merupakan anak-anak.

Pengawasan yang dilakukan remaja masjid, untuk jamaah usia anak yang itikaf dilaksanakan pada sebelum, sedang, dan setelah itikaf selesai. Mereka yang itikaf diwajibkan untuk mendaftar setelah sa­lat subuh.

“Mereka yang itikaf diwajibkan malam harinya melaksanakan shalat isya, tarawih, dan witir berja­maah di masjid,” sebut Wanda.

Kemudian pada pukul 23.00 WIB, anak-anak datang ke masjid untuk dibagi ke dalam beberapa kelompok. Mereka melaksanakan tadarusan sampai waktu maksimal pukul 01.00 WIB, setelah itu mereka diwajibkan tidur hingga pukul 03.00 WIB. Dari pukul 03.00 WIB kemudian  me­lak­sanakan salat tahajud berjamaah selama sejam, hingga pukul 04.00 WIB.

“Kemudian momentum yang mereka tunggu tunggu saat itikaf yakni sahur bersama gratis yang disediakan pengurus. Setelah itu mereka bersiap-siap untuk melaksanakan salat subuh,” jelas Wanda.

Wanda Leksmana me­nye­but, momentum ini ba­gi sebagian masjid mungkin langka didapatkan bahwa mayoritas jamaah yang itikaf adalah anak-anak. Padahak sebenarnya, pengurus Masjid Darul Huda tidak pernah mewajibkan anak yang sedang Pesantren Ramadhan untuk iktikaf.

“Tetapi mereka melaksanakan itikaf atas kemau­an dan kesadaran mereka sendiri, memaknai indahnya sepertiga Ramadhan di masjid, menunggu datangnya laitul qadar dan tak lupa momen sahur bersama menjadi kesempatan ceria yang mereka tunggu-tunggu,” sebut Wanda.

Dana sahur bersama di Masjid Darul Huda berasal dari donatur dan sedekah jamaah serta pengurus. Termasuk memberdayakan ekonomi jamaah yang memiliki usaha makanan untuk mengolah masakan sahur bagi jamaah ikang itikaf.

“Kami yakin, anak-anak ini akan mempunyai cerita yang menyenangkan di masa depan dalam memaknai kegiatan itikaf sepertiga malam Ramadan di Masjid Darul Huda,” harapnya. (brm)