Ramadhan Kareem

Nabi Ismail As, Air Zam Zam Mengalir di Mekkah

0
×

Nabi Ismail As, Air Zam Zam Mengalir di Mekkah

Sebarkan artikel ini

Nabi Ismail As merupakan putra kandung Nabi Ibrahim As dari istrinya yang bernama Siti Hajar. Selain terkait erat dengan peristiwa kurban, salah satu keteladaan yang bisa dipetik dari kisah Nabi Ismail di antaranya adalah tentang awal mula mengalirnya air zam zam di kota Mekkah, Arab Saudi, yang tidak berhenti hingga sekarang.

Nabi Ibrahim As memiliki se­butan sebagai Abulanbiya, yakni bapak dari pada nabi. Maksudnya adalah di antara 25 nabi yang ada, 19 merupakan keturunan Nabi Ibrahim. Termasuk pula Nabi Ismail As.

Abdullah Alawi melalui artikel dengan judul “Di Balik Peristiwa Nabi Ibrahim dan Ismail ke Negeri Tandus” yang dikutip laman NU Online menyebutkan, Nabi Ismail ialah anak kandung Ibrahim dari istri yang bernama Siti Hajar.

Selain itu, Nabi Ibrahim juga mempunyai anak laki-laki lainnya yang kelak bakal menjadi nabi juga. Dia adalah Nabi Ishaq yang lahir dari istri bernama Sarah.

Salah satu peristiwa cukup menarik, Nabi Ibrahim kala itu memutuskan untuk memboyong Nabi Ismail beserta ibunya, Siti Hajar. Mereka menuju Makkah. Tempat yang dikenal dengan daerah ta­n­dus. Air pun sangat sulit untuk didapatkan.

Di lain sisi, Nabi Ishaq beserta sang ibunda, Sarah, justru dibiarkan untuk menetap di Syam, sebuah tempat yang sangat subur. Maka, hal ini sangat bertolak belakang dengan kondisi Mekkah pada zaman itu.

Baca Juga  Mualaf, Silvio Escobar Akui Banyak Cobaan Saat Berpuasa

Meskipun demikian, keputusan penting dengan pindahnya Siti Hajar dan Ismail ke Mekkah itu ternyata mampu menghadirkan sesuatu yang membawa banyak manfaat bagi umat manusia hingga era modern.

Pada suatu saat, dituliskan oleh Bahrus Surur-Iyunk dalam artikel Belajar Kesungguhan Hidup dari Hajar dan Ismail via laman Suara Muhammadiyah, Siti Hajar beserta Ismail kecil yang sudah tinggal di kota Mekkah dalam kondisi kehabisan bekal, baik makanan maupun minuman.

Siti Hajar berlari menuju bukit shafa untuk mencari air yang sedang dibutuhkan Nabi Ismail. Dari bukit shafa, ia kembali berlari menuju bukit Marwah. Namun, yang diinginkan justru tidak ada. Dan air belum juga diketemukan.

Peristiwa Siti Hajar yang berlari dari bukit shafa menuju bukit Marwah itu berlangsung sebanyak 7 kali dan hingga sekarang dikenal dengan sebutan sa’i.

Lantaran tak kunjung mendapatkan air, Ismail kecil yang sudah merasa kehausan akhirnya me­nangis dengan meronta-ronta. Di tengah tangisannya tersebut, dirinya menghentakkan kaki ke tanah. Sungguh ajaib. Diawali hentakan itu, keluarlah air dari dalam tanah.

Allah SWT menunjukkan kekuasaanya melalui sumber air yang muncul di tengah daerah yang tandus dan kering kerontang. Hingga zaman sekarang, air ini terkenal melalui nama air zam zam.

Baca Juga  Memahami Gagapnya Pemerintah Hadapi Covid-19

Penyebutan air zam zam tersebut berasal dari Siti Hajar yang berujar,”Zam zam zam zam…..” kala keluarnya air dari hentakan kaki Ismail. Zam zam memiliki makna kumpul dan jangan berhenti. Hingga saat ini, air zam zam di kota Mekkah, Arab Saudi, tidak berhenti mengalir dan mampu memberikan kesejahteraan tersendiri bagi umat manusia, khususnya yang berada di wilayah tersebut.

Selain kisah tersebut, ada beberapa hal yang bisa diteladani dari kisah Nabi Ismail AS yaitu, kelahiran Nabi Ismail adalah buah kesabaran dari seorang ayah. Dikatakan bahwa Nabi Ibrahim dan istrinya Siti Sarah belum dikaruniai seorang anak. Nabi Ibrahim pun terus berdoa kepada Allah agar dikaruniai anak yang sholeh dan taat. Kelahiran Nabi Ismail merupakan jawaban atas doa yang selalu dipanjatkan Nabi Ibrahim kepada Allah. Tidak sia-sia, penantian selama puluhan tahun dari seorang ayah yakni Nabi Ibrahim membuahkan hasil dengan diberikannya seorang anak sebagai jawaban atas doa-doanya selama ini kepada Allah SWT.

Teladan selanjutnya adalah, meyakini bahwa semua keputusan Allah SWT adalah yang terbaik dan mengandung hikmah di baliknya. Selanjutnya, yaitu patuh dan taat kepada kedua orang tua. (**)