SIJUNJUNG, METRO–Jika ingin tahu banyak tentang nilai-nilai adat dan budaya Minangkabau, maka datanglah ke Perkampungan Adat Nagari Sijunjung, Kecamatan Sijunjung, di Kabupaten Sijunjung. Perkampungan adat ini boleh dikatakan lorong waktunya adat dan budaya Minangkabau. Masyarakat di perkampungan adat ini masih memegang teguh nilai-nilai adat dan budaya yang diwariskan secara turun temurun.
Sejumlah keunikan nilai-nilai adat dan budaya yang berumur ratusan tahun masih tersaji pada desa wisata Perkampungan Adat di Jorong Padang Ranah dan Tanah Bato, Kecamatan Sijunjung Kabupaten Sijunjung itu.
Salah satunya keberadaan balobeh. Balobeh merupakan gudang gabah masyarakat yang menjadi simbol ketahanan pangan hingga kunci terbebasnya daerah itu dari kemiskinan ekstrem.
Balobeh yang terletak tidak terpisah dari ruang rumah gadang, isinya adalah tumpukan gabah dan di atasnya digunakan untuk tidur hingga berkumpul.
Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN), Candra Irawan saat diwawancarai pada Kegiatan Fam Trip Dinas Pariwisata Sumbar, Rabu (6/3) mengatakan, rumah gadang yang ada di Perkampungan Adat Nagari Sijunjung berbeda dengan kebanyakan rumah gadang yang ada di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar).
“Biasanya menggunakan kebanyakan rumah gadang di Sumbar menggunakan rangkiang untuk menyimpan padi dan beras sebagai cadangan makanan, sementara di Sijunjung menggunakan balobeh,” katanya.
Dia mengatakan padi yang dipanen masyarakat bukan untuk dijual melainkan disimpan untuk kebutuhan kaum penghuni rumah gadang. Jadi tidak ada istilah kemiskinan ekstrem di sini. Karena akan ada makanan yang bisa dikonsumsi setiap hari.
Sekedar diketahui, di perkampungan adat Nagari Sijunjung memiliki 76 rumah gadang. Usianya sudah ratusan tahun. Sebanyak 40 di antaranya dialihfungsikan menjadi homestay. “Untuk para wisatawan yang datang dan menginap di rumah gadang ini akan merasakan langsung sendi-sendi sosial kehidupan masyarakat setempat, termasuk adat istiadatnya,” katanya.
Dijelaskannya, setiap rumah gadang Perkampungan Adat Nagari Sijunjung memiliki satu alat tenun tradisional, setiap harinya para perempuan di rumah gadang menjalankan aktivitas memproduksi kain sonket dengan cara tradisional.
Perkampungan Adat Nagari Sijunjung ini dapat menjadi salah satu pilihan bahi wisatawan untuk menikmati liburan menelusuri nilai-nilai adat dan budaya Minangkabau.
Bagi yang ingin mengetahui dan belajar nilai-nilai adat dan budaya Minangkabau, tidak akan puas dalam sehari kunjungan. Bagi pengunjung yang ingin menginap dan dapat merasakan langsung tinggal di dalam rumah gadang berusia ratusan tahun tersebut, untuk tarif per malamnya Rp300 ribu. Rumah gadang tersebut bisa diisi lima orang. Mayoritas wisatawan yang datang ke Perkampungan Adat Nagari Sijunjung adalah pelajar dari kalangan mahasiswa hingga peneliti budaya internasional,” kata Candra.
Candra juga mengungkapkan, dalam upaya peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk pelayanan wisatawan yang datang Perkampungan Adat Nagari Sijunjung, masyarakat di Perkampungan Adat dibina oleh salah satu Bank Swasta di Indonesia.
Sekadar siketahui, Wisata Perkampungan Adat Nagari Sijunjung berhasil lolos dalam 75 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) tahun 2023. Pada kompetensi itu Secara geografis kampung adat ini terletak diantara dua sungai yakni Batang Sukam dan Batang Kulampi. Perkampungan ini terhampar sekumpulan Rumah Gadang (Rumah Adat Suku Minangkabau) sebanyak 76 buah sebagai simbol kaum (clan) berbasis matrilineal yang masih berfungsi dan dibangun serta tertata rapi dalam satu kawasan.(fan)






