AIE PACAH, METRO–Musibah bencana alam yang belakangan ini sering terjadi memberikan dampak yang cukup besar kepada kehidupan masyarakat termasuk pada penyelenggaraan pendidikan. Oleh karena itu, pemerintah pusat menilai perlu adanya pencegahan dan mitigasi bencana karena kedua hal tersebut merupakan ruh kesiapsiagaan bencana.
Untuk memitigasi bencana, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), melalui Peraturan Menteri (Permen) Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 33 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) berupaya mendorong keberlangsungan layanan pendidikan pada satuan pendidikan yang terdampak bencana.
Menanggapi Permen tersebut, Pemko Padang menggelar Bimtek SPAB yang dilaksanakan di Balaikota Padang. Sekda Andree H. Algamar berharap, Bimtek tersebut mampu meningkatkan kemampuan masyarakat dalam penanggulangan bencana secara mandiri.
Sekda menyampaikan, beberapa poin dalam forum diskusi tentang pembelajaran penanganan musibah alam, yang merupakan hasil kerjasama antara Pemerintrah Kota Padang dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tersebut.
“Kita harus bersama-sama berkomitmen dalam upaya penanganan bencana. Khususnya dari segi pencegahannya. Mulai dari hulu sampai hilir, kita harus bersama-sama bergerak,” ungkapnya, Senin (4/3).
Sekda juga memaparkan bagaimana kesiapan Pemerintah Kota Padang melalui BPBD Kota Padang dalam merespon peristiwa kebencanaan, baik dari segi pencegahan maupun penanggulangan bencana yang sangat rentan terjadi berulang di tengah kondisi cuaca ekstrim saat ini.
“Terdapat empat hal penting yang perlu diperhatikan dalam melakukan mitigasi bencana. Pertama, harus tersedia informasi dan peta kawasan rawan bencana. Yang kedua adanya sosialisasi. Setiap kategori bencana perlu adanya sosialisasi kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan pemahaman serta kesadaran masyarakat dalam menghadapi bencana,” ulasnya.
Sementara, poin yang ketiga menurutnya, masyarakat harus mengetahui apa yang perlu dilakukan dan dihindari untuk memitigasi bencana. Selain itu masyarakat juga harus tahu cara menyelamatkan diri jika terjadi bencana yang datang sewaktu-waktu. Dalam poin yang keempat, sekda menyebut masyarakat harus tahu bagaimana mengatur penataan kawasan rawan bencana untuk mengurangi ancaman bencana.
Sementara itu, Kalaksa BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton, mengatakan bimtek yang dilakukan tersebut berlangsung selama dua hari yang diikuti oleh 60 peserta, terdiri dari Kepala SD, SMP, MTsN yang berada di zona merah.
“Kita berharap para peserta bisa mengimplementasikan program SPAB secara mandiri dan terpadu di berbagai satuan pendidikan yang ada di Kota Padang maupun wilayah lain terdekat. Mari manfaatkan bimtek ini sebagai sarana untuk memahami, belajar dari narasumber yang telah memiliki pengetahuan dan pengalaman pelaksanaan program SPAB. Sehingga generasi muda yang berada di wilayah zona merah dapat tangguh dan siap menghadapi ancaman terjadinya bencana alam sewaktu-waktu,” pungkasnya. (brm)






