SUDIRMAN, METRO – Pernyataan Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Grace Natalie yang tidak mendukung perda syariah dan perda yang berlandaskan agama lainnya menuai kontroversial. Apalagi di Sumbar yang hampir setiap kabupaten/kota memiliki perda syariah. Mulai dari Perda Berpakaian Muslim, hingga Perda Pemberantasan dan Pencegahan Maksiat.
Pengamat Politik Universitas Andalas, Ilham Adelano Azre berpendapat, pernyataan sikap politik PSI yang menolak perda syariah bisa memberatkan Caleg PSI untuk menang di Sumbar. Pasalnya, Sumbar merupakan provinsi dalam bentuk pemerintahan berlandasan syariah.
“Adanya pernyataan penolakan perda syariah dari PSI ini maka peluang mereka untuk menang di Sumbar makin berat. Karena isu tolak perda syariah dianggap (tabu) bagi masyarakat Sumbar. Sehingga susah juga masyarakat menerima pertanyaan tersebut,” kata Azre, Minggu (17/2).
Di sisi lain, Azre menilai, PSI sedang melakukan strategi besar tentang ideologi politik yang mereka perjuangkan ke depan. Ideologi politik yang diperjuangkan itu sebagai penegas dan pembeda dari partai-partai lain. Artinya, PSI berani mengambil sikap politik anti mainstream dari partai lain.
“Saya melihat ada ideologis atas sikap politik yang jelas dari PSI yang selama ini banyak ppartai bermain di wilayah abu-abu,” ujar Azre.
Azre juga menilai, PSI sebagai partai yang berbeda dengan partai-partai politik lain. Dan, ini menjadi peluang besar untuk PSI karena mereka berupaya menyampaikan pesan pandangan politiknya melalui cara-cara yang diterima masyarakat. “PSI ingin mengambil pemilih terbatas dan pengen menguasi itu. Mereka sadar itu akan merugikan mereka, dan saya rasa sih ini juga tantangan bagi PSI bagaimana melihat realitas dan ideologis politik dengan irisan tertentu yang bisa menguntungkan mereka secara lektoral walaupun isu-isu yang diangkat tidak seksi,” sebut Azre.
Azre pun setuju terhadap cara politik PSI yang terbuka dan memperlihatkan ideologisnya kepada kalayak ramai. Karena, mereka tidak terjebak pada pragmatisme saja akan tetapi PSI sebenarnya suatu diferensiasi politik yang sebagai bagian dari trademark mereka sebagai partai baru. “Tapi saya melihat ini karena hanya faktor ideologis dan idealisme anak-anak muda berpolitik saja. Misalnya di Sumbar pasti akan memberatkan calon-calonnya dengan adanya penolakan perda syariah,” tukas Azre.
Pandangan senada diutarakan Pengamat Politik, Najmuddin Rasul. Dia mengatakan, perda syariah atau injil hanya terdapat di daerah-daerah tertentu. Penyusunannya juga melalui mekanisme yang jelas.
Seperti di Sumbar sebutnya, Perda Berpakaian Muslim dan Perda Pandai Baca Tulis Alquran hanya diperuntukkan bagi umat Islam. Tidak untuk penganut agama lain.
“Itulah keberagaman sesungguhnya yang sesuai dengan Pancasila. Itu tandanya, Grace Natalie tidak mengerti Pancasila. Itu menjadi ancaman PSI di Sumbar,” kata Najmuddin.
Najmuddin menilai, Grace ingin menjadikan perda sebagai isu politik dan Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019. Namun, Grace kurang paham hakikat perda tersebut. Sehingga yang lahir justru kegaduhan dan kritik. Sehingga isu tersebut dapat merugikan Jokowi dan PSI sendiri.
Seperti diketahui, pada HUT PSI ke-4, Grace Natalie mengatakan PSI akan mencegah diskriminasi dan tindakan intoleransi. Selain itu, saat ini tidak boleh lagi ada penutupan rumah ibadah secara paksa. PSI akan mencegah lahirnya ketidakadilan, diskriminasi, dan seluruh tindak intoleransi di negeri ini. (mil)





