JAKARTA, METRO-Anggota Komisi VI DPR RI Andre Rosiade turut serta dalam Kunjungan Kerja (Kunker) Reses Komisi VI DPR RI ke Bandara Kertajati di Majalengka, Jawa Barat, Senin (19/2). Andre bersama anggota Komisi lainnya menilai bandara sudah sangat lengkap dan nyaman untuk pengguna pesawat udara dalam dan luar negeri.
“Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) atau biasa disebut Bandara Kertajati telah resmi dioperasikan 29 Oktober 2023 lalu. Namun memang, masih belum terlihat maksimal karena belum terlalu banyak digunakan. Masih jauh kalah dari bandara tetangga Soekarno-Hatta di Cengkareng, Banten. Tapi kalau soal fasilitas, rasanya tak kalah dari bandara manapun di Indonesia,” kata Anggota DPR RI asal Sumbar itu.
Andre mengatakan, Kunker Komisi VI ini berguna untuk melihat langsung bagaimana kondisi Bandara saat ini. Dan apa yang perlu dievaluasi atau ditambahkan lagi. “Kami banyak mendapatkan laporan soal masih sepinya Bandara yang megah ini. Tentu karena baru dioperasikan, masih ada kekurangan di sana-sini. Makanya nanti akan ada evaluasi untuk pengelola,” kata Anggota Dewan Pembina Partai Gerindra ini.
Andre meminta semua pihak, baik pengelola bandara atau maskapai agar bisa memaksimalkan penggunaan Bandara Kertajati ini. Sangat disayangkan kalau penggunaannya tak maksimal, karena biaya pembangunan yang sangat besar. “Ini harus jadi perhatian kita semua. Apalagi Jabar adalah daerah terpadat di Indonesia yang harusnya juga memiliki alur lalu lintas udara yang juga padat,” kata Ketua DPD Partai Gerindra Sumbar ini.
Sementara itu Ketua Tim Rombongan Kunjungan Kerja Komisi VI DPR RI ke Provinsi Jawa Barat, Herman Khaeron, menyoroti rendahnya pengguna jasa Bandara Kertajati. Situasi ini mendapat perhatian lebih olehnya, sebab bandara ini sudah memiliki fasilitas yang sangat baik, bahkan bisa didarati oleh banyak pesawat besar termasuk Antonov.
Menurut Herman, yang juga, pihaknya sudah kunker ke Bandara Kertajati dan mengaku heran kunjungannya dirata-ratakan hanya berkisar 1.500 orang per harinya. “Hal ini menjadi pembahasan penting dengan Garuda Indonesia, Angkasa Pura, Air Nav, dan Pimpinan Bandara Kertajati,” katanya.
Esensinya, kata Herman, adalah ini akan diapakan ke depannya dengan keterbatasan-keterbatasan kunjungan penumpang yang rata-rata perhari 1.500 orang, meski sudah dibuka rute-rute yang potensial, untuk ke Kalimantan Timur, Balikpapan, Bali dan bahkan dalam seminggu ada dua kali angkutan Umroh yang melalui Kuala Lumpur.
Menurutnya, hal ini menjadi sangat strategis apabila dimaksudkan dari sejak awal penutupan Bandara Husein Sastranegara adalah untuk bisa menggiring para pengguna Bandara Husein Sastranegara ke Bandara Kertajati.
“Saya kira harus dicarikan cara apakah hal itu dikarenakan kurang sosialisasi, aksesibilitas, maupun terhadap pengetahuan masyarakat terkait dengan penggunaan bandara. Bahkan ke depan saya usulkan bagaimana antar instansi berkolaborasi ataupun berkoordinasi untuk melahirkan kebijakan bahwa seluruh penerbangan umroh dan haji itu dipindahkan ke Kertajati,” katanya.
Herman menambahkan, mungkin saja nanti untuk di sekitar kawasan ataupun seluruh Jawa Barat dan Jawa Tengah wilayah barat ini juga bisa menampung penumpang umum yang lebih potensial hingga bisa menggunakan Bandara Kertajati. (*)






