PADANG, METRO —Beberapa pekan jelang masuknya bulan suci Ramadhan, Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemko Padang menggelar Master Of Trainer (MOT) Pesantren Ramadhan 1445 Hijriah, Selasa (20/2). Perwakilan pengurus masjid, kepala sekolah, kelurahan serta Kementerian Agama Kota Padang, ikut dalam kegiatan rutin yang digelar setiap tahun itu.
Kabag Kesra Fuji Astomi, mengatakan Pesantren Ramadhan tahun ini, Pemko Padang mengangkat tema Wasilah untuk melahirkan calon pemimpin yang islami dan berakhlak di Kota Padang.
“Dengan tujuan untuk membiasakan akhlak mulia serta pembiasaan untuk mencintai rumah ibadah menjadi dasar yang kuat perlunya dilakukan pesantren ramadhan baik di tingkat SD, maupun SMP, dan didukung dengan kebijakan dari Pemerintah Provinsi Sumbar tingkat SMA juga melakukan Pesantren Ramadhan di rumah ibadah,” katanya.
Dia juga menekankan, sejatinya Pesantren Ramadhan adalah kegiatan keagamaan yang tidak hanya dilakukan umat muslim, tetapi bagi siswa non muslim juga akan diarahkan untuk berkegiatan di rumah ibadah masing-masing.
“Jadi kebijakan Pesantren Ramadhan ini tidak merupakan intolerannya Kota Padang, beberapa waktu lalu kita sedikit tergelitik dengan adanya release publik yang menyatakan bahwa Kota Padang adalah Kota yang intoleran, yang disebabkan oleh banyaknya kebijakan pemerintah yang berbau islami,” kata Fuji Antoni.
Dia menyebut ini adalah hal yang harus diluruskan, karena menurutnya bagi pelajar yang non muslim juga dapat melakukan kegiatan keagamaan sesuai dengan kepercayaan yang dianutnya masing-masing.
Ramadhan tahun ini, Pemko Padang berencana menggelar selama 17-20 hari, yang akan dibuka pada 14 Maret 2024 secara serentak di masjid dan mushalla masing-masing. Pemko akan melakukan launching pada 1 Maret mendatang.
Menurutnya, pemerintah perlu melakukan acara untuk melaunching nya, karena Pesantren Ramadhan adalah perpindahan proses pembelajaran dari sekolah ke rumah-rumah ibadah.
Fuji melanjutkan, Wako Hendri Septa telah mewanti-wanti bahwa pada saat kegiatan iktikaf di mesjid nanti, peserta didik wajib didampingi oleh orangtuanya masing-masing.
“Kita ingin masyarakat Kota Padang itu sama-sama iktikaf, tidak hanya anaknya saja, tetapi juga orang tua, kita menanamkan rasa malu jika anak tidak membawa orang tuanya, yang merupakan kiasan dari malu anak jika tidak membawa orang tua ke syurga,” katanya.
Menurutnya, tahun ini penyelenggaraan Pesantren Ramadhan ada sedikit perbedaan dengan tahun sebelumnya. Dimana dilakukan selang seling antara teori dan praktik, dan tidak hanya terpaku pada skor nilai yang diperoleh siswa.
“Tahun ini kita melakukan perbaikan pola Pesantren Ramadhan sesuai dengan kebijakan nasional yakni kurikulum merdeka, yang menjadi nilai adalah kualitas bukan skor nilai lagi, tetapi kita akan melakukan selang seling antara teori dan praktik, tidak ada lagi ujian yang ada adalah panen karya di akhir pesantren nanti,” katanya. (brm)






