Oleh: Reviandi
PRESIDEN Joko Widodo (Jokowi) sarapan pagi bersama dengan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di Yogyakarta, Minggu (28/1/2024) pagi, sambil membahas isu politik terkini. Hal itu tentu menambah panas tensi politik jelang Pilpres, karena sebelumnya Jokowi berujar, Presiden boleh berkampanye. Sampai membawa kutipan Undang Undang Pemilu.
Seperti diketahui, Jokowi dan AHY kini di kubu yang sama. Mereka adalah pendukung pasangan Capres-Cawapres nomor urut 2 Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. Hal yang membuat pasangan ini di atas angin, karena selalu unggul telak dari lawan-lawannya pada survei-survei Pilpres 2024. Bahkan ada yang telah menyatakan sampai 50 persen, membuat peluang satu putaran terbuka lebar.
Bergabungnya AHY dan Partai Demokrat, pastinya atas izin ‘pemilik’ partai Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Artinya, ada dua “presiden” di belakang Prabowo-Gibran, Jokowi dan SBY. Di beragam baliho dan billboard Demokrat, foto Prabowo, Jokowi dan SBY kerap ditampilan. Satu hal yang diharapkan bisa terus mendongkrak elektabilitas pasangan itu.
Di Yogyakarta, Presiden dan AHY begitu terlihat akrab. Beberapa bulan lalu, foto AHY dan Gibran sering wara-wiri di media. Di Yogya, Jokowi bersepeda dan disebutkan bertemu dengan AHY di Alun-Alun Utara Yogyakarta. Keduanya berjalan ke Rumah Makan Gudeg Yu Djum di daerah Wijilan untuk sarapan. Apakah pertemuan ini disengaja atau tidak, yang pasti kehebohan terjadi sepanjang hari.
Tak banyak yang tahu, apa pembicaraan dua tokoh besar itu. AHY kini Ketum partai, sementara Jokowi Presiden. Meski partai yang membesarkannya, PDIP tak mendukung Prabowo, namun sumber daya yang dimiliki RI 1 tentu jauh lebih besar dari Ketum partai manapun. Meski sering disebut-sebut petugas partai, yang posisinya jauh di bawah Ketum PDIP Megawati Soekarno Putri.
Dari bocoran Istana, pembicaraan Jokowi dengan AHY mulai hal yang ringan sampai dengan persoalan kebangsaan dan situasi perpolitikan di tanah air. Entah apa yang ringan saat ini, saat semua sedang fokus dalam memenangkan Pilpres. Baik peserta Pemilu, tim sukses, dan pastinya Jokowi dan AHY yang kali ini berada dalam satu kubu.
Seorang Presiden, tentu tidak serta-merta bertemu dan berbicara hal-hal yang receh. Apalagi sepekan terakhir, Presiden ke-6 Indonesia, SBY begitu gencar mengampanyekan Prabowo dan Gibran. SBY begitu mengesankan menyebut dia bersahabat dengan Prabowo, dan mengetahui bagaimana baik dan hebatnya Prabowo. Meski pernah bertanding dengan Prabowo dalam Pilpres 2009.
Meski pertemuan dilakukan saat libur, tetap saja Jokowi punya sesuatu dengan teman bersepedanya, AHY. Apalagi saat ini, semua tahu hubungan Jokowi dengan PDIP sedang tidak seperti biasa. Tak tahu juga baik-baik saja atau tidak. Karena isu yang beredar begitu liar, semua Menteri PDIP akan mundur, sampai ada yang menyebut Jokowi sedang meminta waktu ke PDIP untuk bertemu Megawati. Semua itu sama-sama mengambang dan dibantah.
Yang pasti, kata Istana, keduanya berkomunikasi dan bersilaturahmi untuk kebaikan dan kemajuan bangsa. Karena persoalan bangsa tidak bisa diselesaikan sendiri, perlu semangat kolaborasi, kerja sama dan sinergi. Terlalu lama basa-basi dilakukan kalau hanya membahas yang receh atau standar. Mereka berbicara selama 45 menit, ada yang menyebut 1 jam.
Pertemuan keduanya masih terus beredar baik dari video atau foto. Tampak Jokowi mengenakan kaos lengan panjang berwarna gelap, sementara AHY mengenakan kaos biru lengan pendek.
Koordinator Staf Khusus Presiden, Ari Dwipayana, membenarkan bahwa Presiden Joko Widodo bertemu dengan AHY. Jokowi dan AHY membicarakan beberapa topik. Menurut dia, Jokowi dan AHY mengobrol dengan rileks. Komunikasi ini perlu didukung, terutama untuk kebaikan dan kemajuan bangsa.
Sementara Kepala Badan Komunikasi Strategis Demokrat, Herzaky Mahendra menyebut perbincangan antara keduanya berlangsung hangat. Mereka membahas situasi politik nasional dan berkomitmen pemilu damai, aman dan demokratis.
Pertemuan keduanya itu tentu akan membentuk satu pandangan, kalau tidak ada yang berseberangan di Koalisi Indonesia Maju (KIM). Maklum, awalnya AHY ada di kubu Anies Baswedan bersama Partai NasDem dan PKS. Namun, tiba-tiba AHY batal jadi Cawapres, dan Anies memilih Ketum PKB Muhaimin Iskandar. Jadilah, PKB ke Anies, dan Demokrat ke Prabowo.
Tentu, hal ini yang membuat masih banyak yang meragukan persatuan dua kubu ini. Karena bagi Demokrat, Prabowo bisa menjadi sarana ‘balas dendam’ kepada kubu Anies. Selain itu juga bisa menjadi langkah mereka untuk kembali ke pemerintahan. Sejak SBY lengser 2014, Demokrat tak pernah lagi mencicipi kekuasaan. Bahkan beragam masalah mereka dapati, sampai membuat partai ini terlempar dari tiga besar Pemilu 2014 dan 2019. Dengan Prabowo, 2024 menjadi harapan lain Demokrat.
Kita tak perlu lagi mempertanyakan sikap Jokowi. Karena dengan berbagai kejadian sepekan terakhir, Jokowi sudah mulai lebih terbuka dukungannya terhadap 02, yang Cawapresnya anak sulungnya. Tak perlu lagi mencari pembenaran, Presiden Jokowi harus netral dan sebagainya. Karena sudah terang, dia menyebut, Presiden boleh berkampanye sesuai Undang Undang.
Demokrat juga bukan main-main dalam koalisi ini. Pertemuan dengan Jokowi menyiratkan, bagaimana AHY begitu serius mendukung kemenangan pasangan nomor urut 2. Karena, mereka juga butuh sarana untuk kembali kepada kekuasaan. Minimal, tetap memberikan ‘nafas’ kepada AHY untuk tetap berkarir di politik, dengan menjadi salah satu Menteri Prabowo-Gibran 2024-2029.
Soal Pemilu dan Pilpres lima tahun lagi, itu bisa berubah. Karena semua sepakat, politik Indonesia ini begitu bebas aktif. Tergantung situasi dan kondisi saja. Tidak ada batasan soal idelogi, tapi semua karena kepentingan. Seperti kompaknya Ganjar dan Anies, meski didukung aliran kiri dan kanan. Harusnya tak bisa bersatu, tapi mereka sekarang padu dan kompak. Menolak satu putaran.
Yang pasti, Jokowi-AHY sudah mempertimbangkan masak-masak, bagaimana pasangan yang mereka dukung itu menjadi pemenang. Tak perlu lama-lama, harus satu putaran. Karena keduanya sudah mulai bosan dengan hiruk-pikuk politik kekinian. Lebih hangat dan kejam dari Pemilu/Pilpres 2019 yang hanya dua poros. Keduanya harus diyakini bertemu untuk bangsa dan negara, tapi juga tetap harus berada di dalam ring kekuasaan.
Seperti kata sastrawan dan budayawan Ahmad Tohari, “Kekuasaan adalah hulubalang sejarah yang sepanjang waktu dipertahankan dan diperebutkan.” Kita sebagai rakyat bisa melihat, siapa yang sedang mempertahankan, dan siapa yang berusaha merebut. Bangsa ini akan baik-baik saja, jika kekuasaan itu tak membuat perang, tapi hanya permainan biasa saja. (Wartawan Utama)






