Oleh: Reviandi
SEKITAR 17 hari lagi Pemilihan Umum (Pemilu) akan memanggil kita. Harusnya seluruh rakyat menyambut gembira. Tapi yang terjadi kini, tidak hanya di tingkat elite, di bawah juga mulai saling sarang. Bahkan jadi “tren” hari ini, ada pendukung salah satu peserta Pemilu yang disakiti lawan politiknya. Baik dari Pilpres, DPD, DPR RI, DPRD Provinsi sampai daerah.
Di Sumbar kita mengenal Pemilu badunsanak. Harapan untuk mendapatkan Pemilu agar aman, lancar, Luber (langsung umum bebas dan rahasia), Jurdil (jujur adil) dan bersih merupakan tanggung jawab bersama. Meski di banyak media sosial, ada beberapa pendukung salah satun kandidat membully pendukung Paslon lain.
Pastinya, untuk mencegah hal ini pertama-tama, penegakan aturan dan hukum terkait Pemilu harus diperkuat. Masyarakat perlu diberikan pemahaman yang mendalam mengenai pentingnya partisipasi dalam proses demokrasi. Selain itu, perlu ada pengawasan yang ketat dari lembaga-lembaga terkait, seperti Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).
Pentingnya penguatan lembaga-lembaga terkait ini tidak boleh diabaikan. Selain itu, peran media massa menjadi kunci dalam memberikan informasi yang akurat dan objektif kepada masyarakat. Pemilu yang bersih juga memerlukan partisipasi aktif dari partai politik untuk memastikan kandidat yang diusung memenuhi syarat dan memiliki integritas.
Pentingnya partisipasi masyarakat juga terkait erat dengan upaya mendukung Pemilu yang Jurdil. Masyarakat perlu didorong untuk melaporkan pelanggaran atau ketidakberesan selama proses pemilu. Keterlibatan aktif ini dapat melibatkan masyarakat dalam menjaga keadilan dan keberlanjutan proses pemilihan.
Aspek keamanan juga tidak boleh diabaikan. Penyelenggara Pemilu perlu bekerja sama dengan aparat keamanan untuk menciptakan lingkungan yang aman selama kampanye dan hari pemungutan suara. Sistem keamanan yang efektif juga akan mencegah potensi kecurangan atau intimidasi terhadap pemilih.
Pentingnya transparansi dalam seluruh proses Pemilu tidak bisa dilebih-lebihkan. Informasi mengenai pengelolaan dana kampanye, data pemilih, dan proses perhitungan suara harus terbuka untuk umum. Inovasi teknologi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan transparansi, seperti sistem penghitungan suara elektronik yang dapat dipantau secara real-time (dengan cepat).
Pemilu yang aman dan lancar juga memerlukan peran serta pihak internasional sebagai pengamat. Keberadaan pengamat yang adil dapat membantu memastikan bahwa Pemilu berlangsung dengan standar baik dan memberikan keyakinan kepada masyarakat mengenai keberlanjutan proses demokrasi.
Semua langkah ini harus disertai dengan edukasi atau pendidikan kepada pemilih mengenai pentingnya hak pilih mereka. Masyarakat yang memiliki pemahaman yang baik mengenai demokrasi akan lebih cenderung terlibat dalam proses pemilihan, dan ini akan memperkuat fondasi demokrasi itu sendiri.
Dalam upaya menjaga Pemilu yang Luber, inovasi dalam teknologi juga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi dan keamanan proses pemungutan suara. Pemanfaatan teknologi blockchain, misalnya, dapat membantu melindungi integritas data dan mencegah manipulasi.
Pentingnya pemantauan partisipatif dari masyarakat juga tidak bisa diabaikan. Kelompok-kelompok masyarakat sipil dapat berperan sebagai mata dan telinga dalam memastikan setiap tahap pemilu berjalan sesuai dengan aturan. Karena wargalah yang benar-benar tahu apa yang sedang terjadi di lapangan. Bukan sekadar laporan-laporan saja.
Pemilu yang Luber juga memerlukan komitmen dari semua pihak terkait, termasuk partai politik, kandidat, dan pemilih. Semua pihak harus berkomitmen untuk menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi, menghormati aturan main yang berlaku, dan mengedepankan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
Pentingnya pendidikan politik sejak dini juga tidak boleh diabaikan. Masyarakat yang memiliki pemahaman mendalam mengenai sistem politik dan nilai-nilai demokrasi akan lebih cenderung berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab dalam setiap pemilihan.
Sosialisasi peran Bawaslu dan KPU juga perlu ditingkatkan. Masyarakat perlu mengetahui peran penting kedua lembaga ini dalam mengawal integritas pemilu. Publikasi tindakan-tindakan tegas yang diambil oleh lembaga ini terhadap pelanggaran akan memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap proses Pemilu.
Pentingnya dialog antarpartai politik dan antarmasyarakat juga tidak bisa dihindari. Dialog yang terbuka dan konstruktif dapat menciptakan atmosfer yang kondusif untuk pemilu yang damai dan berintegritas.
Akhirnya, keberhasilan Pemilu yang aman dan lancar juga tergantung pada kesadaran kolektif bahwa setiap pemilih memiliki peran penting dalam menentukan masa depan negara. Keberlanjutan demokrasi memerlukan kerja sama dari semua pihak untuk menjaga proses Pemilu yang Luber, Jurdil, dan bersih.
Jangan lagi membuat Pemilu jadi sumber perpecahan. Harusnya menjadi sumber atau salah satu cara mempererat silaturahmi. Meski berbeda pilihan, kita harusnya tetap satu. Satu Indonesia.
Penyanyi legendaris John Lennon berujar. “Perdamaian bukanlah sesuatu yang kau inginkan, itu sesuatu yang kau buat, sesuatu yang kau lakukan, sesuatu yang merupakan dirimu dan sesuatu yang kau berikan.” Semua tergantung kita dalam menyikapi Pemilu ini. Mau damai atau “cakak-cakak” dan membuat runyam kondisi. (Wartawan Utama)






