PADANG, METRO–Indeks Pembangunan Manusia (IPM) satu dari beberapa indikator penting lain pencapaian makro pembangunan suatu daerah. Pasalnya IPM dapat mengukur keberhasilan dalam upaya membangun kualitas hidup manusia (masyarakat/penduduk).
IPM menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Sumatra Barat (Pemprov Sumbar) di bawah kepemimpinan Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah dan Wakil Gubernur (Wagub) Audy Joinaldy dalam mewujudkan Visi “Sumatra Barat Madani, Unggul dan Berkelanjutan.”
Keseriusan tersebut dibuktikan dengan keberhasilan Pemprov Sumbar melampui target realisasi IPM tahun 2023 yang digariskan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) serta Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). IPM Sumbar, naik dari 73,26 persen pada tahun 2022 menjadi 75,46 persen pada tahun 2023. Capaian ini menjadikan Sumbar salah satu provinsi dengan tingkat pertumbuhan IPM tertinggi di Indonesia sejak dua tahun terakhir.
“Alhamdulillah, secara peringkat IPM se-Indonesia, posisi Sumbar terus membaik. Tahun 2022 lalu kita tertinggi nomor sembilan nasional atau nomor empat tertinggi di Pulau Sumatera. Tahun 2023 ini, Sumbar di posisi tujuh nasional atau urutan kedua di Pulau Sumatra,” ujar Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah beberapa waktu lalu.
Mahyeldi menjelaskan, IPM diukur dari penilaian empat indikator. Yakni, umur harapan hidup, rata-rata lama sekolah, harapan lama sekolah serta pengeluaran per kapita masyarakat.
Data Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumbar menyatakan, usia harapan hidup masyarakat Sumbar tahun 2023 mencapai angka 74,14 tahun, rata-rata lama sekolah 9,28 tahun, harapan lama sekolah 14,11 tahun serta pengeluaran per kapita masyarakat Sumbar per tahun mencapai Rp11,380 juta.
“Peningkatan IPM Sumbar sejak dua tahun belakangan mengindikasikan Pemprov Sumbar fokus dan serius membenahi sektor pendidikan, kesehatan dan ekonomi yang menjadi hak dasar masyarakat,” tegas Mahyeldi.
Pembangunan Bidang Pendidikan
Pencapaian IPM tahun 2023 tersebut tidak terlepas dari pembangunan bidang pendidikan. Mahyeldi menjelaskan, Pemprov Sumbar telah mengalokasikan dana Rp2,5 trilliun lebih, untuk pembangunan di bidang pendidikan. Alokasi dana itu mencapai 36,72 persen dari total APBD Sumbar tahun 2024.
Langkah itu, tidak terlepas dari komitmen Pemprov Sumbar meningkatkan kualitas serta mewujudkan pemerataan infrastruktur, sarana prasarana pendidikan di kabupaten/kota se-Sumbar. “Sesuai visi misi kita, Pemprov Sumbar benar-benar serius dan komitmen mewujudkan sumber daya manusia (SDM) Sumbar yang cerdas, unggul dan berkualitas lewat pendidikan,” tegasnya.
Kepala Dinas Pendidikan Sumbar, Barlius menambahkan, peningkatan IPM Sumbar, khususnya pada indikator pendidikan, dipicu oleh massifnya program pembangunan dan pembenahan infrastruktur sarana prasarana pendidikan di seluruh daerah sejak era kepemimpinan Gubernur Mahyeldi.
“Sejak beberapa tahun terakhir saja, kita telah banyak sekali membangun, merehab dan menambah Ruang Kelas Baru (RKB), Unit Sekolah Baru (USB) SMA, SMK dan SLB,” ujarnya, Minggu, (21/1).
Barlius menjelaskan, sepanjang tahun 2023, juga telah merampungkan pembangunan lima sekolah. Terdiri dari dua SMK, dua SMA DAN satu SLB. Yaitu, SMAN 17 Padang, SMK Kesehatan Akabiluru dan SLB Halaban di Kabupaten Limapuluh Kota, SMK 1 Air Bangis dan SMA 2 Lembah Malintang di Kabupaten Pasaman Barat (Pasbar).
Barlius menyampaikan, tahun 2024 ini pihaknya masih akan terus membangun 10 USB dan merehabilitasi banyak sekali bangunan RKB di beberapa daerah. “Lewat upaya pembangunan dan pembenahan infrastruktur pendidikan ini, kita berharap akses pendidikan bagi anak-anak di Sumbar semakin luas, dan terbuka. Begitupun kualitasnya, juga terus kita tingkatkan” ucapnya.
Tingkatkan Layanan Kesehatan
Tidak hanya bidang pen didikan, keberhasilan pemenuhan target IPM di Sumbar juga tidak terlepas dari peningkatan pelayanan kesehatan dalam upaya peningkatan usia harapan hidup masyarakat.
Kepala Dinas Kesehatan Sumbar dr, Lila Yanwar Mars menjelaskan, peningkatan usia harapan hidup masyarakat Sumbar, tidak terlepas dari keberhasilan Pemprov Sumbar mewujudkan pemerataan infrastruktur kesehatan di seluruh daerah.
Keberhasilan itu, juga ditopang keberhasilan Pemprov Sumbar dalam upaya menekan tingkat kematian bayi, ibu hamil, balita serta mencegah kematian akibat penyakit mematikan tertentu sejak beberapa tahun terakhir.
“Alhamdulillah, kita sudah berhasil mencatatkan penurunan angka kematian ibu dan anak perinatal yang cukup signifikan. Keberhasilan itu tidak hanya menjadi penentu utama usia harapan hidup, tapi juga merupakan indikator makro yang ada di dalam RPJMD dan RPJMN,” ujarnya akhir pekan lalu.
Lila Yanwar menjelaskan, dalam upaya menekan tingkat kematian bayi dan ibu hamil, pihaknya telah memaksimalkan pelaksanaan Antenatal Care atau pemeriksaan kehamilan secara menyeluruh terhadap ibu hamil sejak beberapa tahun belakangan.
“Tidak hanya soal berapa banyak masalah kesehatan yang diperiksa, tapi juga secara kualitas. Jika dahulu pemeriksaan kehamilan hanya cukup dengan ukur tensi, sekarang tidak lagi. Kita menerapkan pemeriksaan kesehatan menyeluruh sebagai langkah deteksi dini resiko kematian ibu hamil,” jelasnya.
Menurut Lila Yanwar, kematian ibu hamil paling banyak disebabkan oleh penyakit hipertensi yang tidak terkontrol selama kehamilan. Kondisi itu rawan menyebabkan ibu hamil kejang, pendarahan dan akhirnya meninggal dunia saat melahirkan.
Selain akibat penyakit penyerta, kematian ibu hamil juga dipicu oleh gizi buruk. Sejak tahun 2023 lalu, Dinas Kesehatan Sumbar telah melaksanakan program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk ibu hamil. “Capaiannya. Sumbar berhasil menjadi provinsi nomor 2 nasional dalam penyaluran PMT. Kita telah memberikan PMT kepada hampir 98 persen ibu hamil,” tambahnya.
Dalam upaya memastikan masyarakat di seluruh daerah dapat mengakses fasilitas layanan kesehatan yang layak, sambungnya Dinas Kesehatan Sumbar terus mendorong pemerintah kabupaten kota melakukan standarisasi fasilitas layanan persalinan hingga ke daerah-daerah pelosok.
“Kita terus berupaya mendekatkan pelayanan fasilitas kesehatan hingga ke nagari-nagari. Langkah itu kita lakukan seiring peningkatan kompetensi bidan dan tenaga kesehatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat,” pungkasnya. (AD.ADPSB)





