POLITIKA

Stabilisasi Pemilu Tanpa Hoax, Bawaslu Masifkan Koordinasi dengan Pokja

0
×

Stabilisasi Pemilu Tanpa Hoax, Bawaslu Masifkan Koordinasi dengan Pokja

Sebarkan artikel ini
RAPAT KOORDINASI— Bawaslu Sumbar menggelar rapat koordinasi bersama Pokja, Senin (15/1).

PADANG, METRO–Pemilihan umum semakin dekat, suasana politik juga semakin mema­nas,­ sehingga perlu adanya stabilisasi agar menghasilkan Pemilu bermartabat dan berkualitas.

Salah satu sarana untuk me­nstabilisasikan Pemilihan Presiden, DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Ka­bu­­paten dan Kota, serta DPD, tentunya dengan me­ng­hilangkan berita bohong (Hoax), dan isu-isu negatif, sehingga tidak memancing “kemarahan” antara kelompok ma­sya­rakat, dalam mem­be­ri­kan dukungan pa­da calon-ca­lonnya, untuk pe­milu 2024 ini.

Dalam melakukan netralitas demi menghasilkan keamanan dan kenyamanan pesta rakyat Indonesia untuk memilih pemimpin serta wakil-wakil rakyat, Bawaslu Sumbar terus me­lakukan kordinasi secara intens dengan Kelompok Kerja (Pokja) Politisasi SA­RA, politik Identitas, informasi hoax dan ujaran ke­ben­cian, agar bisa membe­rikan edu­kasi pada semua lapisan ma­syarakat, sehingga tidak menimbulkan kegaduhan.

Pada saat rapat kordinasi Pokja, Ketua Bawaslu Alni, SH,M.Kn sebagai Pengarah Pokja mengatakan, dimana Pokja sudah memulai kegiatan semenjak SK dikeluarkan, yakni pada bukan November 2023.

“Pada tahun 2024, Pokja diperpanjang sampai bulan Januari, secara substansi bukan hanya kordinasi saja, tapi bagaimana terus membangun komunikasi secara berkelanjutan, guna memberikan masukan pada Pokja Cyber atau pada Kepolisian Daerah Sumbar, khususnya Krimsus berkaitan dengan isu-isu yang berkembang,” tutur Alni, Senin (15/1) ketika memimpin rakor Pokja, di Aula Bawaslu.

Alni jug menambahkan, sampai saat ini Bawaslu Sumbar belum ada menangani atau memproses pelanggaran berkaitan hal tersebut.

“Kita juga berharap agar ada shearing informasi terhadap kondisi taha­pan pemilu, khususnya pan­­tauan terhadap media so­sial,” tutur Alni lagi.

Ditambahkan Anggota Bawaslu Sumbar Vifner, SH, MH, yang merupakan Penanggung Jawab Pokja mengatakan, meskipun su­dah berjalan 2 bulan belum ada tindakan pelanggaran.

“Kita terus memonitor dan melakukan diskusi, apakah ada tindakan pelanggaran dilakukan para caleg atau masyarakat, apakah ada pelanggaran atau tidak, seperti apa yang terjadi di salah satu daerah,” papar Vifner.

Dia juga menambahkan, kalau disampaikan orang yang jelas, melakukan diskriminasi pada calon, yang menimbulkan kegaduhan, perlu dirumuakan berbagai langkah, apakah itu berkaitan dengan pelanggaran hukum biasa atau masuk pada pelanggaran pemilu.

“Jika perlu, kabupaten dan kota akan kita lakukan pendampingan, sementara Pokja merupakan mutra diskusi dalam memberikan berbagai masukan serta informasi, maka kita buat grup ini, harapan kita pemilu berjalan lancar,” tambah Vifner.

Dipertegas salah seorang anggota Pokja Benny Aziz,SE, juga anggota Bawaslu Sumbar, pertama kali isu-isu negatif tampak waktu Pilkada DKI lalu, dimana politik indentitas pada saat itu cukup membuat kegaduhan.

“Bisa saja isu-isu negatif itu dibawa keranah pe­milu 2024, maka sangat diharapkan secara bersama-sama menela’ah isu ini, agar bisa disampaikan pa­da publik jangan menerima begitu saja informasi yang masuk,”tutur Benny.

Dia juga mengatakan, bisa belajar dari Pilkada DKI, dimana ahli ITE banyak me­lakukan berbagai manuver, sehingga masya­ra­­kat yang tidak menela’ah dengan baik terperangkap pada informasi Hoax, maka perlu adanya edukasi pada masyarakat.

“Kita lakukan terus diskusi setiap temuan, apakah ini merupakan pelanggaran pemilu atau hanya pelanggaran pidana biasa,” tutur Benny.

Diskusi pimpinan dan anggota Pokja berlangsung hangat, dan berbagai masukan juga diberikan semua peserta rapat kordinasi. (fer)