BERITA UTAMA

Survei SPIN: Elektabilitas Prabowo-Gibran Tembus 50,9 Persen

0
×

Survei SPIN: Elektabilitas Prabowo-Gibran Tembus 50,9 Persen

Sebarkan artikel ini
PASANGAN— Capres Prabowo Subianto dan Cawapres Gibran Rakabuming Raka.

JAKARTA, METRO–Lembaga Survei and Polling Indonesia (SPIN) merilis hasil survei elektabilitas 3 pasangan calon presiden dan calon wakil presiden menjelang Pilpres 2024. Hasilnya menunjukkan pasangan calon Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka unggul dari 2 pasangan calon lainnya.

Direktur Eksekutif SPIN Igor Dirgantara menyam­paikan, tingkat elektabilitas pasangan capres-cawap­res nomor urut 2, Prabowo Subianto-Gibran Raka­bu­ming Raka, justru melesat, usai debat capres beberapa waktu lalu.

Menurut dia, walau de­bat ketiga lalu pasangan Prabowo-Gibran banyak disudutkan oleh kubu Anies Baswedan-Muhaimin Is­kan­dar dan Ganjar Prano­wo-Mahfud MD, faktanya masyarakat malah bersim­pati. Menurut Igor, elekta­bilitas Prabowo-Gibran kini melesat sampai ke angka 50,9 persen.

“Elektabilitas Prabowo Subianto dan Gibran Raka­buming Raka 50,9 persen,  Ganjar Pranowo dan Mah­fud MD 23,5 persen dan pasangan Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar 18,7 persen,” kata Igor melalui siaran pers, Senin (15/1).

Igor menyebut, koreksi dukungan tersebut meru­pakan dampak dari gaya debat Anies yang menye­rang Prabowo. Dia melihat, keinginan Anies untuk men­dapatkan peningkatan poin dukungan justru membe­rikan poin kepada Prabowo.

SPIN melakukan survei tersebut dalam kurun wak­tu 8-14 Januari 2024 dengan melibatkan 2.178 respon­den di seluruh provinsi di Indonesia. Metode yang digunakan adalah multistage random sampling de­ngan teknik pengumpulan data, yakni direct interview dengan bantuan kuesioner. Hasilnya, margin of error (MoE) sebesar 2,1 persen dengan tingkat keperca­yaan 95 persen.

Dalam surveinya, Igor menekankan, debat capres yang diselenggarakan oleh KPU pada Ahad (7/1/2024), mempengaruhi atau tidak pilihan masyarakat dalam Pilpres 2024. Igor pun me­nemukan jawaban, mayo­ritas masyarakat tidak ter­pengaruh pilihan politiknya setelah menyaksikan debat.

“Tampaknya acara ter­sebut hanya berpengaruh kepada 20,8 persen publik saja. Mayoritas publik atau 72,9 persen mengaku acara tersebut tidak meme­nga­ruhi pilihan mereka terha­dap masing-masing cap­res,” ujarnya.

Igor menilai, debat cap­res tidak menjadi referensi bagi masyarakat untuk menentukan pilihannya. Dia juga menanyakan ke­pa­da responden apakah mereka tertarik dengan debat ketiga yang dijalan­kan oleh KPU, dan mayo­ritas menilai acara debat tersebut tidak menarik.

“Acara debat ke-3 itu­pun ternyata dianggap ti­dak menarik. Sebagian be­sar publik atau 78,8 persen publik mengaku bahwa acara debat tersebut tidak menarik. Sementara yang melihat itu menarik hanya sebesar 12,4 persen saja,” ucap Igor. (jpg)