Pascadikeroyok oleh rekan-rekannya hingga mengalami luka parah, Robby Alhalim (18), santri pondok pesantren ini masih menjalani perawatan medis di RSUP M Djamil Padang dalam kondisi tidak sadarkan diri (koma) dan kritis di Ruangan Observasi Intensif (ROI) Instalasi Anestesiologi Terapi Intensif.
Keadaan korban sungguh sangat mengkhawatirkan. Selang-selang dan peralatan medis terpasang di tubuh remaja yang merupakan si bungsu dari empat bersaudara ini. Pihak keluarga korban yang menunggu tampak sangat cemas dengan kondisi korban yang hingga saat ini tingkat kesadarannya masih sangat rendah.
Bahkan, orang tua korban bernama Yoserizal membantah keras anaknya itu dituduh melakukan pencurian. Pasalnya, Robby merupakan anak yang baik, lurus, dan jujur. Menurutnya, tuduhan terhadap anaknya yang telah melakukan pencurian tidaklah benar dan anak bungsunya itu hanya sebagai korban untuk menutupi kelakuan santri-santri lain yang dianggap memiliki kekuatan.
”Anak saya hanya korban tuduhan untuk menutupi kelakuan santri lainnya. Setahu saya di pondok pesantren itu memakai barang orang sudah biasa, mencuri sudah biasa, memeras sudah biasa, tapi Robby hanya korban untuk menutupi prilaku santri yang ada. Saya tentu tidak terima atas apa yang telah mereka lakukan kepada anak saya,” kata Yoserizal saat ditemui di rumah sakit, Rabu (13/2).
Yoserizal menjelaskan dia mengetahui anaknya mengalami luka parah akibat dikeroyok rekannya pada Senin pagi (11/2). Sedangkan peristiwa pengeroyokan tersebut terjadi pada Minggu malam (10/2). Sebelumnya, Robby sempat dibawa ke RSUD Padangpanjang dan kemudin dirujuk ke Kota Padang.
”Dari keterangan dokter rumah sakit, anak saya dianiaya menggunakan benda tumpul sehingga badan anak saya luka parah, kalau tangan kosong enggak kayak gini. Semua badan kena hanya dari betis ke bawah yang tidak dipukuli. Selain Robby terdapat juga kakak-kakaknya yang juga menjadi alumni pondok pesantren Nurul Ikhlas. Robby kini duduk di kelas 4 di pesantren atau setara dengan kelas 1 Sekolah Menengah Atas (SMA),” ungkap Yoserizal.
Yoserizal menambahkan, anaknya biasa pulang ke rumah sekali dalam 6 bulan. Hal itu sesuai dengan keinginan Robby meski pondok pesantren memperoleh pulang ke rumah 1 kali dalam sebulan. Sejauh ini pihak yayasan pondok pesantren mengaku secara lisan mempertanggungjawabkan semua dalam pembiayaan.
”Saya masih sangat cemas. Pagi tadi laporan tim medis kondisi Robby semakin menurun. Dokter bilang kepada saya harus siap menerima keadaan. Saya sangat mengharapkan agar anak saya bisa sembuh. Dari hasil analisisa dokter juga mengatakan Robby diduga dikeroyok lebih dari belasan orang,” ujarnya.
Dokter Spesialias Dikerahkan
Pejabat Pemberi Informasi dan Dokumentasi (PPID) RSUP M Djamil Padang, Gustavianof, mengatakan pihak rumah sakit terus memberikan perawatan intensif dengan pelayanan sesuai prosedur. Bahkan berbagai dokter spesialis dikerahkan untuk menanggani korban pengeroyokan tersebut.
”Dokter yang terlibat di antaranya dokter bedah torak, syaraf, torak, hingga abdomen. Untuk diagnosa tidak bisa disebutkan namun memang kondisi sangat berat atau tingkat kesadarannya dalam kategori menurun. Pasien di ruangan ROI Instalasi Anestesiologi Terapi Intensif dilakukan sesuai instruksi dokter. Kedepannya, pasien akan mendapatkan perawatan secara intensif oleh tim dokter yang terlibat,” pungkasnya. (rgr)





