PADANGPANJANG, METRO – Kasus pengeroyokan di Asrama Musa, SMA Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Nurul Ikhlas terus disidik. 17 santri yang diduga terlibat pemukulan dipanggil Penyidik Polres Padangpanjang untuk dimintai keterangan sejak pukul 10.00 WIB, Rabu (13/2).
Sekitar pukul 13.00 WIB, belasan santri didampingi sejumlah wali santri terlihat berada di Mako Polres Padangpanjang. Satu persatu santri yang terlibat dalam pemukulan korban, Robby (16) mulai dimintai keterangan oleh penyidik.
Dari pengakuan seorang santri yang diduga terlibat melakukan pemukulan, WR (16), pemukulan terhadap Robby berawal dari sejumlah peristiwa pencurian yang diduga dilakukan Robby di lingkungan asrama. Sejumlah barang santri disinyalir telah dicuri korban.
Pencurian yang dilakoni korban mulai terkuak, ketika salah satu barang curian berupa memori HP dipakai oleh santri lain dapat diketahui pemiliknya. Ketika ditanyakan kepada pemilik terkait asal usul memori-memori tersebut, pengguna memori mengaku didapat dari Robby.
”Saat itu ada belasan santri yang mengaku kehilangan akhirnya menemui dan mempertanyakan. Saat itu Robby mengakui perbuatannya di hadapan kami dan minta maaf atas perbuatannya,” sebut WR di Mako Polres Padangpanjang usai dimintai keterangan.
Terkait pengeroyokan, WR, mengungkapkan terjadi Kamis (7/2) sekitar pukul 22.00 WIB lalu. Ketika itu korban mengakui perbuatannya telah mengambil sejumlah barang santri. “Saat itulah, Robby dipukuli sejumlah santri,” ujar WR lagi.
Mendengar korban mengaku telah mengambil sejumlah barang santri, kata WR, hari berikutnya, Jumat (8/2) lalu sejumlah santri lainnya juga menemui Robby dan memintai pengakuan atas barangnya yang hilang. “Saat itu Robby kembali dipukuli oleh santri lainnya,” sebutnya.
Hal senada juga dikatakan santri lain RK. Dia mengungkapkan kejadian Jumat malam itu sekitar pukul 23.00 WIB, korban dipukuli atas perbuatannya. Sabtu sekitar pukul 22.00 WIB, belasan santri yang merasa kehilangan kembali mendatangi korban untuk mengakui pencurian sejumlah barang lainnya.
”Robby mengaku dan meminta maaf atas peristiwa pencuriannya,” sebut RK, seraya mengatakan Minggu (10/2) malam sekitar pukul 23.00 WIB, korban kembali dipukuli oleh santri lain hingga diopname di RS M Djamil Padang.
Terus Disidik
Sementara Kasat Reskrim Polres Padangpanjang Iptu Kalbert Jonaidi, membenarkan telah terjadinya pengeroyokan santri di lingkungan pesantren Nurul Iklas, disidik. Pihaknya telah memanggil santri yang diduga terlibat pengeroyokan untuk dimintai keterangan lebih lanjut.
“Kasus kita proses. Saat ini penyidik terus mengumpulkan bahan keterangan atas kasus pengeroyokan. Untuk saat ini kami belum bisa memberikan keterangan lebih lanjut terkait kasus ini,” ujar Kalbert seraya mengatakan penyidik masih mendalami kasus.
Seorang Wali Santri, Khairul Sholeh mengatakan, sangat menyayangnya peristiwa tersebut terjadi di lingkungan Ponpes ternama di Sumatera Barat (Sumbar) itu. Seharusnya peristiwa ini tidak terjadi sampai berlarut-larut.
Sholeh menilai, telah terjadinya kelalaian pihak ponpes dalam mengawasi santri.
“Atas kejadian ini, Pihak Ponpes harus bertanggung jawab sepenuhnya. Ya, atas kelalaian anak kami harus berurusan dengan polisi. Jika Ponpes lepas tangan saya akan pulangkan anak saya dan mencari Ponpes yang lebih aman,” sebut Sholeh kecewa.
Dikatakannya, sejumlah wali santri telah mendatangi pihak korban dan membezuk korban hingga saat sekarang masih dalam keadaan kritis, di RS M Jamil Padang. (rmd)





