METRO PADANG

Wawako Resmikan Lokasi TPST-RDF di TPA Aie Dingin, Habiskan Anggaran Rp128 Miliar, September 2024 Tuntas

0
×

Wawako Resmikan Lokasi TPST-RDF di TPA Aie Dingin, Habiskan Anggaran Rp128 Miliar, September 2024 Tuntas

Sebarkan artikel ini
PENCANANGAN LOKASI TPST-RDF— Wawako Padang Ekos Albar berfoto bersama dengan jajaran Kementerian PUPR, Menkomarves, Direktur Operasi PT Semen Padang Indrieffuonny Indra, saat meresmikan pembangunan lokasi TPST-RDF di TPA Aiadingin, Kecamatan Kototangah, Rabu (13/12).

AIA DINGIN, METRO —Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Teknologi Refuse Derived Fuel (TPST-RDF), sebagai tempat pengolahan Sampah menjadi energi padat terbarukan yang dapat meng­gan­tikan penggunaan batubara. Rabu (13/12), Wakil Wali Kota Padang Ekos Albar meres­mikan pembangunan lokasi TPST-RDF di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Aiadingin, Kecamatan Kototangah.

“Mega proyek tersebut akan dilelang pada pekan keempat Desember ini, dengan lama pengerjaan 1,5 tahun. Insyaallah September 2025, Kota Padang sudah memiliki RDF,” kata Wa­wako Ekos Albar, kepada awak media, di TPA Aia­dingin.

Menurutnya, pem­ba­ngu­nan pengolahan sampah ber­basis RDF di Kota Pa­dang, tidak lepas dari support dari banyak pihak, se­per­ti Kementerian PUPR, Men­ko­marves, PT Semen Pa­dang.

“Yang terpenting lagi, ini dapat terlaksana adalah karena adanya offtacker (pemasaran) dalam hal ini adalah PT Semen Padang, jadi setiap produk yang akan dihasilkan tersebut tentunya harus tahu kemana akan dijual,” kata wawako.

Dia juga mengakui, bah­wa timbulan sampah di Kota Padang saat ini sudah sangat luar biasa, yakni menyentuh angka 600-650 ton perhari.

Setelah RDF ini beroperasi, setiap hari akan mampu mengolah sampah kotor atau yang tidak di pilah sebanyak 200 ton. Dari 200 ton sampah tersebut akan menghasilkan sebanyak 100 ton produk RDF.

Baca Juga  Awal 2023, Fase VII Pasaraya Padang segera Dibangun

“Nah, dengan adanya solusi berupa RDF ini paling tidak kita bisa mengurangi sampah hingga 200 ton perhari. Sisanya lagi sekitar 70 persen itu atau 400 ton itu ada lagi inovasi terbaru,” ulas wawako.

Dijelaskan wawako, hadirnya TPST-RDF memberikan beberapa manfaat untuk Kota Padang. Antara lain perpanjangan masa pakai TPA, mengurangi emisi karbon, gas metan yang menjadi penyebab rusaknya ozon dan pemanasan global, RDF bisa menjadi energi terbarukan dan RDF menjadi sumber PAD baru bagi Kota Pa­dang.

“Diharapkan dengan adanya teknologi RDF ini Kota Padang dapat melakukan pengelolaan sampah yang lebih baik dan dapat mengubah perilaku masya­ra­kat Kota dalam pengelolaan sampah,” ujarnya.

Sebagai tempat yang akan dibangun RDF tersebut, Pemko Padang memiliki lahan seluas 33 hektare, namun yang baru dikuasai baru 18 hektare. Namun, di lahan seluas 18 hektare tersebut, 90 persen sudah dipenuhi sampah.

“Pemko Padang memiliki lahan disini seluas 33 hektare, yang baru dikuasai baru 18 hektare. Dan, di lahan seluas 18 hektare ini pun sudah digunakan sebanyak 90 persen. Jadi kita me­mang dalam posisi yang sangat rawan dan kita sangat mengandalkan RDF ini cepat selesai,” ulasnya.

Menjelang pembangu­nan RDF yang menelan anggaran sebesar Rp128 miliar itu selesai, Pemko Padang akan terus menekankan pengolahan pengurangan sampah seperti bank sampah.

Baca Juga  245 Ribu Masker Disebar ke Warga

“Sementara 1,5 tahun ini selesai pembangunan RDF, cara-cara konvensional ini tetap dilaksanakan walaupun belum menyelesaikan masalah, kita tentu perlu mengedukasi serta mensosialisasikan kepada masyarakat bahwa pengolahan sampah secara man­diri itu penting,” katanya.

Sementara Direktur Ope­­rasi PT Semen Padang, Indrieffuonny Indra, mengatakan PT Semen Padang akan membutuhkan lebih banyak lagi produk RDF seba­gai pe­ng­­ganti penggu­na­an batubara yang di hasilkan tersebut. Karena, me­nu­rut­­nya PT Semen Padang mem­butuh­kan se­tidak­nya 5000 ton batubara perharinya.

“Kalau kita lihat dari program PT Semen Pa­dang dalam hal penggunaan bahan bakar alternatif sebagai pengganti penggunaan batubara, 100 ton ini masih sangat kecil. Saat ini kita menggunakan bahan bakar alternatif 2 persen dari jumlah batu bara yang digunakan,” katanya.

Selain itu, PT Semen Padang siap untuk memaksimalkan potensi bahan bakar alternatif pengganti penggunaan batubara seperti tandan sawit kosong, pohon kaliandra, sampah hasil program nabung sarok, SBE dan lainnya.

“Kita akan memaksimalkan semua bahan ba­kar pengganti batubara yang ada di Sumatera Barat ini. Hingga akhir tahun 2026 sebesar 16 persen dari jumlah batubara yang digunakan,” tutup Indrieffuonny. (brm)