SOLOK, METRO–Kota Solok perlu melakukan intensifikasi lahan pertanian. Apalagi secara total lahan persawahan di Kota Solok sangat terbatas dan cendrung berkurang. Dan upaya intensifikasi lahan perlu dilakukan setelah masa panen, lahan kembali ditanami sehingga produktifitas bisa terus ditingkatkan.
Menurut Wali Kota Solok, Zul Elfian, Kota Solok merupakan salah satu daerah yang penting sebagai sentra produksi beras. Dan Pemerintah Kota Solok terus berupaya mempertahankan produksi beras dan diharapkan terus menjadi lumbung Beras.
Namun ke depannya Pemko Solok menggarap dan memaksimalkan program-program yang bersifat mempertahankan luas lahan pesawahan, sehingga ada perlindungan bagi lahan sawah supaya tetap terjaga dan tetap produktif.
“Sangat riskan ada pengurangan lahan meskipun sedikit kalau itu dalam jangka panjang begitupun juga dengan hasil panen walaupun melebihi target panen tahunan, tetap harus peka pada pengurangan, jangan sampai terjadi,” ujarnya.
Menurut Zul Elfian, Kota Solok walaupun hanya memiliki lahan Sawah seluas 876 hektar, namun mengalami produktifitas yang cukup tinggi. Di tahun 2022 Kota Solok memiliki produktifitas 6.4 ton per hektar dengan indeks pertanaman 2.7 kali pertahun. Dengan jumlah penduduk 75.875 jiwa dan produksi padi 15.312 ton (beras 8.866 ton) maka Kota Solok sampai saat ini masih surplus beras.
Kota Solok walaupun merupakan sebagai kota, wilayahnya masih banyak merupakan persawahan, terutama di Kecamatan Lubuk Sikarah. Persawahan ini menjadi ciri khas keindahan Kota Solok.
“Pemandangan hamparan sawah yang hijau dengan latar belakang pegunungan, hal ini menjadi tantangan pemerintah kota solok untuk mewujudkan Agrowisata Sawah Solok yang nyaman dikunjungi,” ujarnya.
.Hamparan Sawah Solok yang berada di wilayah Kota Solok membentang di lima kelurahan yaitu kelurahan Tanah Garam, Kelurahan VI Suku, Kelurahan Sinapa Piliang, Kelurahan IX Korong dan Kelurahan KTK dengan luas 169.4 hektar. Letak hamparan sawah solok sangat strategis sebagai outlet persawahan di Kota Solok.
Panen bersama ini juga menunjukkan kepada Indonesia bahwa Kota Solok tidak terpengaruh langsung dampak El Nino dan keseriusan pemerintah memproduksi padi walaupun sebagai sebuah kota. (vko)





