AGAM, METRO–Polda Sumatra Barat (Sumbar) mendirikan posko DVI (Disaster Victim Identification) di Kantor Wali Nagari Batu Palamo Agam, pascaerupsinya Gunung Marapi.
Posko tersebut terdiri dari Pos Ante Mortem untuk melayani kesehatan masyarakat, melayani pengaduan korban hilang, dan juga untuk mengetahui status korban.
Lalu Pos Post Mortem untuk mengidentifikasi korban untuk dicocokkan dengan keterangan dari pihak keluarga korban.
“Tadi sudah kita dirikan posko DVI Polda Sumbar untuk membantu masyarakat dan korban erupsi Gunung Marapi,” kata Kabid Humas Polda Sumbar, Kombes Dwi Sulistyawan yang dihubungi wartawan, Senin (4/12).
Dwi menyebutkan, jumlah personel yang saat ini sudah berada di Posko berjumlah 15 orang, gabungan dari Biddokkes Polda Sumbar dan Polres di seputar lokasi.
“Tim DVI Polda Sumbar dipimpin Kombes Pol drg Lisda Cancer, M.Biotech, Sekretaris Pembina TK I dr Eka Purnama Sari, dan melibatkan sejumlah tenaga kesehatan dan dokter,” jelas Kombes Pol Dwi.
“Diharapkan masyarakat yang terdampak erupsi Gunung Marapi bisa mendatangi Posko tersebut untuk mendapatkan informasi dan juga pengobatan bagi yang terdampak,” sambung Kombes Pol Dwi.
Sementara, dr Eka Purnama Sari mengatakan, posko ini bertujuan untuk mempermudah proses pencarian pendaki Gunung Marapi yang belum ditemukan atau identifikasi korban yang dinyatakan meninggal dunia.
“Posko DVI dipusatkan untuk mengidentifikasi jenazah. Kemungkinan adanya jenazah yang rusak bisa diidentifikasi agar saat penyerahan jenazah tidak salah orang,” kata Eka Purnama Sari.
Belasan petugas DVI membuka posko dan langsung didatangi keluarga para pendaki Gunung Marapi yang belum mengetahui keadaan kerabat mereka hingga kini.
“Teknisnya petugas mengompulir data antemortem, keluarga, atau kerabat korban, ditanyakan ciri-ciri khas dari korban untuk dicocokkan di Posko Antemortem yang ditetapkan ada di Rumah Sakit Achmad Mochtar (RSAM) Bukittinggi,” kata Eka.
Ia mengungkapkan pencocokan data bisa berlangsung dalam satu hari jika semua data antemortem dipenuhi.
“Kalau jenazahnya tidak banyak rusak, dalam satu hari sudah bisa diserahkan sesuai data yang lengkap tentunya,” jelas Eka.
Ia mengatakan pengambilan data diperinci seperti sampel DNA, pencocokan data identitas KTP, ijazah, foto, atau properti korban sebelum melakukan pendakian Gunung Marapi.
“Saat ini sudah 20 orang lebih yang memberikan laporannya. terdiri dari beragam latar belakang baik keluarga inti, kerabat, atau rekan satu kampus,” tutupnya. (rgr)






