METRO SUMBAR

Belajar Adat Minangkabau, Ratusan Mahasiswa Kuliah Lapangan di Istano Silinduang Bulan

0
×

Belajar Adat Minangkabau, Ratusan Mahasiswa Kuliah Lapangan di Istano Silinduang Bulan

Sebarkan artikel ini
POTO BERSAMA--koordinator Lapangan Dr Wirnita Eska didampingi dosen pembimbing dan nara sumber berpoto bersama Mahasiswa di Muka Istano Silinduang Bulan.

TANAHDATAR, METRO–Istano Silinduang Bulan Darul Qoror Pagaruyung menjadi salah satu obyek  kuliah lapangan budaya Minangkabau. Sebanyak 254 mahasiswa jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Bisnis dan PGSD FKIP Universitas Bung Hatta dan dua  mahasiswa Program Merdeka melakukan kuliah lapa­ngan di Istano Silinduang Bulan.

Kunjungan itu dibawah Koordinator DR Wirnita Eska didam­pingi Yuhelmi, S.E, M.M Dr. Adzanil Septi Prima, M.Pd. Ice Kamela, S.E M.M  Dr. Enjoni, A.P., M.P dan   Daniati Putri, S.E., M.Si,  dan disambut oleh  Raja Alam Minangkabau Pagaruyung Daulat Muhammad Farid Tuanku Abdul Fatah diwakili Sutan Nirwansyah Tuanku Mudo Bakilaf Alam beserta datuk-datuk Pagaruyung dan perangkat kerajaan termasuk tiga narasumber, H St Nirwansyah, S.H, M.H Tuanku Mudo Bakilap Alam , Tuan gadih Dra Puti Reno Revita dan Mustafa Akmal, S.H. M.H. Dt. Sidi Ali.

Wirnita Eska menyebutkan, mahasiswa diberikan seminar mengenai adat Minang di Silinduang Bulan, materinya tentang prinsip orang Minang dalam berdagang atau bisnis dan pendidikan melalui anak dipangku kemenakan dibimbing.

“Nanti para mahasiswa kita tugasi membuat laporan tertulis oleh masing-masing individu,” ungkapnya.

Sebagai calon guru mahasiswa tentu juga perlu memahami tentang adat dan budaya Minangkabau dan pemahaman ini­lah yang diajarkan nanti kepada murid-muridnya, seperti masalah yang sederhana saja tentang cara makan secara adat  bajamba di Minangkabau dan tata pola makan bajamba itu diatur dengan tatanan adat melalui pidato adat.

Selain mengunjungi  kantor LKAAM kabupaten Tanahdatar  di Situjuah Luhak 50 Koto dan di Pinang Balirik yang juga mengana­lisa arsitektur rumah gadang, pada tiga luhak ini masing-ma­sing memiliki perbedaan arsitektur bangunan rumah gadangnya.

Daulat Rajo Alam Pagaruyung diwakili Sutan Nirwansyah, kepada para mahasiswa, memaparkan sedikit sejarah mengenai ke­rajaan Pagaruyung, mulai dari zaman kerajaan Majapahit, masuknya islam ke Minangkabau hingga sejarah kerajaan di Minangkabau.

“Istano Silinduang Bulan ini didirikan oleh Sultan Alif Khalifa­tullah atau yang juga dikenal Sutan Bakilaf Alam yang merupakan cicit dari Raja Adityawarman dan Istano Basa Pagaruyung a­dalah replika dari Istano ini, tapaknya dulu di sini kemudian diba­ngun yang baru di sana,” ujar Nirwansyah.

Dan juga menyampaikan selamat datang di Silinduang Bulan, selamat di tempat kunjungan yang lain dan selamat sampai di rumah, kemudian dilanjutkan dengan penyampain materi dari   Sutan Nirwansyah dengan materi Pendidikan melalui Anak Dipangku Kamanakan Dibimbiang dan Tuan gadih Dra Puti Reno Revita dengan materi Sikap dan kesantunan perempuan dalam Ajaran Minangkabau dan Mustafa akmal Datuk Sidi Ali SH Mh dengan materi budaya Berdagang Orang Minang.Dia juga memaparkan peran ayah dan mamak dalam mendidik, Anak d#ipangku Kemenakan Dibim­bing.

Dalam rangkaian pertemuan tersebut mahasiswa  sangat antusias melakukan tanya jawab dengan narasumber termasuk juga dengan daulat Pagaruyung untuk makin memperkaya literatur mereka tentang adat istiadat. (hsb/rel)