METRO SUMBAR

Dinkes Pastikan Sumbar Tidak Masuk Daerah Penyebaran Nyamuk Wolbachia

0
×

Dinkes Pastikan Sumbar Tidak Masuk Daerah Penyebaran Nyamuk Wolbachia

Sebarkan artikel ini
PERTEMUAN— Wagub Sumbar, Audy Joinaldy bersama Kepala Dinas Kominfotik Sumbar, Siti Aisyah dan Akademisi dari Unand, Ilham Azre saat pertemuan Pemimpin Redaksi Menjaring Isu-isu Strategis dan Merumuskan Bentuk Pengelolaan Komunikasi Publik Pemerintah Daerah yang digelar Dinas Kominfotik Sumbar, Sabtu (25/11) di Bappeda Sumbar.

PADANG, METRO–Sekretaris Dinas Kesehatan Sumbar Desra Elena, memastikan, nyamuk wolbachia untuk menekan pe­nyakit demam berdarah dengue (DBD) tidak akan disebar di Sumbar.

“Sumbar tidak masuk lima daerah yang dijadikan pilot project penyebaran nyamuk wolbachia oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Jadi nyamuk ini tidak akan disebar di Sumbar,” ungkap Desra Elena usai pertemuan Pe­mimpin Redaksi Menjaring Isu-isu Strategis dan Merumuskan Bentuk Pengelolaan Komunikasi Publik Pemerintah Daerah yang di­gelar oleh Dinas Komunikasi, Informasi dan Statistik (Kominfotik) Sumbar, Sabtu (25/11) di Bappeda Sumbar.

Desra Elena meng­ung­kapkan, lima kota yang menjadi pilot project pe­nyebaran nyamuk wolbachia itu adalah Jakarta Ba­rat (DKI Jakarta), Bandung (Jawa Barat), Semarang (Jawa Tengah), Bontang (Kalimantan Timur), dan Kupang (Nusa Tenggara Timur).

Sementara, Wagub Sumbar, Audy Joinaldy tidak memungkiri, penyebaran nyamuk wolbachia ini menimbulkan polemik di tengah masyarakat dan viral di media sosial (medsos). Di mana isu yang berkembang, proyek nyamuk ini proyek dari Bill Gate yang menjadi konspirasi secara global untuk mengurangi populasi du­nia.  Termasuk Indonesia menjadi target pengurangan populasi dunia. Bahkan karena isu ini, Denpasar yang masuk salah satu daerah penyebaran nyamuk ini justru menolak.

Audy mengatakan, isu yang muncul dari penyebaran nyamuk oleh pemerintah ini sama juga seperti isu yang muncul saat pandemi virus Covid-19. Di mana saat itu virus ini disebar untuk mengurangi setengah dari populasi penduduk dunia. “Meski semua itu isu yang belum terbukti kebenarannya. Tapi Wallahualam. Kita tidak bisa memastikan itu semua,” terangnya.

Meski demikian, Audy mengakui belum menda­pat informasi lebih lanjut apakah nyamuk ini masuk ke Sumbar atau tidak. “Untuk memastikannya perlu ditanya kepada Buk Lila Kepala Dinas Kesehatan dulu. Kalau makan rendang, mungkin tidak akan digigit nyamuk DBD kali ya,” seloroh Audy sambil tersenyum.

Sebelumnya diberitakan, Direktur Jenderal Pen­cegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Maxi Rein Rondonuwu mengatakan penyebaran nyamuk Wolbachia telah dilakukan di Bontang, Kupang, dan Semarang. Tinggal Ban­dung dan Jakarta Barat da­lam waktu dekat.

Ia menuturkan program ini telah masuk ke Stranas (Strategi Nasional). Hal itu dilakukan berdasarkan rekomendasi WHO, kajian alamiah, dan keberhasilan negara-negara lain.

Menurutnya, sudah ada 14 negara yang melakukan penyebaran nyamuk wolbachia guna menekan angka penyakit DBD. Namun, ia tidak mengungkap negara-negara tersebut. “Program ini kami sangat yakin penanggulangan DBD yang sudah lama di negara kita, negara tropis harus ada cara lain secara inovasi yang harus kita tempuh seperti program nyamuk berwolbachia ditambah dengan program vaksinasi,” ujarnya.

Kemenkes sebelumnya mengatakan penyebaran nyamuk wolbachia di lima kota sesuai dengan Surat Keputusan Menteri kesehatan RI Nomor 1341 tentang Penyelenggaraan Pilot Project Implementasi Wolbachia sebagai Inovasi Penanggulangan De­ngue. Teknologi menyebar nyamuk wolbachia dipercaya dapat melumpuhkan virus dengue dalam tubuh nyamuk aedes aegypti, sehingga virus dengue tidak akan menular ke dalam tubuh manusia. (fan)