METRO PADANG

Alumni UBH Kecewa, Rektor Suruh Mahasiswa Berhenti Kuliah

0
×

Alumni UBH Kecewa, Rektor Suruh Mahasiswa Berhenti Kuliah

Sebarkan artikel ini
TEMUI MAHASISWA— Rektor UBH Padang Prof. Dr. Tafdil Husni, S.E., MBA, saat menemui mahasiswa yang melakukan aksi demo, di Rektorat pada Senin (20/11) sore. Pada saat itu, rektor menolak permintaan dari mahasiswa dan mengeluarkan kalimat, “Kalau Anda tidak suka kuliah di Bung Hatta, keluar.”

ULAK KARANG, METRO–Lontaran kata-kata, “Ka­lau anda tidak suka kuliah di Bung Hatta… Keluar”, yang disampaikan Rektor Universitas Bung Hatta (UBH) Padang Prof. Dr. Tafdil Husni, S.E., MBA, menjadi viral ketika mene­rima aksi unjuk rasa ma­ha­siswa di Rektorat Kampus I Ulak Karang Padang. Ka­limat mantan rektor Unand ini pun banyak men­da­patkan cecaran dari alumni diberbagai daerah.

Salah satu alumni ada­lah Mardefni, SH, MH yang sekarang stay di Manado Sulawesi Utara sangat me­nyesalkan ucapan ter­se­but keluar dari mulut sang rektor.

Mantan Hakim Tipikor dan juga wartawan senior ini menegaskan, se­ha­rus­nya dalam menyikapi aksi unjuk rasa mahasiswa rek­tor tidak seharusnya ber­kata demikian.

Dikatakan Mardefni, rektor sebagai pemegang administrasi tertinggi di Perguruan Tinggi se­ha­rusnya tidak pantas ber­kata demikian karena para mahasiswa itu masuk dan memilih Universitas Bung Hatta sebagai tempat ku­liahnya karena mereka suka kuliah di UBH.

“Kalau mereka tidak suka kuliah di UBH mungkin mereka memilih Per­gu­ruan Tinggi lain, yang me­reka tidak suka itu adalah karena kebijakan rektor yang mereka rasakan me­rugikan adik-adik ma­ha­sis­wa itu, bukan karena tidak suka,” tegasnya.

“Akibatnya, banyak ko­mentar-komentar yang sa­ngat menyesakkan hati para alumni diberbagai macam group WA alumni UBH. Nah, ini kan bisa berakibat ketidak­per­ca­yaan alumni kepada Rektor UBH,” kata Mardefni, Se­lasa (21/11).

Menurut Mardefni, se­menjak kepemimpinan Taf­dil, ada kejadian aneh-aneh yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Contoh, aksi bakar bakar di gedung Rektorat pada Senin (20/11) malam, sampai meng­han­curkan kaca-kaca gedung.

“Dari dulu semenjak universitas ini didirikan tahun 1981 tidak ada aksi seperti ini, bahkan aksi demo juga terjadi dan ha­nya berjalan damai karena tidak ada keluar kata-kata yang disayangkan ter­se­but,” lanjutnya.

Bukan itu saja, jelas Mardefni, semenjak Rektor Tafdil Husni ini juga ada terjadi dua kubu DPP Alum­ni UBH, seharusnya jika rektor bisa seperti rektor-rektor yang sebelumnya, hal ini tidak akan terjadi, jelas Mardefni yang sam­pai sekarang tidak ada keberpihakan terhadap kedua kubu DPP Alumni tersebut dan lebih memilih bersikap netral.

Untuk diketahui, se­jum­lah mahasiswa UBH me­la­kukan aksi de­mon­trasi di gedung Rek­torat UBH di Ulak Karang, Senin (20/11) siang hingga ma­lam.

Awal mula kericuhan terjadi ketika salah satu masyarakat mahasiswa meminta semua tuntutan yang diajukan kepada rek­torat sudah harus me­ne­mui titik terang dalam wak­­tu tiga hari. Tetapi rek­tor menolak permintaan dari mahasiswa tersebut.

“Saya berjanji untuk menyelesaikannya, tapi tidak dalam waktu tiga hari. Saya berhak untuk menolak menandatangani tuntutan yang Anda layangkan. Ka­lau Anda tidak suka kuliah di Bung Hatta, keluar,” kata rektor saat mendengar aspi­rasi mahasiswa, Senin sore.

Setelah ucapan itu, be­berapa masyarakat maha­siswa yang mengikuti aksi mengungkapkan rasa ke­kecewaannya atas ucapan yang disampaikan rektor dengan membakar alma­mater yang sedang dike­nakan. Tak hanya itu, mas­sa aksi juga melemparkan kaca rektorat dengan batu yang berimbas pada pintu masuk dan jendela menjadi pecah.

Sedangkan pada Senin malam, aksi bakar ban dilakukan mahasiswa di lobi gedung rektorat UBH. Alhasil api membumbung tinggi menghitamkan la­ngit-langit plafon dari lobi kampus I UBH.

Setelah aksi membakar ban dan memecahkan ka­­ca rektorat, Rektor UBH Prof. Dr. Tafdil Husni, S.E., MBA menemui mahasiswa yang melakukan aksi de­mo. “Kita diberikan teng­gang waktu 7 hari untuk melakukan perbaikan ma­na­gement administrasi di UBH,” papar Tafdil Husni, Senin (20/11) malam.

Tafdil Husni menam­bahkan, jika dalam 7 hari belum ada perbaikan, ma­ka rektor harus mengun­durkan diri dari jabatan rektor di UBH. “Jika dalam 7 hari tidak ada perubahan, mahasiswa menuntut rek­tor untuk mengundurkan diri,” tambahnya.

Tuntutan mahasiswa UBH dalam aksi demon­trasi itu, meminta rektor untuk melakukan keter­bukaan mengenai ang­ga­ran kelembagaan. Selain itu, tuntutan mahasiswa adalah melengkapi fasilitas dan infrastruktur penun­jang perkuliahan. Ma­ha­siswa juga menuntut rektor untuk menindak tendik yang tidak pro­fesional da­lam mem­berikan pelaya­nan kepada mahasiswa. (ren/rel)