JATI, METRO–Pelajar SMP N 5 Padang menyuguhkan tradisi malam bainai, saat kunjungan Wako Hendri Septa di sekolah mereka, Selasa (14/11). Wako ingin melihat langsung bagaimana pembelajaran Keminangkabauan diterapkan sekolah.
Selain malam bainai, para pelajar juga menampilkan pencak silat. “Saya mengapresiasi penampilan siswa dan siswi SMP 5. Kita bertekad Kemingkabauan ini jangan sampai putus dari anak-anak kita. Ini adalah hal yang wajib kita berikan kepada mereka agar mereka tahu peninggalan leluhurnya,” kata Wako Hendri Septa.
“Kami tadi menyaksikan penampilan malam bainai, anak manjadi lebih tahu dan dapat menghayati. Saya senang sekali anak-anak pandai dalam mempraktikkannya dan mengikuti dengan seksama,” sambungnya.
Dia menyebut, ini sesuai dengan harapan Pemerintah Kota Padang agar siswa lebih peduli dengan adat istiadat, dan dengan kegiatan seperti ini, dapat menghindari siswa-siswi dari hal-hal yang berbau negatif.
Ia melanjutkan, muatan lokal Keminangkabauan ini sudah hampir dua bulan berjalan bagi para pelajar mulai dari tingkat PAUD hingga SMP di Kota Padang. “Ini merupakan tekad kami bersama, seluruh jajaran dan sekolah di Kota padang agar Keminangkabauan jangan sampai putus dari anak-anak kita. Ini agar mereka ingat dengan peninggalan leluhurnya,” ungkap wako.
Ia juga mengungkapkan, dengan adanya muatan lokal Keminangkabauan membuat para pelajar jauh dari hal-hal berbau negatif yang bisa merusak diri dan jiwa mereka sendiri. Seperti tawuran, narkoba, pergaulan bebas dan hal-hal negatif.
Kepala SMP 5 Padang Junaidi, menyebut, semua penampilan tersebut sudah dipersiapkan dengan matang oleh guru kelas, bersama para siswa. “Muatan lokal Pelajaran Keminangkabauan ini sudah berjalan kurang lebih dua bulan. Setiap hari Selasa di lapangan sekolah anak anak dari setiap kelas mendapatkan masing giliran untuk tampil,” kata Junaidi, Selasa (14/11).
Selain itu, dengan adanya muatan Lokal Pembelajaran Keminangkabauan ini, siswa lebih paham akan adat istiadat Minangkabau, terutama di generasi milenial seperti sekarang ini, dimana zaman gadget.
“Selain adat istiadat, kita juga memperkenalkan permainan orang Minangkabau zaman dahulu yang sekarang mungkin tidak dikenal lagi oleh generasi muda, lewat muatan lokal ini kita hadirkan kembali,” sebutnya.
Malam Bainai yang di perankan oleh siswa itu, menggambarkan dengan rinci dan mudah dipahami bagaimana kiasan yang terkandung didalamnya, sehingga dapat lebih dipahami oleh murid.
Dikatakan Junaidi, dalam upaya mencegah aksi tawuran, terlebih hari Jumat, pihak sekolah selalu mengawasi siswa laki-lakinya dengan mewajibkan untuk shalat Jumat di dekat sekolah, sehingga tidak berkeliaran di luar lingkungan sekolah. (brm)






