PADANG, METRO–Ketua MUI Sumbar Ancam pindahkan MUI Sumbar ke Surau Buya Gusrizal yang berada di Campago Ipuh, Kecamatan Mandiangin, Kota Bukittinggi, jika tidak mendapat tempat di Ibu Kota Sumatera Barat ini.
Hal itu diungkapkan oleh Buya Gusrizal Gazahar kepada POSMETRO, saat dihubungi, Jumat (10/11). Karena menurutnya, hingga saat ini, belum ada kejelasan mengenai tempat dimana MUI Sumbar akan berkantor usai di keluarkan secarik surat dari Pengurus Mesjid Agung Nurul Iman beberapa waktu lalu
“Sekarang saya sedang menunggu, karena saya memang tidak mempunyai mesjid dan ada yang merasa memiliki mesjid, silahkan saja. Kalau seandainya di Bukittinggi tempatnya ini, akan saya bawa ke Surau saya, tapi kan tak bagus kantor MUI Sumbar berada di sebuah surau di Bukittinggi,”ujar Buya Gusrizal Gazahar.
Dia juga mengatakan, apakah itu akan berdampak baik untuk umat kedepannya, jika lokasi kantor lembaga setingkat MUI Sumatera Barat, berada jauh dari ibu kota Provinsi. “Saya sekarang ini sifatnya menunggu apa maunya, berjelas-jelas saja, maunya apa?,”ucapnya.
Diketahui, Buya Gusrizal Gazahar memiliki sebuah surau yang berada di Kota Bukittinggi, tepatnya berada di kampung Campago Ipuh, Kecamatan Mandiangin, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Surau berwarna putih itu berdiri megah disana.
Dia juga mengatakan, sebenarnya secara pribadi juga tidak nyaman berkantor di Mesjid Agung Nurul Iman itu, karena tidak representatif, dan jika dia menerima tamu, rapat tidak bisa berjalan, begitu juga sebaliknya. Karena hanya berbatasan dengan lemari setinggi leher.
Selama berkantor disana, dia juga mengatakan mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan. Dia mencontohkan rantai yang di pasang di depan kantor MUI yang sedianya digunakan sebagai tempat parkir dekat mesjid Nurul Iman itu.
“Kantor yang rutin buka dan memiliki pegawai tetap disana adalah MUI Sumbar, apakah wajar jika tamu MUI Sumbar yang datang dari berbagai daerah masuk melangkahi rantai-rantai yang dipasang di sana, sebenarnya apa tujuannya?, Kira-kira malu tidak masyarakat Sumbar ketika ulama dari luar daerah datang ke kantor MUI Sumbar dengan melangkahi rantai-rantai itu,” tanya Buya Gusrizal.
Dia juga mengaku sudah pernah meminta kepada pengurus mesjid untuk mengaktifkan toilet di lantai dua, namun tidak kunjung di penuhi, dia juga menimpal, jika beralasan tidak mempunyai dana, maka MUI Sumbar siap dengan dana pribadi.
“Sebagaimana kita tahu secara umur anggota MUI itu sudah sepuh-sepuh, pensiunan, kadang rapat mulai dari pagi hingga sore, ketika ingin buang air kecil, dua kali hingga tiga kali, apakah sanggup yang tua-tua itu naik tangga berulang kali,” sebutnya lagi. (brm)






