Oleh: Zahyani, S.Pd
Pada dasarnya setiap murid itu unik. Mereka memiliki keberagaman kesiapan belajar, minat dan profil belajar. Mereka tidak bisa dipaksa belajar dengan menggunakan satu metode yang sama, sementara guru masih menerapkan sistem pembelajaran yang menganggap semua anak adalah sama tanpa melihat keberagaman tersebut. Guru seolah-olah mengajar satu orang murid dalam satu kelas, sedangkan dalam satu kelas ada 20 – 30 orang, sehingga tidak jarang akhirnya murid merasa jenuh dan bosan dalam belajar.
Di sisi lain, mengajarkan Konfigurasi Elektron merupakan tantangan tersendiri bagi penulis. Materi ini melibatkan konsep yang abstak dan matematis, sehingga sulit untuk divisualisasikan. Tidak jarang selama proses pembelajaran banyak murid yang merasa bosan, tidak fokus, sering keluar masuk kelas dan bahkan mungkin sering tidur dalam jam belajar. Dari kondisi inilah penulis tertantang dan berkewajiban untuk menciptakan suasana pembelajaran yang merdeka dan berpusat kepada murid.
Setelah penulis mengenal Kurikulum Merdeka, apalagi di sekolah penulis, ditetapkan sebagai Sekolah Penggerak, sejak tahun 2022, dan penulis merupakan salah seorang Komite Pembelajaran, lalu sering mengakses Platform Merdeka Mengajar (PMM), barulah saya menyadari kesalahan yang telah saya lakukan selama ini dalam mengajar.
Menurut Ki Hajar Dewantara, mendidik dan mengajar adalah proses memanusiakan manusia, sehingga harus memerdekakan manusia dan segala aspek kehidupan, baik secara fisik, mental, jasmani dan rohani. Hal ini identik dengan Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran yang berpihak kepada peserta didik.
Pembelajaran berdiferensiasi sangat erat sekali kaitannya dengan merdeka belajar. Keduanya memiliki arah dan tujuan yang sama. Dalam pembelajaran berdiferensiasi, anak dipandang sebagai pribadi atau individu yang unik dan berbeda-beda, begitu pula dalam merdeka belajar. Keduanya sama-sama menaruh perhatian besar kepada kebutuhan anak.
Persiapan guru dalam memutuskan strategi pembelajaran yang akan diterapkan semuanya berasal dari hasil identifikasi terhadap profil dan kebutuhan murid yang berbeda-beda, sehingga murid dapat terlibat penuh selama pembelajaran berlangsung dengan perasaan merdeka dan bahagia.
Pembelajaran berdiferensiasi merupakan salah satu strategi yang dapat digunakan guru untuk memenuhi kebutuhan setiap peserta didik. Di sini guru harus memahami dan menyadari bahwa ada lebih dari satu cara, metoda dan strategi untuk mempelajari suatu bahan pelajaran ketika menggunakan pembelajaran berdiferensiasi. Guru dapat mengatur bahan pelajaran, kegiatan dan tugas-tugas yang harus diselesaikan oleh peserta didik.
Di dalam buku panduan Pembelajaran dan Asesmen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Menengah yang diterbitkan BSKAP Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, tahun 2022, ada tiga strategi yang dapat dipilih dalam pelaksanaan proses pembelajaran berdiferensiasi, yaitu diferensiasi konten, diferensiasi proses dan diferensiasi produk.
Diferensiasi Konten, yaitu apa yang diajarkan pada peserta didik sebagai tanggapan dari kesiapan belajar peserta didik, minat atau profil belajarnya (Visual, Auditori, Kinestetik) atau bahkan bisa kombinasi dari ketiganya.
Diferensiasi Proses, yaitu bagaimana peserta didik akan memaknai materi yang dipelajari baik secara mandiri atau kelompok dengan menyediakan kegiatan berjenjang.
Diferensiasi produk, yaitu berupa tagihan yang kita harapkan dari peserta didik, dengan memberikan tantangan atau keragaman variasi serta memilih produk apa yang diminatinya. Kegiatan pembelajaran berdiferensiasi ini dapat dilakukan guru dalam kegiatan inti pada Modul Ajar yang telah dirancang.
Salah satu bentuk pembelajaran berdifrensiasi yang sudah saya laksanakan adalah dengan menggunakan metoda bermain CONGKEL (Congklak Konfigurasi Elektron). Pada pembelajaran ini, murid dibagi berkelompok sesuai dengan tingkat pemahaman/kesiapan belajarnya masing-masing. Diberikan tantangan yang sesuai dengan tingkat penguasaannya.
Mereka sangat antusias dan bersemangat karena mereka terlibat langsung dengan diajak bermain. Secara mandiri dan berdiskusi di dalam kelompoknya, murid-murid bermain Congklak Konfigurasi Elektron, sehingga dengan bermain murid bersama teman-temannya, mereka dapat menuliskan Konfigurasi Elektron Subkulit dan bisa mencari tahu berapa jumlah elektron valensi dan menentukan letak unsur dalam tabel Periodik Unsur.
Kemudian murid-murid mengisi LKPD yang telah diberikan. Murid-murid sangat senang ,bergembira dan antusias untuk bermain ( diferensiasi proses). Tindaklanjutnya, guru memimpin diskusi di dalam kelas tentang apa yang telah dipelajari murid selama bermain congklak. Setiap kelompok diberi kesempatan untuk berbagi temuan dan pemahaman mereka.Di akhir pembelajaran guru melakukan refleksi dan memberi penguatan terhadap materi yang dipelajari.
Setelah melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi bermain Congklak ini, penulis melihat antusias murid dalam belajar. Murid yang biasanya pasif di dalam kelas sekarang menjadi aktif dan bersemangat karena mereka bermain bersama teman-temannya. Hal ini membuat penulis termotivasi dan lebih bersemangat lagi untuk berinovasi dalam pembelajaran. Para rekan gurupun mengapresiasi positif terhadap strategi yang saya lakukan ini.
Secara keseluruhan dari kegiatan pembelajaran ini, penulis menyimpulkan, pembelajaran memang harus sesuai dengan kebutuhan dan keberagaman murid dan harus berpusat kepada murid.
Mari kita tinggalkan cara mengajar yang menganggap murid adalah sama. Seorang pendidik jangan menganggap dirinya paling hebat di depan kelas. Kita harus banyak menggali dan belajar lagi terutama tentang kurikulum merdeka. Jangan pernah berhenti untuk belajar meskipun kita sudah mengajar, jangan malu untuk bertanya dan teruslah mengupgrade diri. (***)
*Penulis adalah Guru SMAN 6 Pariaman






