POLIKATA

Prabowo-Gibran Resmi, sebagian Menteri Risau

0
×

Prabowo-Gibran Resmi, sebagian Menteri Risau

Sebarkan artikel ini
image description

Oleh: Reviandi

PRABOWO Subianto dan Gibran Rakabuming Raka resmi didaftarkan Koalisi Indonesia Maju (KIM) ke Komisi Pemilihan Umum (KPU), Rabu (25/10/2023). Kini, keduanya akan menyandang status calon Presiden dan calon wakil Presiden (Capres-Cawapres) RI 2024. Pastinya setelah KPU melakukan serangkaian verifikasi dan pengecekan keduanya.

Sebelum pendaftaran Prabowo-Gibran, sebuah isu mengalir kencang tak terbendung. Ketua DPP Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) akan dilantik Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada tanggal yang sama sebagai Menteri. Meski akhirnya, pagi jelang berangkat ke Sumatra Barat (Sumbar) Jokowi ternyata melantik Andi Amran Sulaiman sebagai Menteri Pertanian (Mentan) menggantikan Syahrul Yasin Limpo yang terjerat kasus korupsi di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Isu AHY menjadi Mentan ini terus mengalir liar sampai kepada Kabinet Indonesia Bersatu yang lain. Karena, Demokrat adalah partai oposisi yang tak tergabung dengan pemerintahan sejak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengakhiri masa jabatannya 20 Oktober 2014 lalu. Sejak itu, tak ada lagi tokoh-tokoh Demokrat yang menjadi Menteri atau pejabat setingkat. Andai AHY jadi Menteri sontak membuat beragam spekulasi.

Meski belum menduduki kursi Menteri, nama AHY santer diisukan akan menggantikan salah satu Menteri yang partainya tidak mendukung Prabowo-Gibran. Karena, hari ini, Jokowi sudah dipastikan tidak turut serta dalam memenangkan jagoan yang diusung PDIP berkoalisi dengan PPP, Perindo dan Hanura, Ganjar Pranowo-Mahfud MD. Jokowi disebut akan melepas status kader PDIP-nya untuk mendukung anak kandungnya Gibran yang menjadi Cawapres Prabowo. Gibran kabarnya juga akan dipecat PDIP.

Diketahui, Prabowo-Gibran didukung sejumlah partai pemerintah seperti Partai Gerindra, Partai Golkar, Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Demokrat yang selama ini oposisi. Ada juga partai nonparlemen seperti Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Garuda, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan Partai Prima.

Nah, jika akhirnya partai-partai yang tak lagi mendukung apa yang didukung Jokowi masih menempatkan kadernya sebagai Menteri, tentu akan membuat ketidakharmonisan dalam kabinet. Begitu juga dengan Menteri yang menjadi peserta Pilpres tapi tak sejalan dengan Jokowi. Seperti Menteri Koordinator Politik Hukum dan HAM (Menkopohukam) Mahfud MD yang telah resmi jadi Cawapres Ganjar Prabowo.

Meski Mahfud mengaku sesuai aturan dia cukup hanya cuti sementara atau saat kampanye, tapi posisinya yang strategis tentu tak seaman itu. Karena itu sekarang muncul nama Ketum PBB Yusril Ihza Mahendra sebagai pengganti Mahfud. Karena keduanya merupakan orang yang dikenal paham hukum, utamanya tata negara. Meski akhirnya isu ini juga turut mereda dengan dilantiknya Andi Amran sebagai Mentan.

Tidak itu saja, di media sosial dan media lainnya juga beredar, Presiden Jokowi akan mengganti Kepala Badan Intelejen Negara (BIN) Budi Gunawan (BG) yang dikenal dekat dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Penggantinya adalah mantan Kasad Jenderal Dudung. Karena jabatan Kasad sendiri telah dilepas Dudung kepada Jenderal TNI Agus Subiyanto, usai dilantik Joko Widodo, di Istana Negara, Rabu pagi.

Entah benar atau tidak, tergantikannya Budi Gunawan tentu akan membuat para menteri yang berasal dari PDIP, PPP, Nasdem dan PKB akan harap-harap cemas. Apalagi juga sempat beredar isu panas, kalau PDIP akan menarik semua kadernya di kabinet jika Gibran resmi maju jadi Cawapres. Kita lihat sajalah bagaimana politik ini bergerak beberapa waktu ke depan. Apakah mereka yang tak lagi “sejalan” dengan Jokowi akan ditarik partainya, diganti atau mundur satu persatu.

Yang jelas, hari ini para kader partai nonpendukung Prabowo-Gibran masih nangkring di dalam kabinet. Seperti dari PDIP masih ada empat menteri dan satu wakil menteri. Mereka adalah Menteri Hukum (Menkum) HAM Yasonna Laoly, Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB) Azwar Anas, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Gusti Ayu Bintang Darmavati dan Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) John Wempi Wetipo.

Dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ada Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, dari Perindo Wamen Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Angela Tanoesoedibjo, NasDem Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar dan dari PKB Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, Menteri Tenaga Kerja (Menaker) Ida Fauziyah dan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar.

Menarik disimak, bagaimana para Menteri ini menghadapi dinamika politik sebulan ke depan, saat Pilpres kian memanas. Apakah berani partai-partai ini menarik para menterinya, atau menunggu ‘didepak’ oleh Jokowi. Yang pasti, yang akan menjadi headline menarik adalah sikap Megawati terhadap hal ini. Karena sampai kemarin, Gibran mengaku sudah berkomunikasi dengan Ketua DPP PDIP Puan Maharani yang tak lain adalah putri Megawati.

Kalaupun akhirnya para menteri ini aman dari reshuffle kabinet, pastinya mereka tidak akan bekerja dengan nyaman. Karena apa yang jadi instruksi pemerintah dengan partai mereka bisa saja akan sangat berbeda. Atau akan ada menteri yang berani mundur dari partai, demi mempertahankan jabatan mereka sampai habisnya masa jabatan Jokowi 20 Oktober 2024. Menarik, sangat menarik.

Kesimpulan sementara hari ini adalah, tiga pasangan Capres-Cawapres yang akan bertarung adalah dari basis yang sama. Semua ada di koalisi pemerintahan, bahkan yang katanya mengusung perubahan, sebagian dari PKB. Partai pengusung Jokowi-Ma’ruf Amin yang awalnya juga bergabung mendukung Prabowo. Tapi keluar seiring Ketum PKB Muhaimin Iskandar menjadi calon Wapres Anies Baswedan.

Yang penting hari ini adalah, Indonesia jangan terpecah-pecah, meski kabinet sudah ‘pecah belah’ oleh kepentingan Pilpres. Seperti yang dikatakan penyanyi Tony Q Rastafara, “Tak ada musuh abadi, tak punya teman sejati. Yang ada hanya kepentingan ada yang menjadi hobi pakai cara tak terpuji. Waspadai politik adu domba yang akan merusak kita.” Waspada, waspada! (Wartawan Utama)