METRO PADANG

Kondisi Fasilitas Pengeringan Ikan di Pasie Nan Tigo Memprihatinkan, Atap Jebol, Retribusi Tetap Dipungut dari Nelayan

0
×

Kondisi Fasilitas Pengeringan Ikan di Pasie Nan Tigo Memprihatinkan, Atap Jebol, Retribusi Tetap Dipungut dari Nelayan

Sebarkan artikel ini
FASILITAS PENGERINGAN IKAN MEMPRIHATINKAN— Nelayan Pasie Nan Tigo, Efendi dan Jaswir alias Mak Adang, menunjukkan atap tempat perebusan ikan sudah banyak yang jebol, Minggu (22/10). Selain itu, rumah kaca sebagai lokasi tempat pengeringan ikan juga tidak terawat.

PASIE NAN TINGO, METRO–Sungguh memprihatinkan. Sejak beberapa tahun terakhir,  kondisi fasilitas pengeringan ikan di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Sentra Pengolahan Perika­nan, Kota Padang yang merupa­kan bantuan dari pihak Kemen­terian Kelautan dan Perikanan (KKP) Indo­nesia, kondisinya mem­prihatin­kan.

Atap tempat perebusan ikan sebanyak enam tungku sudah jebol. Parahnya lagi rumah kaca sebagai lokasi tempat penge­ringan ikan juga tidak terawat.

Sementara  uang retribusi satu keranjang Rp5 ribu oleh pihak pengelola tetap saja dipungut, tanpa memperhatikan kondisi sarana dan prasarana yang rusak.

Bangunan yang terletak di Kelurahan Pasie Nan Tigo, Keca­ma­tan Koto Tangah, Kota Padang ini banyak kerusakan. Warga pe­ngo­lah ikan kering berharap pada pemerintah bisa memperbaiki fasi­litas itu.

Jaswir, (58) salaha seorang tokoh masyarakat Pasie Nan Tigo kepada POS­ME­TRO, mengaku bahwa kon­disi ini diperkirakan sudah terjadi satu hingga dua tahun belakangan ini. De­ngan kerusakan itu masya­rakat nelayan yang akan memakai lokasi itu merasa rugi. Soalnya, takut ikan ikan yang akan diolah me­nga­lami kerusakan yang berakibat kerugian pada ne­layan.

“Tempat perebusan dan penjemuran ikan (rumah kaca) banyak kerusakan di bagian atapnya. Saat hujan, orang tidak bisa merebus dan menjemur ikan. Dijemur ikan di oven (rumah kaca), bukannya kering, malah basah. Ikan jadi rusak,” ungkap Jaswir alias Mak Adang.

Keluhan serupa juga diungkap Efendi (43), nelayan pengolah ikan asin di Pasie Nan Tigo. Kerusakan di atap tempat perebusan dan penjemuran ikan dipicu badai di kawasan pantai. Selain itu, atap tempat perebusan ikan juga keropos akibat uap panas mengandung garam saat perebusan ikan.

“Untuk itu rata-rata para pengolah ikan enggan memakasi fasilitas itu. Sementara uang retrebusi untuk satu keranjang Rp5 ribu tetap saja ditagih. Namun kami tak mendapatkan pelayanan yang baik,” keluh Efendi, Minggu (22/10).

Baca Juga  Dewan Desak Pemko Tagih Pajak yang Menunggak

Disebutkan Efendi,  atap seng tempat perebusan ikan dengan enam tungku bolong besar dan keropos. Air hujan membasahi beberapa tungku di bawahnya beserta peralatan pe­re­busan ikan.

Kondisi atap tempat perebusan ikan yang rusak di fasilitas pengeringan ikan di UPTD Sentra Pengolahan Perikanan milik Dinas Perikanan dan Pangan Kota Padang di Kelurahan Pasie Nan Tigo, Kecamatan Koto Tangah, Ko­ta Padang.

Diperparah dengan kon­disi rumah kaca tempat penjemuran ikan saat hujan juga rusak di banyak titik. Air hujan menetes dari atap di sebagian besar areal rumah kaca. Pipa saluran air hujan juga bocor membasahi lantai ruangan yang berlumut tebal. Beberapa kaca jendela rumah kaca itu sudah hilang.

Rumah kaca itu, kata Efendi, bisa menampung sekitar 120 para/wadah penjemuran ikan (ukuran 1,5 x 4 meter). Namun, ka­rena atapnya bocor, hanya sepertiga lokasi yang bisa digunakan.

Menurutnya, selain kebocoran di atap rumah kaca, alat pengatur suhu di ruangan itu juga sudah rusak bertahun-tahun. Pengeringan ikan saat hujan hanya mengandalkan suhu alami di dalam rumah kaca.

Efendi yang sudah 10 tahun mengolah ikan kering di sentra itu menjelaskan, saat ini ada sekitar enam  warga yang memanfaatkan fasilitas tersebut. Mereka membayar retribusi Rp200.000 per bulan atau Rp5.000 per baskom ikan atau keranjang yang diolah. Fasilitas tersebut sangat membantu usaha warga.

Lantai rumah kaca tempat penjemuran ikan basah dan berlumut karena atap ruangan di fasilitas pengeringan ikan itu rusak.

Saat musim ikan, ia menghasilkan 100-200 kg ikan kering dalam sehari, sedangkan saat tidak mu­sim hanya 15-20 kg ikan kering dalam sehari.

Baca Juga  CSIRT Sepakat Atasi Serangan Malware Gacor dan Judi Online

“Saya berharap pemerintah bisa memperbaikinya. Warga pengolah ikan sangat terbantu. Usaha ini penghasilan utama saya. Dari ikan kering ini saya bisa menyekolahkan dan menguliahkan tiga anak saya,” sebut pria bertubuh atletis ini.

Yuli (40), warga pengolah ikan kering lainnya di tempat itu, terpaksa meninggalkan sentra sementara waktu karena parahnya kerusakan fasilitas tersebut. Kebocoran terparah atap tempat perebusan ikan persis berada di atas tungkunya sehingga tidak bisa digunakan saat hujan.

“Karena sudah hancur begitu, otomatis saya tidak bisa merebus ikan di situ, di mana ditaruh ikannya. Saya terpaksa tarik ke pantai lagi di dekat rumah. Kalau sudah diperbaiki, pindah lagi ke sentra,” kata perempuan yang sudah memanfaatkan fasilitas itu sejak 2010.

Kondisi tunggku basah dan berlumut di tempat perebusan ikan yang atapnya rusak di fasilitas pengeringan ikan. Rusaknya fasilitas ini terpaksa saya menjemur ikan di depan rumah tak berapa jauh dari pantai.

Yuli mengaku, sebenarnya keberadaan fasilitas pengolahan ikan kering di sentra sangat memu­dah­kan pekerjaannya. Di lo­kasi itu, air mudah diakses, saluran pembuangannya juga lancar, dan angin pantai tidak mengganggu api tungku.

Yuli berharap fasilitas itu dapat diperbaiki. Namun, ia juga sadar atas kurangnya perhatian pemerintah terhadap tempat itu. Menurut dia, mungkin ada juga kesalahan sebagian warga pengguna yang kurang menjaga kebersihan dan kurang disiplin membayar retribusi.Kalau sudah diperbaiki, pindah lagi ke sentra.

“Tempat ini sangat mem­­bantu ekonomi pe­rem­­puan nelayan. Biasanya ibu nelayan hanya tunggu uang dari suami. Dengan kerja di sentra, mereka bisa membantu eko­nomi keluarga,” kata Yuli. (ped)