SAWAHLUNTO, METRO–Pejabat Walikota Zefnihan mengajak murid sekolah SD yang ada di Kota untuk menjadikan “Alam Takambang Menjadi Guru”. Peribahasa yang telah ada pada daerah Sumatera Barat ini memang cocok dengan kurikulum merdeka yang saat ini digunakan pada dunia Pendidikan Nasional.
Ajakan ini terucap oleh Zefnihan pada saat gelaran acara launching Kurikulum Merdeka Sekolah Masuk Musium oleh Dinas Kebudayaan yang berlangsung di musium Kereta Api , Selasa (17/10) dengan tema mengenalkan warisan dunia lewat musium keliling dan sekolah masuk musium.
Disebutkan Zefnihan, pendidikan tidak harus didalam kelas. Dengan adanya kurikulum merdeka yang bertujuan menguatkan karakter anak-anak bisa diwujudkan. Keseimbangan perilaku sosial antara dunia dan akhirat. Bagaimana pembelajaran yang banyak di alam ini bisa disatukan dalam bentuk pembelajaran formal. Makanya mungkin perlu digodok program untuk pihak Dinas Pendidikan agar ada 4 kali sekolah mengadakan jalan-jalan ke alam sambil belajar.
Bisa dengan mengadakan program yang bernama Sawahlunto Ceria yang berisi mengajak para siswa usia sekolah mengunjungi geopark, wisata alam dan wisata sejarah serta budaya, yang memang ada sejak zaman kolonial.
“Ini akan menjadi modal dan memperkaya instuisi dan kecerdasan para siswa. Juga akan meningkatkan pariwisata dan promosi melalui aktifitas medsos para siswa, dimana mereka tentu akan meliput kegiatannya dan mempromosikannya, sebagai kaum milenial tentu menggunakan aplikasi medsosnya,” ucapnya.
Pak PJ menambahkan, dengan sinergitas yang terjalin antara Dinas Kebudayaan, Dinas Pariwisata dan Dinas Pendidikan serta dukungan Dishub dan Satpol PP maka kegiatan anak-anak yang berbasis kurikulum merdeka, serta kegiatan sekolah masuk musium menjadi aman.
“Bagi anak-anak SD yang mengikuti saat ini, pelajarilah dengan baik setiap penjelasan dan keterangan yang diberikan oleh petugas musium diseputar Kota Tua. Dimana anak-anak akan mengunjungi musium Tari, Musium Gudang Ransum dan Musium lainnya, dan dalam setiap.kegiatan tersebut hadiahnya, serta ada transportasi, sebagai motivasi bagi anak-anak yang mengikuti kegiatan ini,” katanya.
Menurut Hilmed Kepala Dinas Kebudayaan, kegiatan yang digelarnya ini diikuti oleh 8 SD yang berada di daerah paling pinggir Kota Sawahlunto. “Ada 8 SD yang ikut berasal dari pinggir Kota Sawahlunto, dan setiap SD diikuti dengan 20 peserta. Sengaja diambil dari SD yang jauh dari pusat kota agar informasi terkait sekolah masuk musium ini bisa merata,” pungkasnya. (pin)





