PADANG, METRO —Tim Penilai Validasi Lapangan Innovative Government Award (IGA) 2023 mengunjungi UPTD Balai Kesehatan Indera Masyarakat (BKIM) Dinas Kesehatan Provinsi Sumbar. Tim melihat langsung inovasi non digital, “Masuk Surga” (Memberikan Akses Mudah dan Komprehensif kepada Seluruh Warga), yang dilakukan BKIM.
Kunjungan tim penilai dihadiri Nuril Fikri Aulia (Analis Kebijakan Ahli Muda BSKDM Kemendagri), Kabalitbang, Bustavia, Kadis Kesehatan Sumbar, dr. Lila Yanwar, MARS, Kepala UPTD BKIM, Beniara Asmus, Kepala BKOM dan Pelkes, Drg. Afando Ekardo, MM yang juga mantan Kepala BKIM Sumatera Barat sebagai penggagas inovasi “Masuk Surga”.
“Salah satu yang terpenting bagi Indonesia itu adalah kesehatan mata. Namun, kita masih sepele dalam urusan mata. Padahal itu adalah bagian terpenting dari panca indera sehingga harus kita maintenance sejak awal. Bukan hanya kelompok tertentu, tetapi juga masyarakat. Saya kira kehadiran Balai Kesehatan Indera Masyarakat khusunya mata di Sumbar akan meberikan pelayanan yang luar biasa,” kata tim penilai, Agus Eko Nugroho, Senin (16/10).
Menurut Agus, hadirnya inovasi “Masuk Surga” menjadi hal terpenting, khususnya bagi Balai Kesehatan Sumbar untuk diinisiasi dan dikembangkan oleh Provinsi Sumatera Barat. Dan, untuk meningkatkan jangkauan masyarakat khususnya dalam panca indera penglihatan.
Sementara, Drg. Afando Ekardo, dalam sesi tanya jawab oleh tim penilai, menjelaskan fungsi serta sejarah dalam berkembangnya inovasi yang masuk 10 besar IGA 2023. “Saya mengucapkan terima kasih serta merasa bangga karena BKIM masuk 10 besar nominasi IGA 2023. Dengan adanya inovasi ini, harapan kami sangat bermanfaat untuk masyarakat di Kota Padang khususnya, dan bermanfaat bagi lembaga Pemerintah Provinsi Sumbar,” kata Drg. Afando Ekardo.
Dia juga berharap, inovasi “Masuk Surga” bermanfaat bagi masyarakat, karena masuk dalam program unggulan Pemprov Sumbar. “Artinya kita sudah harus memikirkan agar seluruh layanan publik itu diberikan kemudahan, tidak ada istilah pasien protes kerena telah menunggu lama atau obat susah didapat, dengan Inovasi ini semua diharap diberikan kemudahan, kami bypass,” tambah Drg. Edo.
Kadinkes Sumbar Dr. Lila Yanwar, juga menyebutkan, penyebab terbesar kebutaan adalah katarak. Dimana, katarak bisa mengenai siapa saja dengan seiringnya faktor usia. Karena itu, itulah harus ada deteksi dini, jangan sampai timbul kebutaan akibat katarak. Karena, 81 persen kebutaan itu diakibatkan oleh katarak.
“Dengan adanya penjelasan yang baik kepada pasien tentang apa itu katarak, pasien jadi memahami apa itu katarak, sangat jarang ada orang yang datang ingin diperiksa matanya karena katarak. Dengan inovasi ini diharapkan pasien mudah mengakses serta tidak segan lagi untuk periksa mata,” tutup dr. Lila Yanwar. (cr1)






