METRO SUMBAR

Kenaikan Harga Beras Penyumbang Inflasi Terbesar

0
×

Kenaikan Harga Beras Penyumbang Inflasi Terbesar

Sebarkan artikel ini
ZOOM MEETING— Rakor bersama Mendagri diikuti via Zoom Meeting di ruang VIP Balai Kota dan dihadiri Asisten II Ewa Soska, Forkopimda, OPD terkait serta Kabag Perekonomian dan Sumberdaya Alam Setdako, Putra Dewangga.

PDG. PANJANG, METRO–Naiknya harga beras jadi penyumbang inflasi terbesar, baik inflasi bulanan maupun tahun ke tahun. Selain beras, gula pasir dan cabai juga mempengaruhi inflasi. Hal tersebut disampaikan Inspektur Jenderal Kementerian Dalam Ne­geri (Kemendagri), Tomsi Tohir saat memimpin Ra­pat Koordinasi Pengendalian Inflasi secara daring, Selasa (3/10).

“Ini perlu diperhatikan dan perlu diwaspadai agar ke depan komoditi ini tidak alami kenaikan. Kalau bisa turun pada minggu depannya,” kata Tomsi.

Dikatakannya, kenaikan harga beras disebabkan berkurangnya pasokan akibat kemarau ber­kepanjangan dan penurunan produksi karena efek El Nino.

Ia meminta agar setiap daerah mengecek kembali dan mendata kembali ke­napa komoditi ini menga­lami inflasi. Serta mendata kem­bali komoditas lainnya agar tidak alami hal yang serupa.

Baca Juga  Bupati Pasbar Minta Pendamping Desa, Awasi Seluruh Program Pemerintah

“Data ini kita dapat sesuai laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS). Ke depan diminta keseriusan kita untuk menghadapi inflasi ini. Kenapa daerah lain bisa mengantisipasi dan kenapa kita tidak. Ini perlu jadi perhatian” ujarnya seraya menyebutkan 73 kota alami inflasi dan 17 kota lainnya alami deflasi.

Sementara itu Dirjen Perdagangan Dalam Ne­geri, Isy Karim meminta agar Pemerintah Daerah melakukan pembinaan kepada UMKM. Di antaranya lakukan pendampingan ter­hadap mereka untuk dapat on boarding di Lokapasar (marketplace). Ting­katkan produktivitas UM­KM dalam menyediakan produk. Lakukan pengawasan terhadap barang-barang yang tidak memenuhi standar dan ketentuan yang berlaku. Serta giatkan edukasi kepada masyarakat dan konsumen untuk bangga beli dan gu­nakan produk dalam ne­geri.

Dari Padang Panjang, rakor ini diikuti via Zoom Meeting di ruang VIP Balai Kota Assisten II Ewa Soska, S.H, Forkopimda, OPD terkait serta Kabag Perekonomian dan Sumberdaya Alam Setdako, Putra De­wangga, S.S, M.Si.

Baca Juga  Ramaikan Masjid dengan Prokes Ketat di Padang­pa­ria­man

Putra menyampaikan, untuk Kota Padang Panjang tidak termasuk kota perhitungan IHK/inflasi oleh BPS. Sesuai ketentuan, inflasi kota ini mengacu kepada inflasi Kota Perhitu­ngan IHK terdekat yaitu Kota Bukittinggi.

“Bukittinggi sesuai data BPS, inflasi pada September yaitu 2,10 persen. Berarti kita juga diangka yang sama dengan Bukittinggi. Ini lebih rendah dari inflasi nasional 2,28 persen,” ujar Putra.

Sesuai data BPS Pa­dang Panjang untuk Indeks Perkembangan Harga (IPH) Padang Panjang minggu keempat September adalah 0,882 atau berfluktuasi sedang. Komoditi utama yang berkontribusi untuk fluktuasi ini adalah : beras, cabai merah susu balita. (rmd)