JAKARTA, METRO–Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA baru saja merilis hasil survei terbarunya yang diambil setelah deklarasi pasangan calon presiden dan calon wakil presiden (capres-cawapres) Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP) Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar.
Peneliti LSI Adjie Alfaraby mengatakan, survei ini mempertanyakan tiga bakal calon presiden yang saat ini santer terdengar yaitu Anies, Prabowo Subianto dari Partai Gerindra dan Ganjar Pranowo dari PDI Perjuangan.
Hasilnya dari 1.200 responden yang ditanya, 39,8 persen memilih Prabowo Subianto, kemudian 37,9 persen Ganjar Pranowo, dan Anies Baswedan 14,5 persen, serta tidak tahu atau tidak menjawab 7,8 persen.
Selama enam kali survei, ini adalah titik terendah yang diperoleh Anies sebesar 14.5 persen. Anies justru menurun setelah memilih Muhaimin Iskandar sebagai bacawapresnya.
“Pada bulan Agustus (sebelum deklarasi AMIN) elektabilitas Anies sebesar 19.7 persen. Pasca deklarasi (survei September) elektabilitas Anies sebesar 14.5 persen. Elektabiltias Anies menurun 5.2 persen setelah deklarasi Muhaimin sebagai bacawapresnya,” ujar Adjie saat konferensi pers yang digelar di Kantor LSI Denny JA, Rawamangun, Jakarta Timur, Senin (2/10).
Adjie menuturkan, hasil tersebut memperlihatkan bahwa tidak ada perubahan elektabilitas terhadap Anies setelah mendeklarasikan cawapresnya yaitu Muhaimin atau Cak Imin.
“Jadi dari slide ini terlihat untuk Pilpres 2024, tampaknya pertarungan ketat terjadi hanya di dua nama,” katanya.
Untuk diketahui, survei yang dilakukan menggunakan metode multi-stage random sampling dengan jumlah responden 1.200 orang. Teknik pengumpulan data tidak menggunakan sosial media melainkan tatap muka dan menggunakan metode kuisione, dengan margin of error survei ini plus/minus 2,9 persen.
Selain survei dengan metode kuantitatif, LSI Denny JA juga memperkaya informasi dan analisa dengan metode kualitatif, seperti analisis media, in-depth interview, expert judgement dan focus group discussion.
Dari hasil riset kualitatif, terdapat dua hal yang menyebabkan suara Anies menurun. Pertama, adalah kritik keras SBY soal pemimpin yang tidak memegang janji, yang beredar luas.
“Kritikan yang keras dari mantan presiden dua periode tentu bisa mempunyai efek pada persepsi yang berkembang di publik,” ujar Adjie.
Kedua, Muhaimin kalah populer dan kalah disukai dibandingkan dengan AHY. Popularitas atau pengenalan AHY sebesar 65.9 persen. Popularitas Muhaimin sebesar 49 persen. Popularitas keduanya terpaut 16.9 persen.
Simpati publik (kesukaan) juga muncul karena AHY relatif bersih dari pemberitaan kasus hukum maupun tindakan tercela.
“Dari sisi kesukaan, AHY kesukaan terhadapnya sebesar 68.3 persen. Kesukaan terhadap Muhaimin sebesar 61.5 persen. Angka kesukaan terhadap keduanya terpaut 6.8 persen”, tambahnya. (jpg)






