BERITA UTAMA

Nelayan Kampung Pasia Nan Tigo Kesulitan Mendapatkan BBM

0
×

Nelayan Kampung Pasia Nan Tigo Kesulitan Mendapatkan BBM

Sebarkan artikel ini
PERSIAPAN MELAUT— Sejumlah kapal bersandari di tepi pantai Kampung Nelayan, Kecamatan Kototangah, sedangkan para nelayan sedang memperbaiki dan menyiapkan perlengkapan untuk melaut.

PASIA NAN TIGO, METRO–Para nelayan yang ada Kampung Pasia Nan Tigo, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, mengeluhkan sulitnya mendapatkan BBM yang digunakan sebagai mo­dal untuk melaut.

Kesulitannya adalah para nelayan hanya bisa membeli BBM dengan jumlah yang ditargetkan 500 liter perorang itu hanya dalam tenggat wak­tu satu bulan. Jika tidak melaut karena fak­tor cuaca dan sebagai­nya dan tanggal yang tertera di surat sudah kedaluarsa, maka para nelayan harus mengurus kembali suratnya di Dinas Perikanan dan Pangan Ko­ta Padang.

Hal itu disampaikan Ke­tua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Kampung Nelayan Pasia Nan Tigo, Syah­roni. Dia meminta agar dapat dipermudah lagi para nelayan dalam mendapatkan BBM jenis pertalite untuk bahan bakar kapal.

“Namanya saja sudah kampung nelayan, tapi nelayannya susah mendapatkan BBM,” sebutnya, Jumat (22/9)

“Kami disuruh membuat surat yang berlaku hanya satu bulan, jadi tiap bulannya itu kami hanya melaut sekitar 20 hari, jadi jika jatah tanggalnya di­dalam surat itu sudah ha­bis, maka kami tidak dapat lagi membeli BBM di Pertamina,” sambungnya.

Setelah itu, para nelayan harus mengajukan surat baru yang harus disetujui Dinas Perikanan dan Pangan Kota Padang yang saat ini dijabat oleh Alfiadi. Katanya, masing-masing nelayan mendapatkan jatah untuk membeli BBM di Pertamina sebanyak 500 liter.

“Alhamdulillah cukup, namun kadang-kadang ka­mi satu Minggu tidak ke laut, dan taunya tanggal yang tertera sebagai tenggat waktu didalam surat sudah kadaluarsa, sehingga tidak bisa kami pergunakan lagi surat itu, dan harus di urus ulang Kantor Dinas Perikanan dan Pangan, tentu kami bermodal kembali untuk ke sana,” katanya.

Dikatakan, untuk kebutuhan BBM para nelayan yang menggunakan mesin boat atau mesin tempel 15 PK, membutuhkan 15 liter BBM ketika melaut. Sementara untuk jenis mesin Ketinting atau Robin, mem­butuhkan 5 liter BBM.

Dengan kondisi yang demikian, Syahroni berharap ada solusi yang lebih mudah bagi para nelayan dalam mendapatkan BBM. Karena mengingat jarak antara kampungnya dengan kantor dinas Perikanan dan Pangan Kota Padang cukup jauh, dan belum lagi menunggu an­trean mengurus surat.

Syahroni juga menceritakan keadaan laut saat ini yang dijadikan sebagai tempat sebagai mata pen­caharian nelayan, katanya, kondisi cuaca yang lebih kurang dua bulan ini ku­rang bersahabat.

“Kurang lebih dua bulan ini, kondisi badai cukup kencang, maka banyak diantara kami tidak melaut, kadangkala ada juga yang memaksakan, tentunya ini dengan risiko yang besar, bisa saja kapalnya hancur di hantam ombak karena badai,” sebutnya.

Sementara, Wali Kota Padang, Hendri Septa, berjanji akan mencari solusi terbaik bagi nelayan disana, dengan berkoordinasi de­ngan Pertamina untuk kembali mengaktifkan SPBN­ sehingga dapat men­sejahterakan kehidupan nelayan.

“Saya nanti akan coba bicara dengan pihak Pertamina keinginan dari para nelayan untuk mengaktifkan kembali SPBN agar mereka tidak terlalu jauh membeli bahan bakar. Ini permohonan mereka insyaallah kami akan berusaha bersama pak kadis nanti berusaha berkoordinasi dengan pihak Pertamina, saya minta carikan solusi kepada,” ungkap wako. (cr2)