PADANG, METRO – Wilayah Sumatera Barat dan sekitarnya diguncang gempa bumi secara beruntun sebanyak 5 kali dengan kekuatan yang bervariasi, Sabtu sore (2/2). Meskipun gempa yang berpusat di sekitaran Kepulauan Mentawai itu tidak berpotensi tsunami, masyarakat yang berada di gedung-gedung tinggi maupun di permukiman sempat dibuat panik.
Warga berhamburan keluar dari dalam gedung-gedung pusat perbelanjaan seperti di Plaza Andalas, Transmart, Basko Mall, dan rumah sakit dan tempat keramaian lainnya. Warga sempat berdesak-desakan agar bisa segera keluar dari dalam gedung untuk menyelamatkan diri. Bahkan gempa membuat warga trauma.
Sangkin kuatnya gempa yang mengguncang, warga juga sempat histeris dan berteriak untuk bisa sampai terlebih dahulu ke luar gedung. Apalagi, pada saat itu gempa yang nengguncang dengan kekuatan 6.0 SR. Namun, sejauh ini dari data BPBD Kota Padang, belum didapatkan adanya laporan kerusakan pada bangunan dan tidak menimbulkan korban jiwa.
Dari laman resmi Badan Meterologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tercatat gempa yang melanda wilayah Sumbar awalnya terjadi pada pukul 16.03 WIB dengan kekuatan 5.3 SR dengan berpusat di 106 Kilometer (KM) Tenggara, Kepulauan Mentawai dengan kedalaman 10 KM.
Setelah gempa pertama itu, kembali terjadi gempa susulan sekitar pukul 16.27 WIB, dengan kekuatan 6.0 SR yang berpusat di titik yang hampir sama tapi dengan kedalaman 17 KM. Tidak cukup sampai disitu saja, sekitar pukul 16.58 WIB, gempa susulan mengguncang lagi.
Pada gempa yang ketiga ini, kekutan gempa turun dari sebelumnya, dengan kekuatan 5,2 SR dengan pusat gempa yang juga hampir sama, namun dengan kedalaman yang lebih dalam yaitu 24 KM. Terakhir, gempa terjadi sekitar pukul 17.59 WIB ini guncangan lebih kuat dari sebelumnya. Tercatat kekuatan gempa mencapai 6.0 SR dengan pusat yang juga hampir sama, tapi kedalaman 18 KM yang mana kedalaman tersebut lebih dangkal dari gempa sebelumnya.
Sementara itu, Kasi Kedaruratan BPBD Kota Padang, Suran Hendra mengatakan gempa yang melanda Kota Padang memang sangat dirasakan oleh masyarakat guncangannya. Sehingga, pada saat terjadi gempa, masyarakat yang berada di tempat keramaian dan di dalam bangunan bertingkat sempat panik.
“Tadi memang sedikit agak panik. Apalagi warga yang berada di pusat keramaian seperti Plaza Andalas, Transmart, Basko, dan bangunan tinggi lainnya. Gempa ini informasinya berpusat di Mentawai. Sejauh ini kita dari BPBD belum ada dapat laporan kerusakan ataupun korban jiwa,” kata Sutan Hendra.
Sutan Hendra menambahkan pihaknya masih terus melakukan monitoring. Untuk itu, kepada masyarakat dihimbau untuk tetap tenang, dan kalaupun terjadi gempa lakukan evakuasi diri ke tempat yang lebih aman. Yang paling penting jangan panik.
“Kalau misalkan gempa, berlindunglah di tempat yang aman dari benda-benda yang berkumingkanan akan menimpa kita. Dan jika sempat keluar dari bangunan, cari tempat yang lapang. Setelah itu cari informasi yang jelas melalui laman BMKG sehingga tidak mendapatkan isu-isu yang dapat menambah kepanikan,” ungkapnya.
Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono mengatakan gempa yang melanda wilayah Sumbar merupakan gempabumi tektonik yang tidak berpotensi tsunami dengan magnitudo 5,3 dan 6.0. Hasil analisis BMKG menunjukkan gempabumi ini memiliki kekuatan M=6,0 yang kemudian dimutakhirkan menjadi Mw=6,1.
“Episenter gempabumi terletak pada koordinat 2,92 LS dan 99,98 BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 105 km arah tenggara Kota Tua Pejat, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Propinsi Sumatera Barat pada kedalaman 26 km. Gempabumi ini didahului oleh gempabumi dengan kekuatan M=5,3 dalam rentang 24 menit,” kata Rahmat Triyono.
Rahmat Triyono menjelaskan dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, tampak bahwa gempabumi ini termasuk dalam klasifikasi gempabumi dangkal akibat aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia tepatnya di zona Megathrust yang merupakan zona subduksi lempeng yang berada di Samudera Hindia sebelah barat Sumatra.
“Konvergensi kedua lempeng tersebut membentuk zona subduksi yang menjadi salah satu kawasan sumber gempabumi yang sangat aktif di wilayah Sumatra. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi ini dipicu oleh penyesaran naik (thrust fault),” jelas Rahmah Triyono.
Selain itu, Rahmat Triyono menambahkan guncangan gempabumi ini dilaporkan dirasakan di daerah Padang Panjang, Bukittinggi, Solok II-III MMI Padang, Pariaman, Painan III-IV dan Kepulauan Mentawai (Tua Pejat, Pagai Selatan) IV-V MMI. Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempabumi tersebut. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempabumi tidak berpotensi tsunami.
“Hingga pukul 17.00 WIB, Hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya aktivitas gempabumi susulan (aftershock) sebanyak 10 kali, dengan kekuatan magnitudo terbesar M=4,7. Kepada masyarakat dihimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Pastikan informasi resmi hanya bersumber dari BMKG yang disebarkan melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi (Instagram/Twitter @infoBMKG), website (inatews.bmkg.go.id atau www.bmkg.go.id), atau melalui Mobile Apps (IOS dan Android): wrs-bmkg atau infobmkg,” ungkapnya.
Salah seorang warga, Riko (25) warga Belimbing mengaku saat terjadi gempa, ia sempat berteriak hiteris menyelamatkan diri keluar dari dalam gedung tempat kerjanya. Bahkan, ia mengaku sangat trauma dan takut untuk kembali lagi ke dalam gedung. Pasalnya ia bekerja di lantai III.
“Saya sudah 4 kali berlari ke bawah saat terjadi gempa. Sejak gempa 2009 dulu, sampai sekarang saya masih sangat takut dan taruma. Asalkan ada goyang, saya langsung was-was. Semog saja tidak terjadi lagi gempa,” pungkanya. (rgr)





