METRO SUMBAR

Anggota DPR RI Asli Chaidir Resah, Daftar Tunggu Lama, Biaya Haji semakin Meningkat

0
×

Anggota DPR RI Asli Chaidir Resah, Daftar Tunggu Lama, Biaya Haji semakin Meningkat

Sebarkan artikel ini
DESEMINASI STRATEGI PENGELOLAAN HAJI— Anggota DPR RI Komisi 8, Asli Chaidir saat kegiatan Desiminasi Strategi Pengelolaan dan Pengawasan Keuangan Haji dan Sosialisasi BPKH, Kamis 14 9 di salah satu hotel di Padang.

PADANG, METRO–Badan Pengelolaan Ke­uangan Haji (BPKH) hadir untuk mengelola pelaksa­naan haji agar masyarakat bersemangat naik haji. Di mana biaya melaksanakan haji tidak seluruhnya dibebankan kepada calon jemaah haji, tetapi juga ditanggung BPKH melalui pengelolaan uang jemaah haji.  Anggota DPR RI Komisi 8, Asli Chaidir menyebutkan, jika dahulu haji biayanya di bawah Rp40 juta, namun pada tahun 2022, untuk pergi haji biayanya mendekati Rp70 juta.

“Dari total biaya Rp70 juta tersebut, yang dibayar calon jemaah haji hanya Rp35 juta. Sisanya dibayarkan dari uang jemaah yang dikelola BPKH,” terang Asli Chaidir, saat ke­giatan Desiminasi Strategi Pengelolaan dan Pengawasan Keuangan Haji dan Sosialisasi BPKH, Kamis (14/9) di salah satu hotel di Padang.

Asli Chaidir juga me­ngungkapkan, saat ini dana haji yang dikelola oleh BPKH mencapai Rp158, 6 triliun. “Uang ini diletakkan di sukuk bank yang dipercaya pemerintah. Inilah yang dapat membantu jemaah haji,” terang Anggota DPR RI dari Fraksi PAN itu.

Melihat kondisi per­kem­bangan saat ini, diakui Asli Chaidir, sebagai Anggota DPR RI mencemaskan jika Negara Saudi Arabia mengharapkan pemasukan negaranya dari haji ini. Padahal, sejak dahulu sampai sekarang tidak ada kebijakan tersebut.

“Jika kebijakan tersebut terlaksana, yang dicemaskan itu akan berdam­pak kepada naiknya biaya haji. Kita khawatir dengan kebijakan Arab Saudi ini, lima tahun ke depan apa uang di BPKH ini masih bersisa?” terangnya.

Bahkan, ungkap Asli Chaidir, tahun 2024 nanti biaya haji itu mencapai Rp92 juta. Tahun ini saja biayanya mencapai Rp90 juta. Calon jemaah haji membayar Rp50 jutaan dari total Rp90 juta biaya haji.

Asli Chaidir juga mengungkapkan, kondisi saat sekarang ini, jika dulunya biaya jemaah haji yang di­subsidi mencapai 50 per­sen, subsidi bisa berkurang hanya 25 persen.

“Ini yang kita khawa­tirkan. Apalagi ada penambahan kuota haji. Kami Komisi 8 DPR RI berkomitmen betul-betul berniat baik untuk penyelenggaraan haji. Sekarang bahkan sedang merancang me­ngurangi jumlah hari di Saudi Arabia untuk menekan biaya yang semakin besar,” terangnya.

Baca Juga  Prodi DKV ISI Gelar Pameran “Skena 24”

Untuk mengurangi biaya haji, banyak saran yang menginginkan agar BPKH membeli hotel di Mekkah atau Madinah. Agar harganya bisa bersaing dan dapat membantu biaya jemaah haji, karena banyak jemaah haji Indonesia. “Tapi usulan ini ma­sih dikaji,” tambahnya.

Selain masalah biaya haji, kondisi yang dihadapi saat ini, masa tunggu haji itu sudah mencapai 24 ta­hun. Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Asli Chai­dir mengajak masyarakat untuk mengikuti program haji muda. “Tujuannya, agar tidak terlalu tua untuk haji. Masa tunggu haji ini sudah 24 tahun. Kita berikan sosialisasi kepada ma­syarakat,” terangnya.

Asli Chaidir juga meng­ungkapkan, BPKH juga punya dana abadi umat yang jumlahnya mencapai Rp3,6 triliun. Ada sekitar Rp400 miliar nilai manfaat dari dana tersebut untuk di­kembalikan ke masyarakat. Asli Chaidir minta agar uang umat ini diawasi. “Melalui uang ini, saya sudah manfaatkan untuk salurkan membantu pondok pesantren dan madrasah di Sumbar. Kita sudah bantu semuanya,” tambahnya.

Sementara, Dewan Pe­ngawas BPKH Deni Suardini mengatakan, BPKH pe­rannya sangat penting, ka­rena diberi amanah penyelenggaraan haji oleh Kementerian Agama (Kemenag), sementara pengelolaan keuangan haji dilaksanakan oleh BPKH.

BPKH azasnya prinsip syariah dan tidak mengandung riba. Juga ada prinsip kehati-hatian, memberikan manfaat dan dike­lola secara transparan. Juga prinsip mampu dipertanggungjawaban kepada jemaah haji yang jumlahnya saat ini mencapai 5,3 juta.

BPKH menurutnya ha­rus betul-betul dapat meningkatkan kualitas penyelenggaraan haji. Sehingga memberikan kepuasan ba­gi jemaah haji. Juga me­ningkatkan rasionalitas dan efisiensi pengunaan biaya ibadah haji.

Menurut Deni, biaya saat ini belum. mencerminkan biaya riil ibadah haji. Masih ada selisih biaya jemaah dengan Bipih-nya atau ongkos haji. Dengan biaya Rp92 juta dari 51 persen, maka sekitar 50 jutaan jadi ongkos haji beban jemaah haji. “Jadi masih ada selisih yang harus ditanggulangi. Menggunakan da­na hasil pengelolaan haji, biaya haji harus riil,” te­rangnya.

Baca Juga  Pemkab Pasaman Salurkan Santunan Korban Kebakaran

Deni juga menilai pe­ngelolaan keuangan haji saat ini cukup baik. Bahkan, laporan keuangan haji ta­hun 2018 hingga 2022 dari BPK RI, pengelolaan dana haji meraih opini WTP. Pencapaian ini karena memang pengelolaan keua­ngan haji disajikan sesuai prinsip akutansi dan standar dan keuangan.

“Juga didukung pengendalian yang kuat dan efektif melalui pengawa­san internal dan masya­rakat. Pengelolaan keua­ngan sudah dilakukan sesuai peraturan perundang-undangan dan prinsip syariah,” terangnya.

Deni menegaskan, De­wan Pengawas BPKH sa­ngat hati hati dalam pe­ngelolaan keuangan haji. Diungkapkannya, kondisi sejak Januari hingga Juli 2023 uang haji yang dikelola bernilai Rp158, 30 triliun. Sementara 25 persennya yakni sebesar Rp39 triliun, ada di penempatan lain dan terjaga aman. Sisanya sebesar Rp119 triliun da­lam bentuk investasi dan bahkan hampir 72 persen dalam bentuk surat berharga, yakni hampir Rp117 triliun.

“Selain aman, dana haji tersebut mampu menutupi seluruh kewajiban. Pelaksanaan pengelolaan ke­uangan juga efisien. Bahkan, rata rata 3 persen digunakan untuk penerima manfaat. Nilai manfaat hingga Juli 2023 sudah men­capai Rp6,36 triliun. Bahkan saldo nilai manfaat masih bersisa sebesar Rp11 triliun. Jika empat bulan ke depan bertambah Rp3 triliun, maka akhir De­sember akan terkumpul Rp14 triliun.

Kegiatan Desiminasi Strategi Pengelolaan dan Pengawasan Keuangan Haji dan Sosialisasi BPKH tersebut dimoderatori oleh Wakil Ketua Wilayah Muhammadiyah Sumbar, Ki Jal Atri Tanjung. Juga hadir narasumber lainnya, Kepala Kantor Kemenag Pa­dang, Edy Oktaviandi. Hadir pada kesempatan ter­sebut, perwakilan MUI Sumbar, Pengurus Mu­ham­madiyah Sumbar, Tarbiyah Sumbar, Aisiyah dan lainnya.(fan)