BERITA UTAMA

Penerapan Buku KIA di Sumbar Disorot 9 Negara, Gubernur: Kesehatan Ibu dan Anak Jadi Prioritas

1
×

Penerapan Buku KIA di Sumbar Disorot 9 Negara, Gubernur: Kesehatan Ibu dan Anak Jadi Prioritas

Sebarkan artikel ini
BUKU KIA—Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah, Wamenkes RI Dante Saksono Harbuwono dan Kepala Kantor Perwakilan JICA Indonesia Takehiro Yasui bersama perwakilan 9 Delegasi Negara, Senin (11/9) di Auditorium Gubernuran.

PADANG, METRO–Hadirnya Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) telah menjadi jaminan kesehatan ibu dan anak secara terpadu. Keberhasilan buku yang sering dibawa ibu-ibu sambil membawa anaknya se­wak­tu memeriksa kesehatan ke posyandu ini, mendapat sorotan dari sejumlah negara.

Gubernur Sumatra Ba­rat (Sumbar) Mahyeldi An­sharullah menegaskan, setiap bayi dan anak ber­hak atas kelangsungan hidup, bertumbuh, dan berkembang. Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar terus mengoptimalkan jaminan kesehatan anak secara terpadu, dengan memak­simalkan fungsi Buku KIA.

“Kesehatan anak ter­padu harus dimulai dari pelayanan kesehatan janin dalam kandungan, bayi baru lahir, bayi, anak balita, kesehatan prasekolah, ke­se­hatan anak usia sekolah dan remaja, serta perlin­dungan kesehatan anak. Tujuannya, agar kelangsu­ngan hidup anak terjamin dan menurunkan angka kematian bayi baru lahir, ucap Mahyeldi saat pem­bukaan “Knowlegde Sharing Program on Maternal and Child Health Handbook”, di Auditorium Gu­ber­nuran Sumbar, Senin, (11/9).

Hadir pada kesem­patan itu, Wakil Menteri Kese­hatan (Wamenkes) RI Dan­te Saksono Harbuwono dan Kepala Kantor Perwakilan JICA Indonesia Takehiro Yasui.

Juga hadir 26 peserta dari sembilan negara. Yak­ni, Kamboja, Kenya, Taji­kistan, Madagaskar, Thailand, Timor Leste, Vietnam, Laos. Termasuk Je­pang sebagai penyeleng­gara dan Indonesia selaku tuan rumah. Dari Indonesia turut hadir perwakilan dari DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Utara, dan Sumbar.

Mahyeldi mengungkap­kan Pemprov Sumbar me­lalui Dinas Kesehatan (Din­kes) telah menjadikan Buku KIA sebagai instru­men pem­berdayaan keluarga dan masyarakat, yang di­per­kenalkan pada tahun 1994. Buku KIA mulai dite­rapkan sejak tahun 1997 dan di Sumbar pada tahun 1999.

“Dari Buku KIA, kita memperoleh informasi pe­la­yanan dan perawatan kesehatan bayi. Selain itu juga jadi catatan atas ke­sehatan ibu dan anak, alat monitor kesehatan, dan alat komunikasi antar tena­ga kesehatan dengan pa­sien,” ucap Mahyeldi.

Baca Juga  Bawa Kantong Kresek Mencurigakan, Tio Ditangkap di Pendakian Sikabau

Mahyeldi menam­bah­kan, peningkatan keseha­tan ibu dan anak selaras de­ngan prioritas Pemprov Sumbar. Pemprov Sumbar telah mensinergikan 17 in­dikator Tujuan Pemba­ngu­nan Berkelanjutan (TPB) ke RPJMD Sumbar 2021-2026, dengan output dan outcome jaminan kehi­dupan yang sehat dan ke­se­jah­teraan, yang mening­kat bagi pen­duduk semua usia.

“Ini juga sejalan de­ngan misi RPJMD Sumbar, yaitu Meningkatkan Kua­litas SDM yang Sehat, Ber­pengetahuan, Terampil dan Berdaya Saing menuju Ge­nerasi Emas tahun 2045,” ucap Mahyeldi lagi.

Pada kesempatan itu, Mahyeldi juga meng­ucap­kan terima kasih kepada Kemenkes RI, organisasi profesi terkait, serta Japan International Cooperation Agency (JICA), atas dipi­lihnya Sumbar sebagai lokus pembelajaran dan sosialisasi Buku KIA khu­sus Bayi Kecil, yakni buku tambahan dan digunakan bersama Buku KIA.

Wamenkes RI Dante Saksono Harbuwono meng­ungkapkan, data terkini menunjukkan hampir se­tiap dua menit satu bayi meninggal dunia di Indonesia. Sementara itu ter­kait kematian ibu saat per­salinan, banyak disebab­kan pendarahan, infeksi, darah tinggi, serta minim­nya pengetahuan tentang kesehatan dan gizi.

Menurutnya, Sumbar menjadi salah satu daerah untuk belajar  pelayanan kesehatan ibu dan anak. Secara spesifiknya mem­pelajari pemaksimalan peng­gunaan Buku KIA yang kesuksesan capaian pro­gramnya hingga 98 persen.  ”Ini sangat penting dipa­hami, selain juga selalu meningkatkan kualitas pe­tu­gas kesehatan, sarana kesehatan, dan kualitas pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak,” ujar Dante.

Meski angka kematian ibu dan anak secara global mengalami penurunan cu­kup signifikan, sambung­nya, tetapi bebannya ma­sih cukup tinggi. Di mana pada 2017, hampir 300 ribu perempuan meninggal se­la­ma dan setelah kehami­lan. “Termasuk kematian bayi, yang tercatat sekitar 5 juta kematian setiap ta­hunnya,” terangnya.

Melihat kondisi demi­kian, melalui kegiatan “Know­legde Sharing Program on Maternal and Child Health Handbook” perlu dilakukan optimalisasi peng­gunaan Buku KIA dalam mendukung kesehatan ibu dan anak.

Baca Juga  Tiga Program Prioritas Nasional jadi Acuan dalam Musrenbang

Sebab, Buku KIA ber­peran penting sebagai alat berbasis rumah, untuk me­mastikan kesehatan ibu dan anak berkelanjutan. Oleh karena itu, dapat mem­berikan kesempatan ber­bagi pengalaman di antara negara-negara peserta.

“Kami mengapresiasi Gubernur dan Pemprov Sumbar, yang telah berko­la­borasi dengan JICA dan Kemenkes untuk perhe­latan acara ini. Semoga program ini dapat mengha­silkan solusi dalam pening­katan pelayanan bagi ibu hamil dan bayi, agar ke depan lebih baik,” ucapnya.

Kepala Kantor Perwa­kilan JICA Indonesia Take­hiro Yasui menyampaikan, kegiatan “Knowledge Sharing Program” ini bagian dari kerangka proyek kerja sama teknis lima tahun (2018-2023) yang terjalin antara Kemenkes RI dan JICA. Indonesia adalah negara pertama di dunia memperkenalkan Buku KIA secara nasional.

“Sebelumnya Peme­rintah Indonesia bersama JICA telah menyeleng­garakan pelatihan inter­nasional untuk memper­kuat implementasi Buku KIA ini, dengan mengun­dang perwakilan 17 negara di Asia, Timur Tengah, dan Afrika dengan,” terangnya.

Takehiro menyebutkan, program ini ditujukan tidak hanya untuk berbagi pe­ngetahuan, tetapi juga men­ciptakan berbagai ta­hap persiapan strategi ma­sa depan, untuk mengha­dapi masalah-masalah spesifik terkait kesehatan ibu dan anak di berbagai negara.

“Kami di JICA mene­gas­kan kepedulian yang sama tentang bagaimana kita dapat memperkuat keberlangsungan penga­suhan ibu dan anak, serta menjamin mutu pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak,” tukasnya.

Kegiatan “Knowlegde Sharing Program on Maternal and Child Health Hand­book”digelar lima hari, mulai 10 hingga 15 September 2023. Para peserta meninjau pelayanan kese­hatan melalui kunjungan lapangan ke RSUP Dr M Djamil, Posyandu, Puskes­mas, dan Kids and Mom Care di Kota Solok, serta Dasa Wisma di Kabupaten Tanah Datar. (AD.ADPSB)