BERITA UTAMA

Survei Ipsos: Ganjar Vs Prabowo Kejar-kejaran, Anies Ketinggalan

0
×

Survei Ipsos: Ganjar Vs Prabowo Kejar-kejaran, Anies Ketinggalan

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI— Bakal capres Pilpres 2024 (dari kiri) Ganjar Pranowo, Prabowo Subianto, dan Anies Baswedan.

JAKARTA, METRO–Lembaga riset internasional Ipsos Public Affairs merilis survei nasional terkait dina­mika partai politik dan elektabilitas para tokoh potensial yang hendak berlaga dalam Pemilihan Presiden(Pilpres) 2024.

Survei ini digelar pada 22-27 Agustus di 24 pro­vinsi, di daerah perkotaan dan perdesaan, menggu­nakan metode wawancara tatap muka dengan 1.200 responden dengan margin of error ±2,83 persen.

“Pilpres makin dekat, sementara persaingan an­tarkandidat makin ketat. Dalam survei terbaru Ip­sos, Ganjar Pranowo men­duduki posisi pertama den­gan elektabilitas sebesar 40,12 persen, sementara Prabowo Subianto seban­yak 37 persen. Anies Bas­wedan menduduki pering­kat ketiga dengan elekta­bilitas yang awalnya sebe­sar 25,60 persen turun me­njadi 22,67 persen,” ujar De­puty Director Ipsos Public Affairs Sukma Widyanti dalam paparannya.

Hasil ini menunjukan Ganjar Pranowo menga­lamai rebound mengalah­kan Prabowo Subianto, me­­ngubah peta hasil telesur­vei Ipsos Public Affairs 18 Juli 2023.

Ketika itu, Prabowo ung­gul di angka 36,65 per­sen dibanding Ganjar Pra­nowo 34,46 persen.

Meski demikian, lanjut dia, peta elektabilitas bakal capres masih akan berge­rak dinamis, selain karena faktor ketokohan juga fak­tor lainnya seperti mesin politik, strategi kampanye, logistik dan lainnya.

Pada simulasi tiga pa­sang calon presiden dan wakil presiden, Ganjar Pra­nowo unggul saat berpa­sangan dengan Sandiaga Uno maupun Mahfud MD memiliki elektabilitas ter­tinggi (36 persen dan 39 persen) jika berhadapan dengan Prabowo Subianto-Erick Thohir/ Khofifah In­dar Parawansa (34 persen/ 28 persen) dan Anies Bas­wedanAHY (19 persen/ 21 persen), sementara 12-13 persen masih belum me­nentukan pilihan.

Pada simulasi dua pa­sang, jika Prabowo Su­bianto berpasangan de­ngan Ganjar Pranowo akan meraih 54 persen jika ber­hadapan dengan Anies BaswedanAHY (23 persen). Masih terdapat 23 persen suara yang belum menen­tukan pilihan.

Arif Nurul Imam, pe­neliti senior Ipsos Public Affairs mengatakan dina­mika politik masih dinamis. Bahkan peta koalisi masih bisa bergeser.

“Wacana dibangunnya koalisi antara PPP dan Partai Demokrat tentu me­narik dicermati. Jika mam­pu menambah dukungan partai lain, misalnya PKB membuat manuver se­hing­ga Anies Baswedan tidak bisa maju,” ujar Arif.

“Karena kita  menge­tahui bahwa PKB sejatinya adalah partai pendukung pemerintah yang sebagian besar atau 63 persen pemi­lihnya justru mendukung Ganjar Pranowo. Merujuk ke data tersebut, Sebagian besar pendukung PKB se­per­tinya tidak sejalan de­ngan ide perubahan yang diusung Anies,” tuturnya.

Dari data survei ter­baru Ipsos, pemilih PKB hanya 6% ke Anies Bas­wedan dan 31% ke Pra­bowo Subianto.

Skenario apabila Anies Baswedan tidak bisa maju sebagai Capres masih bisa terjadi mengingat Partai Demokrat yang masih be­lum menentukan pilihan koalisi pasca keluarnya dari Koalisi Perubahan.

Dalam wacana pasca deklarasi Anies-Muhaimin, terdapat suara yang me­ngi­nginkan pasangan San­diaga Uno dan Agus Hari­murti Yudoyono sebagai poros baru pasangan Cap­res-CawaPres. Namun pa­sangan ini masih menyi­sakan tantangan.

“Sebab potensi suara Sandiaga Uno dan Agus Harimurti masih di angka 9 persen, selesih jauh diban­dingkan Ganjar Prano­woMah­fud MD sebesar 39 persen dan Prabowo Su­biantoErick Thohir 36 per­sen dan yang tidak men­jawab terdapat 16 persen,” kata Arif Nurul Imam.

Selain itu, untuk mewu­judkan skenario Sandiaga Uno-AHY terjadi perlu du­kungan partai sebesar 20% minimal.

Sejauh ini, apabila Par­tai Demokrat dan PPP Ber­satu, jumlah kursi ke­dua­nya baru mencapai 73 kursi parlemen.

“Akankah ada partai yang mau menambahkan kursi tersebut sehingga tercapai tresehold untuk mendaftar sebagai pasa­ngan?” pungkasnya.

Untuk diketahui, Ipsos merupakan Lembaga riset yang sangat berpenga­la­man di dunia global. Lem­baga yang berkantor pusat di Perancis ini ber­operasi di 90 negara selain dikenal melakukan riset pasar, juga melakukan ris­et sosial poli­tik, termasuk di Indonesia.

Ipsos Indonesia meru­pakan anggota Perhim­punan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi) dan Association for Global Research Agency Worldwide (ESOMAR World Rese­arch). (jpnn)