SUDIRMAN, METRO–Kualitas udara di Kota Padang sedang tidak baik-baik saja. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Padang menyebut, udara semakin tidak sehat. Kabut asap semakin menjadi-jadi.
Meskipun pada Senin (4/9) malam turun hujan, namun pada keesokan harinya, Selasa (5/9), langit Kota Padang tak terlihat. Jajaran Bukit Barisan pun tertutup kabut asap.
Bahkan, pada siang harinya, meski langit terlihat mendung dan seperti akan turun hujan karena angin cukup kencang, namun hujan yang turun “malu-malu”. Padahal, biasanya dengan kondisi seperti itu, hujan sudah turun cukup lebat.
“Saya pikir hujan akan turun dengan lebat, ternyata yang turun tipis-tipis. Padahal langit sudah tak nampak, angin pun cukup kencang seperti akan turun hujan,” ungkap Aditya (21), mahasiswa PTN di Kota Padang.
Menurut dia, dengan kondisi cuaca saat ini membuat dia tidak nyaman saat berkendaraan. Kabut yang cukup mengganggu bisa mengakibatkan penyakit gangguan ISPA. “Bagi yang rentan dengan penyakit ISPA, kabut seperti ini cukup berbahaya,” lanjutnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Padang, Mairizon, Selasa (5/9), mengungkapkan kualitas udara di Padang masih dalam kategori sedang. Dalam dua hari ini, 4-5 September 2023, Kota Padang memang ditutupi kabut asap. Kota terlihat mendung karena sinar matahari terhalang kabut asap.
Berdasarkan pantauan stasiun AQMS Kota Padang, sejak tanggal 30 Agustus hingga 4 September, Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) untuk parameter partikulat debu ukuran 2,5 mikron (PM2.5) masih dalam kategori Sedang. Nilai ISPU PM2.5 masih menunjukkan trend peningkatan sampai saat ini.
“Hal ini berarti bahwa penurunan kualitas udara yang terjadi di Kota Padang dalam waktu satu bulan ini masih belum ada perbaikan,” terang Mairizon.
Mairzon melihat, salah satu penyebab dominan penurunan kualitas udara di Padang diduga berasal dari asap kiriman kebakaran hutan dan lahan, dan titik api yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia.
“Namun, jika melihat trend peningkatan nilai ISPU PM2.5 dalam seminggu ini, kategori biru atau Sedang ini dapat mencapai kategori kuning atau Tidak Sehat dalam waktu 20 hari ke depan,” ucap Mairizon.
Mairizon mengimbau warganya untuk tidak membakar sampah. Hal ini menurutnya akan dapat memperparah kabut asap.
“Kita harapkan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi tidak bertambah titik apinya dan dapat mengalami pengurangan,” harapnya.
Kebakaran Hutan di Pessel
Seperti diberitakan POSMETRO sebelumnya, Dinas Kehutanan (Dihut) Sumbar belum bisa memastikan kabut yang terjadi akibat titik api yang ada saat ini. Pasalnya titik api yang terdeteksi tidak terlalu banyak. Hingga Senin sore (4/9), Dinas Kehutanan Sumbar hanya terdapat lima titik api di perbatasan Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) dengan Provinsi Bengkulu.
“Berdasarkan Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan yang Berbasis Aplikasi dan Web (SiPongi), ada lima titik api di Pesisir Selatan. Satu terkonfirmasi,” kata Kepala Dinas Kehutanan Sumbar, Yozarwardi.
Ia menyebut pada aplikasi SiPongi itu terdapat dua warna yang menandakan adanya titik api. Warna kuning menunjukkan tingkat kepercayaan di bawah 80 persen dan warna merah tingkat kepercayaannya di atas 80 persen.
“Satu titik yang terkonfirmasi itu titik api dengan warna kuning pada SiPongi. Sementara titik yang bewarna merah masih dalam pantauan. Petugas terus memastikan, berkoordinasi dengan masyarakat peduli api di daerah,” ujarnya.
Menurutnya, Selasa pagi tim yang berada di Pesisir Selatan juga akan memantau langsung ke lapangan untuk memastikan status semua titik api yang terpantau SiPongi.
Namun menurut Yozarwardi, titik api yang terdeteksi itu, meskipun semua ternyata memang terjadi kebakaran hutan atau lahan, belum akan memberikan efek terhadap memburuknya kondisi udara, apalagi Sumbar secara umum. “Belum akan ada pengaruhnya untuk kondisi udara secara umum di Sumbar,” ujarnya.
Terkait kondisi udara di Kota Padang yang dinilai menurun dalam beberapa hari terakhir, Yozarwardi belum berani memastikan penyebabnya.
“Yang jelas dalam seminggu terakhir, tidak ada titik api yang terpantau menjadi kebakaran di Sumbar. Baru hari ini terkonfirmasi terjadi di Pessel. Itupun belum akan mempengaruhi Sumbar secara umum. Kita juga belum bisa memastikan apakah ini berasal dari asap kiriman karhutla provinsi tetangga,” katanya. (cr2)





