BERITA UTAMA

Tragis! Nyawa Menantu Berakhir di Tangan Mertua, Sempat Cekcok lalu Dibacok hingga Tewas, Pelaku Sakit Hati Merasa Tak Dihargai

0
×

Tragis! Nyawa Menantu Berakhir di Tangan Mertua, Sempat Cekcok lalu Dibacok hingga Tewas, Pelaku Sakit Hati Merasa Tak Dihargai

Sebarkan artikel ini
PEMBUNUHAN— Polisi melakukan olah TKP pembunuhan yang dilakukan mertua terhadap menantunya dengan cara membacok menggunakan parang panjang di Nagari Sungai Nanam, Kecamatan, Lembah Gumanti, Kabupaten Solok.

SOLOK, METRO–Tak kuasa lagi menahan emosi yang sudah sampai ke ubun-ubunnya, seorang pria tua di Sawah Liek, Jorong Koto, Nagari Sungai Nanam, Kecamatan, Lembah Gumanti, Kabu­paten Solok, tega membacok me­nantunya sendiri hingga tewas, Sela­sa (22/8).

Keluarga yang me­nyak­sikan pembantaian itupun dibuat berteriak histeris hingga membuat warga langsung berdatangan ke lokasi. Seketika, suasana malam yang sunyi berubah menjadi kepanikan lan­taran melihat korban ber­nama Masrizal (35) yang sudah terkapar di depan rumahnya dengan kondisi bersimbah darah dan tu­buh penuh luka bacokan.

Warga kemudian ber­usaha memberikan perto­lo­ngan kepada korban de­ngan membawanya ke Pus­kesmas Alahan Pan­jang.  Sayangnya, nyawa korban tak dapat disela­matkan hingga dinyatakan meninggal dunia oleh pe­tugas medis di Puskesmas.

Tak lama berselang, pada Rabu dinihari (23/8), jajaran Polsek Lembah Gu­manti bersama Tim Iden­tifikasi Polresta Padang yang mendapat laporan adanya peristiwa pembu­nuhan sadis itu, menda­tangi lokasi kejadian dan langsung mengamankan mertua korban bernama Efendi (61).

Selain itu, Polisi juga menemukan parang pan­jang dengan gagang kayu yang masih ada bekas becak darah. Parang itulah yang dipakai Efendi untuk membacok menantunya Masrizal berkali-kali sam­pai tewas. Kini, pelaku Efen­di sudah ditahan di Polres Solok.

Kapolres Solok AKBP Muari membenarkan pe­riti­wa itu. Menurutnya, dari hasil pemeriksaan terha­dap tersangka dan saksi-saksi, motif dari pembu­nuhan yang dilakukan ter­hadap mertua terhadap menan­tunya itu adanya unsur sakit hati terhadap korban.

“Jadi, pengakuan pela­ku, ia merasa tidak dihar­gai sebagai mertua oleh korban ini. Sehingga tim­bullah sakit hati dan dendam dengan korban. Apalagi, korban memang tinggal bersama istrinya di rumah pelaku. Pelaku dan korban ini bekerja sebagai petani,” kata AKBP Muari, Rabu (23/8).

Dijelaskan AKBP Muari, namun malam itu, rasa sakit hati pelaku tidak terta­han dan terpancing emosi saat melihat korban. Cek­cok mulutpun antara me­nantu dan mertua ini tidak terelakan. Pertengkaran mertua dan pelaku itu ber­lanjut hingga di luar rumah.

“Saat itu, pelaku sema­kin emosi dan mengambil sebilah parang dari dalam rumah. Dengan parang itulah pelaku langsung menyerang dan menga­yunkan parang ke arah korban hingga mengenai bagian kepala korban. Ma­sih tidak pusa, pelaku kem­bali membacok korban ber­kali-kali sampai korban terkapar di tanah depan rumah,” jelas AKBP Muari.

AKBP Muari menu­tur­kan, melihat korban ber­sim­bah darah, keluarga yang mengetahui kejadian itu berteriak histeris hing­ga membangunkan warga seki­tar. Korban sempat dila­rikan ke puskesmas terdekat un­tuk menda­patkan perto­longan medis. Namun luka korban yang cukup parah membuat nya­wa korban tak terse­lamatkan.

“Anggota kami dari Pol­sek dan Polres, yang men­da­pat laporan langsung me­nuju ke lokasi kejadian. Pelaku langsung diaman­kan berikut dengan barang bukti sebilah parang pan­jang. Atas per­buatannya, pelaku terjerat Pasal 338 jo 354 KUHPidana,” tutupnya. (vko)