POLIKATA

DPR RI Dapil Sumbar II; Mulyadi Vs Ade Rezki

0
×

DPR RI Dapil Sumbar II; Mulyadi Vs Ade Rezki

Sebarkan artikel ini

Oleh: Reviandi

Tidak ada yang salah dengan judul ini, karena inilah kebenarannya. Daerah pemilihan (Dapil) Sumatra Barat (Sumbar) II akan kembali menjadi arena ‘perta­rungan’ dua nama besar ini saja. Pertama Ketua DPD Partai Demokrat Sumbar Mulyadi yang sekarang kembali menem­pati nomor urut 1. Kedua, anggota DPR RI Ade Rezki Pratama dari Partai Gerindra yang masih nomor urut pertama.

Bagaimana tidak, keduanya sudah ‘dijamin’ akan mendapatkan lebih dari 100 ribu suara dan merebut satu kursi. Bahkan, akan membuka peluang partainya menda­pat­kan kursi kedua dari total 6 kursi yang ditawarkan Dapil dengan daerah Padang­pariaman, Kota Pariaman, Agam, Bukit­tinggi, Pasaman, Pasaman Barat, Paya­kum­buh dan Limapuluh Kota.

Menariknya, keduanya juga punya basis suara yang sama, Agam dan Bukittinggi. 2019 saja, Ade Rizki bisa mendapatkan 30.642 suara di Agam dan 11.165 suara di Bukittinggi. Sementara Mulyadi 41.916 suara Agam dan 20.035 suara di Bukittinggi. Mereka mendominasi suara dibanding semua Caleg di Dapil itu. Suara Mulyadi 144.954 dari total 197.834 suara Demokrat dan Ade Rezki 104.740 dari total 223.891 suara Gerin­dra.

2024, masih akan menjadi perta­rungan yang kurang lebih sama, yang sebenarnya sudah dimulai sejak 2014. Kedua putra asli Agam ini begitu mendo­minasi, bahkan juga berebut suara yang sama di Kabupaten dan Kota lainnya. Bedanya, saat ini Ade Rezki adalah incumbent, sementara Mulyadi tak lagi anggota DPR. Dia harus mundur pada tahun 2020 karena mengikuti Pilgub Sumbar dan kalah dari Mahyeldi-Audy.

‘Peperangan’ Mulyadi vs Ade Rezki ini tentu bisa berdampak positif atau negatif bagi Caleg lain, baik di internal atau eksternal partai. Yang jelas, kini incumbent Demokrat Dapil Sumbar II Rezka Oktoberia. Rezka yang menjadi PAW (pengganti antar waktu) Mulyadi akan terbebani dengan status itu. Pasalnya, 2019 dia hanya mendapatkan 20.792 suara. Kalau Demokrat tak mampu mendapatkan tambahan kursi, maka Mulyadi kembali akan menduduki kursi ini.

Apalagi Mulyadi kembali mendapat­kan nomor urut 1, sementara Rezka masih di nomor urut 2. Nama-nama lain di daftar Demokrat ini disebut-sebut akan kembali mengulang ‘sejarah’ 2019 karena tidak akan terlalu membawa suara signifikan. Mereka nomor urut 3 Teuku Muhammad Gadaffi, 4 Irfan Rizky Pratama, 5 Hengky dan  6 Frissulia Zetira. Jika Rezka sebagai incumbent bisa mendapatkan 50 ribuan suara saja, ada kemungkinan Demokrat bisa mendapatkan dua kursi. Seperti yang terungkap dalam survei Indikator Politik Indonesia Juli 2023 ini.

Gerindra punya persiapan yang lebih baik dari Demokrat. Selain Ade Rezki di nomor urut 1, masih ada Erizal Chaniago di nomor urut 2. Erizal 2019 cukup baik, bisa mendapatkan 38.128 yang mayoritas didapatnya dari Limapuluh Kota dan Kota Payakumbuh. Maklum, Erizal adalah putra asli Luak Limopuluah dan siap kembali melaju pada Pemilu 2024.

Kalau Ade sudah mengamankan Agam-Bukittinggi dan Erizal di Payakum­buh-Limapuluh Kota, Gerindra juga ‘cer­das’ menempatkan Caleg lainnya. Harpen Agus Bulyandi atau Andi Cover di nomor urut 4. Ketua DPRD Kota Pariaman yang ditarget juga bisa ‘mengamankan’ suara Padangpariaman. Jika Andi serius, maka tidak mustahil suara Gerindra di dua daerah ini juga terangkat.

Nama lain ada di nomor urut 6, Bustomi, Ketua DPRD Kabupaten Pasa­man. Tomi juga diharapkan bisa men­da­pat­kan suara dari kabupaten tetangga, Pas­bar. Dua nama lainnya, 3 De Bunga Puti Bungsu dan 5 Lidia Asmawarni akan bermanfaat untuk menambah suara pe­rempuan bagi partai yang mengusung Pra­bowo sebagai Capres itu.

Golkar yang merupakan langganan kursi Dapil Sumbar II masih menempatkan John Kenedy Aziz di nomor urut 1. Incumbent yang sudah dua periode duduk di DPR itu diharapkan bisa kembali menda­pat­kan suara rakyat, utamanya di Pa­dang­­pa­riaman dan Kota Pariaman. Dari total 43.540 suara John Kenedy, 15.028 berasal dari Padangpariaman. Total suara Golkar 2019 di Dapil II hanya 79.023.

Golkar tidak terlalu banyak menem­pat­kan bintang di Dapil ini, sepertinya John akan melenggang jika mendapatkan satu kursi. Satu nama yang mungkin bisa menjadi batu sandungan ‘hanyalah’ nomor urut 5 Roosdinal Salim. Nama ini bukan orang baru, karena sudah bebe­rapa kali nyaleg dari Dapil yang sama. Dia adalah putra Begawan ekonomi nasional asal Sumbar Emil Salim.

Selain itu juga ada nama M Rahmad di nomor urut 4 yang pernah menjadi calon Bupati Limapuluh Kota yang diusung Gerindra. Sebelumnya dia juga kader Demokrat dan sempat menjadi tim penulis naskah pidato Presiden SBY. Sementara nama lain ada nomor urut 2 Desrizal, 3 Dhifla Wiyani dan  6 Septri Lisayani. Anggap saja peluang nama-nama ini sangat berat untuk bersaing.

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pada 2019 juga mendapatkan suara yang melimpah, mencapai 199.737. Tapi tetap belum bisa mendapatkan dua kursi, karena ada Gerindra yang juga ‘nyaris’ menda­pat­kan dua kursi. Nama Nevi Zuairina kali ini ditempatkan di nomor urut 1 dan berstatus in­cumbent. 2019, Nevi yang suaminya Irwan Prayitno masih menjadi Gubernur Sum­bar mendapatkan 52.141 suara. Jauh ung­gul dari incumbent saat itu, Refrizal dengan 27.331 suara.

Kini Nevi tidak lagi bersaing dengan no­mor 1 ‘abadi’ PKS Syaurium SY yang kali ini tak terlihat di DCS. Tapi, nama yang akan dilawan Nevi adalah Riza Falepi, Wali Kota Payakumbuh dua periode dan pernah men­jadi anggota DPD RI asal Sumbar 2009-2013. Riza sebenarnya adalah ‘tim’ Ne­vi pada 2019 saat menjadi Wali Kota. Kini, keduanya harus bersaing mendapat­kan suara.

Kader lain yang bisa menggoyah Nevi adalah Muhammad Ridwan, anggota DPRD Sumbar dan bendahara DPW PKS Sumbar. Ridwan dulu cukup dikenal di Dapil Sumbar II sebagai staf ahli anggota DPR RI Refrizal. Kemungkinan besar, Ridwan akan kembali menyapu suara yang pernah didapat Refrizal dengan fokus di Piaman. Dia juga pernah menjadi calon wakil Wali Kota Pariaman 2018.

Sementara nama-nama lain yang diusung PKS memang tak sementereng 2019 lalu yang berisi Catur Virgo dan Hamsuardi yang bisa mendapatkan suara di atas 25 ribuan. Kini masih tersisa nama-nama M Ihpan, Sofia Astuti dan Rudi Wirawan yang masih harus membuktikan bagaimana mendapatkan suara dari Dapil yang hanya memperebutkan 6 kursi DPR RI itu.

Sementara PAN yang punya incumbent Guspardi Gaus, diprediksi masih akan mendapatkan satu kursi. Guspardi yang kini duduk di nomor urut 4, disebut-sebut tidak akan kesulitan melaju kembali. Dengan suara 2019 yang mencapai 56.365, Guspardi kini tidak punya banyak lawan lagi. 2019 dia harus bersaing dengan Ekos Albar yang kini jadi Wawako Padang dengan 35.854 suara, Taslim (16.042) yang pindah ke Partai Ummat dan M Zuhrizul (10.300) yang hijrah ke PKS di Dapil Sumbar I.

Kemungkinan, Guspardi tidak akan mendapatkan perlawanan sengit bahkan dari Caleg di nomor atasnya, seperti nomor urut 1 Arizal Aziz, 2 Arnold Shinaro dan  3 Resty Yulanda. Di bawah Guspardi ada 5 Dianovri Harpama dan 6  Yennita. Dengan komposisi ini, PAN sebenarnya bisa sangat riskan dan sangat sulit mempertahankan kursinya. Apalagi jika Gerindra, PKS atau Demokrat bisa mendapatkan satu kursi tambahan.

Jika PAN saja diprediksi akan kewalahan, apalagi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang pada 2019 lalu sangat beruntung mendapatkan satu kursi terakhir. Dengan hanya suara total 78.378, PPP nyaris tak mendapatkan kursi andai Gerindra men­dapatkan tambahahan sekitar 20 ribu suara lagi. Dua nama yang bersaing 2019 Mu­ham­mad Iqbal dengan  28.949 dan Hariadi 27.779. Selisih tipis saat 2019 M Iqbal nomor urut 1 dan Hariadi nomor urut 2.

Periode ini, posisi nomor urut berubah, Hariadi nomor 1, M Iqbal nomor 2, 3 Puspita Sari, 4 Tosriadi Jamal, 5 Perismon dan  6 Claude Onnie Chadra. Dari nama-nama lain, hanya Tosriadi Jamal yang disebut-sebut bisa mendapatkan suara baik dari Pariaman dan Padangpariaman. Semen­tara Haridi dan Iqbal sama-sama akan fokus meng­garap suara Agam.

Kalau tak hati-hati, 2024 bisa menjadi mimpi buruk bagi PPP karena kehilangan kursi. Karena ada beberapa partai yang disebut bisa merebut kursi nomor 6 bahkan nomor 5 yang diisi Golkar dan PPP. Utamanya Partai NasDem yang memasang dua nama beken. Seperti mantan anggota DPR RI 2014 dari PDIP Agus Susanto nomor urut 2 yang akan mengumpulkan suara dari Pasbar dan Pasaman. Juga ada nama mantan Bupati Limapuluh Kota Irfendi Arbi nomor urut 5 yang rela meninggalkan perjuangannya maju melalui DPD RI.

Nama lain memang masih kurang dikenal dan disebut berat bagi NasDem untuk meraup suara. Mungkin, penca­pre­san Anies Baswedan akan sedikit mem­bantu partai ini. Karena nomor urut 1 hanya diisi kader baru  Cindy Monica Salsabila Setiawan, 3 Mastoti Surya, 4 Basril Syafrizal dan 6 Machdalena. Nilmaizar yang 2019 ber­tarung di Dapil ini memilih pindah ke Dapil Sum­bar 1.

Bukan merendahkan partai lain, me­mang Dapil Sumbar II belum ramah untuk PKB yang memasang mantan calon Bupati Padangpariaman Tri Suryadi di nomor urut 1,  mantan anggota DPD RI asal Sumbar Herman Darnel Ibrahim di nomor urut 2. Begitu juga dengan PDI P yang mengusung mantan Ketua PPP Bukittingi dan anggota DPRD Sumbar Martias Tanjung di nomor urut 5, masih susah bisa meraih kursi.

Partai yang juga masih berjuang untuk lolos parliamentary threshold (PT) seperti Partai Buruh, Partai Gelora, Partai Kebang­kitan Nusantara (PKN), Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Partai Garuda, Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Solidaritas Indo­nesia (PSI), Partai Perindo dan Partai Umat sangat sulit bersaing di Dapil ini.

Tapi tetaplah berjuang, seperti apa yang disampaikan Buya Hamka, “Jangan takut jatuh, kerana yang tidak pernah meman­ja­tlah yang tidak pernah jatuh. Jangan takut ga­gal, kerana yang tidak pernah gagal hanya­lah orang-orang yang tidak pernah melangkah.” Mari melangkah menyuk­ses­kan Pemilu 2024 yang sudah di depan mata. (Wartawan Utama)