Oleh: Reviandi
Setelah setahun terakhir kita hanya disuguhkan dengan tiga bakal calon Presiden potensial yang semuanya laki-laki, saat ini perempuan mulai dilirik. Meski masih dalam posisi bakal calon wakil Presiden, belum bacalon RI1. Tapi lumayanlah, karena selama ini Bacawapres pun hanya didominasi oleh para lelaki yang ternyata juga tidak terlalu mencolok di depan publik. Di survei pun masih rata-rata.
Mungkin inilah yang menyebabkan naiknya elektabilitas atau pembicaraan terhadap tokoh-tokoh perempuan. Dimulai dari Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa, putri KH Abdurrahman “Gusdur” Wahid, Yenny Wahid dan sebelumnya sempat Menteri Sosial Tri Rismaharini. Ketiganya adalah tokoh-tokoh yang kerap menjadi perbincangan publik, meski nama terakhir sedikit redup setelah menjadi Menteri.
Bahkan, Khofifah hari ini setidaknya bisa menjadi Bacawapres tiga kandidat kuat, baik Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan. Apalagi, dia akan menutup masa jabatannya 31 Desember 2023, persis sebulan setengah jelang Pemilu dan Pilpres. Khofifah sepertinya masih ragu, akan kemana dia setelah lengser dari kursi Jatim 1.
Bacapres terakhir yang kabarnya ‘pedekate’ dengan Khofifah adalah Anies Baswedan yang dijagokan NasDem, PKS dan Demokrat. Bahkan, Demokrat sendiri menyatakan rela saja kalau akhirnya Anies memilih Khofifah, bukan Ketum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Entah serius atau tidak, hal ini berbeda dengan nama-nama lain sebelumnya yang pernah muncul, yang membuat Demokrat sedikit uring-uringan.
Khofifah juga sempat digandeng Prabowo beberapa bulan lalu. Ketum Partai Gerindra yang juga Menteri Pertahanan itu datang betul ke Jatim dan bertemu Khofifah. Belakangan, juga banyak organisasi besar di Jatim yang pro Khofifah menyarankan dia bergabung dengan Prabowo. Tidak pun sebagai Cawapres, tapi dukungan saja sudah sangat membantu. Karena, Jatim adalah ‘tanahnya’ Khofifah.
Kalau dengan Ganjar, cukup banyak tokoh-tokoh yang menjodohkan Khofifah, sampai-sampai Sandiaga Uno dari PPP juga ikut. Dengan Ganjar yang menguasai Jawa Tengah, maka dukungan Khofifah di Jawa Timur akan sangat membantu. Tapi, kedua tokoh ini sepertinya belum memiliki waktu bertemu dan berbincang tentang Capres-Cawapres.
Sebelumnya, Khofifah juga disebut-sebut telah menolak dijadikan Cawapres Anies, meski akhirnya informasi itu menguap begitu saja. Khofifah menjadi pendamping Anies kembali mencuat. Malah, semakin banyak tokoh dari koalisi Anies yang dikenal dengan ‘Koalisi Perubahan’ yang mencomblangkan kedua tokoh yang akrab dengan dunia Pendidikan ini.
Namun, sampai kemarin, belum ada jawaban dari Khofifah. Dia mengatakan langkah politiknya ke depan akan dibahas bersama ulama dan kiai di Jawa Timur. “Ya, saya belum konfirmasi kepada tokoh tertentu. Tapi bahwa beberapa ulama, kiai mengkonfirmasi iya. Tapi nanti pasti mereka akan menyiapkan forum di mana kesepakatan-kesepakatan itu diambil secara kolektif,” kata Khofifah.
Sementara Yenny Wahid juga mulai dikait-kaitkan dengan tiga kandidat Capres. Sama dengan Khofifah, Yenny sudah mulai dipasang-pasangkan dengan Prabowo, Ganjar atau Anies. Yenny dianggap orang yang cocok, karena masih sangat banyaknya pengikut Gusdur, dan juga punya basis di Jawa Timur. Meski tak punya jabatan di pemerintahan, Yenny masih aktif di berbagai kegiatan, sampai dengan pernah menjadi komisaris BUMN.
Namun, sampai kemarin, Yenny terkesan takut dikait-kaitkan dengan Capres tertentu. Dia seperti masih ingin netral dan menjaga warisan yang ditinggalkan Gusdur. Dia bahkan sempat mengungkap kedekatannya dengan tiga Bacapres. Hal itu dilakukannya agar tidak ada kesalahpahaman yang menyebut bahwa dirinya lebih dekat ke bakal capres tertentu.
Kedekatan dengan Anies, kata Yenny, karena sering mendapat undangan menjadi pembicara dalam forum-forum internasional. “Jadi saya cukup mengenal gagasan beliau mengenai kebangsaan ke-Indonesiaan bahkan gagasan tentang Islam. Jadi di sana ada kedekatan,” ujarnya.
Kedekatan khusus dengan Anies karena Yenny pernah ditawari mengajar di Universitas Paramadina sepulang dari Amerika. “Ada kedekatan yang lebih khusus karena ketika saya pulang dari Amerika, Mas Anies nawari saya jadi dosen di Universitas Paramadina, beliau jadi rektornya. Jadi ada kedekatan khusus,” katanya.
Sedangkan kedekatan dengan Ganjar Pranowo lebih pada pertemanan. Ganjar disebut merupakan lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) yang juga dekat dengan suami Yenny, Dhohir Farisi. “Mas Ganjar lulusan UGM, sama seperti suami saya. Kemudian, berangkat dari kaum nasionalis, keluarga Gus Dur juga sangat nasionalis dalam perjuangan kami. Jadi Mas Ganjar sudah seperti teman sendiri,” katanya melanjutkan.
Sedangkan Prabowo Subianto disebut memiliki kedekatan yang paling khusus karena menjadi ‘besan’ politik Gus Dur. Diketahui, suami Yenny Wahid adalah salah satu kader Partai Gerindra yang juga ikut dalam pemenangan Pemilu 2009 lalu.
“Dengan Pak Prabowo lebih khusus lagi, kenapa? Pak Prabowo pernah jadi ‘besan’ politiknya Gus Dur. Kenapa? Karena kadernya waktu itu, menikahi saya, walaupun sekarang sudah pindah partai ke PSI,” ujarnya Yenny.
Bahkan, Yenny mengaku ada ‘peran’ Prabowo pada pencarian jodohnya. “Tapi, kita sangat dekat. Dan saya sangat berterima kasih sama Pak Prabowo walaupun bercanda mungkin ya, tapi saya punya rasa terima kasih khusus karena berkat kampanye untuk Pak Prabowo tahun 2009 saya ketemu suami saya,” katanya lagi.
Khofifah dan Yenny saat ini punya potensi menjadi Cawapres, karena punya basis massa dan sejarah yang kuat. Khofifah dengan NU-nya dan Yenny dengan Gusduriannya. Keduanya sama-sama diharapkan bisa menang di Jawa Timur yang punya pemilih kedua terbesar di Indonesia setelah Jawa Barat sekitar 31,4 juta pemilih.
Faktor perempuan sepertinya mulai diperhitungkan oleh partai politik dan Bacapres. Karena itu adalah ‘jualan’ yang sangat kuat. Indonesia baru pernah punya wakil Presiden perempuan dan Presiden perempuan yang orangnya sama, Megawati Soekarnoputri. Itupun saat masih pemilihan di MPR RI, bukan secara langsung. Karena saat pemilihan Presiden langsung 2004 dan 2009, Mega dikalahkan SBY dua kali.
Kini, ada peluang Indonesia mengulang sejarah dengan menjadikan Khofifah atau Yenny Wahid sebagai wakil Presiden. Ketiga orang Capres terkuat, sepertinya sama-sama melirik Jawa Timur untuk dijadikan target ‘pasar’ mereka. Karena Prabowo akan kuat di Jawa Barat, Anies di DKI Jakarta dan Ganjar di Jawa Tengah. Sementara di Jawa Timur, masih ‘kosong’ dari Capres potensial.
Untuk itu, posisi Cawapres dari Jawa Timur sangat menentukan. Meski sebenarnya Prabowo sudah ada Ketum PKB Muhaimin Iskandar yang juga dari Jawa Timur dan Anies yang tak perlu jauh-jauh karena ada AHY dari Jawa Timur juga. Sementara Ganjar memang belum punya calon Wapres dari Jatim, dan berpeluang Khofifah dan Yenny Wahid yang bakal dikejarnya.
Soal perempuan dan laki-laki, Proklamator Indonesia Soekarno pernah berujar, “Laki-laki dan perempuan adalah seperti dua sayap dari seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; Jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali.” Meski perempuan hari ini belum bisa jadi Capres, minimal Cawapres ada. Ingat, pemilih terbanyak dan loyal itu adalah perempuan. (Wartawan Utama)






