Oleh: Reviandi
ADA fenomena menarik dari para politisi Sumatra Barat (Sumbar) jelang Pemilu 2024. Meski masih ada yang bersikeras mempertahankan kursinya di DPRD Kabupaten dan Kota yang sudah tiga atau empat periode, ada juga yang nekat naik kelas. Kalau naik satu tingkat itu biasa, tapi sejumlah politisi memilih untuk naik dua tingkat dari DPRD Kabupaten/Kota ke DPR RI.
Beragam alasan untuk melewati DPRD Sumbar itu, mungkin ada juga yang tak punya pilihan lagi, atau benar keinginan sendiri. Bahkan, para ketua DPRD di Sumbar yang banyak terlihat melakukan ini. Mungkin, karena posisi ketua inilah yang membuat mereka yakin, bisa mendapatkan suara maksimal dan duduk di Senayan.
Seperti Ketua DPRD Solok Selatan (Solsel) Zigo Rolanda dari Partai Golongan Karya (Golkar). Di luar prediksi, Zigo terdaftar sebagai Bacaleg DPR RI dari Dapil Sumbar 1. Daerah yang pastinya termasuk Solsel, dilanjutkan Padang, Kepulauan Mentawai, Pessel, Solok, Kota Solok, Sijunjung, Dharmasraya, Sawahlunto, Tanahdatar dan Padangpanjang.
Zigo mungkin orang yang suka tantangan. Sebelum menjadi ketua DPRD Solsel 2019-2024, dia pernah menjadi anggota DPRD Sumbar 2014-2019. Saat itu, masalah umurnya sempat bikin heboh karena diduga belum genap 21 tahun sebagai salah satu syarat menjadi wakil rakyat di DPRD Provinsi.
Masalah berlalu, Zigo malah bertukar posisi dengan ayahnya Khairunas yang naik ke DPRD Sumbar 2019 dan memenangkan Pilkada Solsel 2020. Hal ini pulalah yang diduga membuat Zigo berani maju ke DPR RI, karena ayahnya juga Ketua DPD Golkar Sumbar yang tentunya punya sumber daya juga selain di Solsel.
Wakil Ketua DPRD Solsel Armen Syahjohan juga nekat mengadu nasib menuju Senayan. Ketua DPD Gerindra Solsel ini sepertinya melihat peluang duduk di DPR RI karena Gerindra yang dianggap cukup mumpuni di Dapil 1 Sumbar. Karena, ada nama incumbent yang juga ketua DPD Gerindra Sumbar Andre Rosiade yang disebut-sebut akan meraup banyak suara.
Armen memang sudah dua periode di DPRD Solsel dan memilih naik kelas ke DPR RI, karena mempertimbangkan adik kandungnya Mario Syahjohan yang kini duduk di DPRD Sumbar. Mario masih ‘betah’ di DPRD Sumbar, karena masih periode pertamanya. ‘Duet’ Armen dan Mario ini disebut-sebut bisa membuat suara mereka naik pesat di Solsel dan juga Kabupaten Solok dan Kota Solok. Keduanya disebut cukup disegani dan dihormati di Solok Raya.
Dua nama lainnya yang dapat disebut nekat berasal dari Dapil Sumbar 2 yang terdiri dari Kota Pariaman, Padangpariaman, Agam, Bukittinggi, Pasaman, Pasaman Barat, Payakumbuh dan Limapuluh Kota. Dua orang itu berasal dari Partai Gerindra dan sama-sama berstatus ketua DPRD.
Yang pertama adalah Harpen Agus Bulyandi yang dikenal dengan Andi Cover. Baru beberapa bulan menjadi Ketua DPRD Kota Pariaman, Andi langsung didaftarkan Gerindra sebagai Caleg DPR RI. Wakil Ketua DPC Gerindra Pariaman ini merasa yakin bisa bertarung, dengan mengandalkan suara dari Kota Pariaman dan Padangpariaman.
Andi sadar betul, Gerindra di Dapil 2 sangat identik dengan Ade Rezki Pratama yang sudah dua periode di Senayan. Hasil berbagai survei yang dilakukan lembaga-lembaga independent pun masih menyebut nama Ade Rezki sebagai calon kuat DPR RI. Maklum, 2019 lalu Ade bisa meraih suara lebih dari 100 ribu, meski tidak bisa mengantarkan partainya merebut dua dari enam kursi di Dapil itu.
Tak jauh beda dengan Andi Cover, Ketua DPRD Pasaman Bustomi juga telah terdaftar sebagai calon anggota DPR RI dari Dapil 2. Bustomi juga adalah Ketua DPC Partai Gerindra Pasaman. Dengan ‘basis’ suara Pasaman dan Pasaman Barat, Bustomi merasa yakin bisa mendapatkan suara yang maksimal. Karena, incumbent Ade Rezki lebih banyak dikenal di Agam dan Bukittinggi.
Bustomi memang cukup mengejutkan mau berjuang ke DPR RI, karena sejatinya dia masih bisa berada di zona aman. Tetap bertahan di DPRD Pasaman, atau naik ke DPRD Sumbar saja. Tapi, dia memilih melompat dua tingkat. Satu hal yang mungkin akan terasa berat kalau dilihat dari luar. Karena, perbedaan daerah pemilihan yang signifikan dan lawan-lawan yang tangguh.
Ibaratnya, dari DPRD Kabupaten ke DPR RI ini, seorang petinju kelas berat ringan (Light heavyweight) dengan berat 79,3 Kg langsung melompat ke kelas berat (Heavyweight) 100 Kg. Melewati kelas yang juga pasti berat baginya di penjelajah 90,7 Kg (Cruiserweight). Banyak hal yang harus disiapkan petinju jika ingin naik dua kelas.
Di Sumbar, ‘sejarah’ politisi naik kelas dua tingkat ini juga belum ada yang terlihat. Banyak yang gagal naik kelas dan pada Pemilu berikutnya kembali masuk ke DPRD Sumbar atau turun lagi ke Kabupaten/Kota. Karena itu, perbedaan yang sangat jelas antara DPR RI dan daerah. Suara yang dikumpulkan juga begitu besar.
Salah satu anggota DPRD Kabupaten yang sampai menjadi anggota DPR adalah Agus Susanto dari PDIP. Dia adalah anggota DPR dari Dapil Sumbar 2 pada 2014-2019. Sayang, pada Pemilu 2019 dia kalah dan tidak bisa mempertahanan kursinya. Agus pernah menjadi anggota DPRD Pasaman Barat 2004-2009 dan anggota DPRD Sumbar 2009-2014. Sebelum mendaki ke DPR RI, Agus ‘mampir dulu di DPRD Sumbar. 2024, Agus tidak lagi di PDIP. Dia maju ke DPR RI dari Partai NasDem.
Tapi, keberanian para politisi yang dapat dikatakan masih muda ini patut diacungi jempol. Karena, di tengah para politisi tua yang takut naik kelas, mereka mencoba peruntungan yang peluangnya kecil. Bahkan, bisa-bisa mereka akan menjadi ‘tertawaan’ oleh politisi-politisi mapan yang maju ke DPR. Baik incumbent, mantan DPR, atau orang-orang yang merasa sudah layak maju ke DPR.
Mungkin, alasan naik kelasnya para politisi DPRD Kabupaten dan Kota ini karena merasa lebih bermanfaat dan bertenaga jika menjadi anggota DPR. Perbedaan kewenangan yang jauh dan lebih powerfull-nya DPR menggoda mereka. Apalagi, bisa bertugas di ibu kota dan memiliki mitra kerja di tingkat Menteri dan para pejabat setingkat sampai kepala BUMN dan instansi lain.
Satu hal lain yang mungkin bisa ditebak dari mereka, mungkin sama dengan alasan Wakil Bupati Pessel Rudi Hariyansyah yang juga maju ke DPR RI di Dapil Sumbar 1 dari Partai Amanat Nasional (PAN). Rudi dengan yakin mengatakan, andai gagal ke DPR RI, dia masih berpeluang maju menjadi calon Bupati pada Pilkada serentak 2024.
Mungkin itu pula yang ada di pikiran Andi Cover, menjadi Wali Kota Pariaman 2024. Sementara Genius Umar masih satu periode dan berpeluang maju kembali meski periode pertamanya akan habis Oktober 2023 ini. Begitu juga dengan Bustomi yang bisa maju Pilkada Pasaman 2024, saat incumbent Benny Utama sudah dua periode. Apalagi Benny juga disebut maju DPR dari Golkar.
Di Solsel, andai gagal ke DPR RI, Zigo dan Armen masih bisa bertemu untuk bertarung di Pilkada Solsel 2024. Bagi Zigo, itu tak mustahil andai Khairunas berani maju di Pilgub Sumbar, bersaing atau bersanding dengan incumbent Gubernur Mahyeldi. Sementara bagi Armen, ‘jatah’ Pilkada Solsel 2024 sejatinya menjadi gilirannya, karena harus ‘mengalah’ di Pilkada 2020 kepada incumbent Bupati Abdul Rahman. Pilkada 2024 adalah plan B bagi mereka yang muda dan punya basis pendukung dan partai politik ini.
Pahlawan kulit hitam dari Afrika Selatan Nelson Mandela pernah berujar, “Kelihatannya semua itu mustahil sampai semuanya terbukti.” Mungkin inilah yang akan dibuktikan oleh para kader partai yang nekat melangkahi DPRD Sumbar untuk menuju ke puncak yang lebih tinggi. Pembuktian yang akan membuat semua mata tercengang di 2024. (Wartawan Utama)






