Oleh: Reviandi
Sebuah fakta mengejutkan terjadi pekan ini. Saat masih ada yang menyebut dukungan masyarakat Sumatra Barat (Sumbar) sudah beralih dari Prabowo Subianto kepada Anies Rasyid Baswedan, ternyata hasil survei Indikator Politik Indonesia sebaliknya. Ternyata dukungan mayoritas publik Sumbar sudah kembali kepada Prabowo, meski belum semasif Pilpres 2014 dan 2019.
Hasil survei Indikator 26 Juni sampai 10 Juli 2023, elektabilitas Prabowo telah jauh menyalip Anies kembali. Sebanyak 1.620 responden dilbatkan Indikator menyisir 19 Kabupaten dan Kota di Sumbar. Dengan margin of error sekitar 2,7 persen. Prabowo unggul dari semua simulasi yang dilakukan lembaga pimpinan Burhanuddin Muhtadi PhD itu.
Hasil survei tiga nama menyatakan Prabowo unggul 48 persen, Anies Baswedan 39,5 persen, Ganjar Pranowo 6,2 persen dan tidak tahu dan tidak menjawab 6,2 persen. Padahal, pada Januari 2023, Anies unggul dengan 49,6 persen, Prabowo 33,9 persen, Ganjar 7,7 persen dan tidak tahu dan tidak menjawab masih 8,7 persen. Terjadi perubahan yang sangat signifikan.
Prabowo kini unggul dari Anies Baswedan sekitar 8,5 persen. Sementara Januari kalah sekitar 15,7 persen. Angka yang sangat besar untuk persaingan calon Presiden di satu Provinsi. Sementara Ganjar seperti yang banyak diperkirakan, tidak akan bisa berbuat banyak. Nilainya malah turun dari 7,7 persen Januari 2023 menjadi 6,2 persen.
Banyak yang menyebut, comeback atau kembalinya tren Prabowo karena kerja keras para pendukungnya yang dikomandoi Ketua DPD Gerindra Andre Rosiade di Sumbar. Tidak henti-henti membela dan menyebut Prabowo bukan berkhianat dengan menjadi bagian dari pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin. Langkah itu “disepakati” adalah untuk menyelamatkan Indonesia dari krisis dan konflik berkepanjangan pasca-Pilpres 2019.
Selain itu, pilihan Prabowo itu dianggap realistis dan tepat, mengingat bagaimana bencana Covid-19 yang terjadi hampir 3 tahun lamanya. Andai Prabowo tak bergabung dan bahu-membahu dengan Jokowi, banyak yang percaya Indonesia belum akan melewati krisis karena pandemi. Komunikasi yang baik dan gencar oleh kader, simpatisan dan lainnya membuat masyarakat Sumbar mulai menerima kembali Prabowo.
Selain itu, kunjungan Prabowo ke Sumbar akhir April 2023 juga dianggap sangat efektif merangkul kembali pemilih Sumbar. Apalagi saat itu, Prabowo juga menggelar temu tokoh se-Sumbar dari berbagai kalangan, baik akademisi, agamawan, adat dan banyak lagi. Prabowo menjelaskan alasan-alasan yang logis mengapa dia bergabung dengan Jokowi.
Prabowo juga mendapatkan momentum yang tepat karena hadir di berbagai acara yang ramai dikunjungi masyarakat di Kabupaten Tanahdatar. Yang disebut Luak Nan Tuo, daerah utama Minangkabau dengan Istano Pagaruyung dan lainnya. Prabowo sempat membakar semangat semua pengurus Gerindra tingkat Sumbar sampai ranting dan anggota DPR, DPRD Sumbar dan DPRD Kabupaten dan Kota.
Dengan begitulah Prabowo dianggap ‘sukses’ kembali menyalip Anies yang secara nasional hasil surveinya memang cenderung menurut sejak deklarasi akhir 2022. Mungkin kedatangan Anies pekan ini bersama Ketum NasDem Surya Paloh bisa memberikan dampak signifikan. Sehingga kalau disurvei lagi Agustus, Anies kembali bisa rebound atau minimal tak begitu jauh tertinggal.
Menarik apa yang disampaikan peneliti Spektrum Politika Andri Rusta dalam relis yang disiarkan secara langsung oleh Indikator via Zoom soal mengapa nilai Anies merosot di Sumbar. Dosen FISIP Universitas Andalas (Unand) itu menyebut, saat euphoria Anies akhir 2022 lalu, harusnya bisa dimanfaatkan dengan baik oleh partai politik dan menjaganya.
Tapi yang terjadi, kepopuleran dan elektabilitas Anies yang tinggi di Sumbar saat itu, hanya dimanfaatkan oleh para Bacaleg saja. Mereka banyak yang hanya mengambil ‘tuah’ atau coattail effect (efek ekor jas) saja. Memanfaatkan untuk membantu mengatrol keterpilihan saja. Sementara, belum berefek kepada Anies Baswedan dan Partai NasDem yang sebenarnya identik dengan Anies.
Padahal, kalau dilihat, alat peraga atau baliho Anies dan para Bacaleg di Sumbar begitu marak dan masif. Baik di papan besar, atau yang kecil-kecil sampai spanduk-spanduk di tepi jalan. Namun ternyata belum mampu membuat survei Anies semakin tinggi. Malah menjadi semakin turun dan cukup drastis bila dibandingkan dari Januari 2023.
Dari survei Indikator itu, kekalahan Anies disebutkan dari semua simulasi yang dilakukan. Bahkan, dari top of mind saja, Prabowo mencapai 42.8 persen, unggul atas Anies 34.6 persen, Ganjar 3.9 persen, dan nama lain jauh lebih rendah, belum menjawab 17.5%. Artinya, tanpa ada ‘klu’ apapun, mayoritas warga Sumbar sudah menyatakan pilihannya.
Menurut Burhan, angka 17,5 persen yang belum memberikan jawaban itu sangat rendah bila dilihat dari top of mind. Di tempat lain, angka itu masih di kisaran 30-an persen. Artinya, masyarakat Sumbar telah memiliki pilihannya jauh hari sebelum Pemilu dan Pilres itu digelar. Hal itu menandakan bagaimana dewasanya masyarakat kita dalam berpolitik.
Jadi, untuk mendapatan angka melewati Prabowo kembali, tim Anies Baswedan maupun partai pendukungnya, NasDem, PKS dan Demokrat harus bekerja keras. Karena, masih banyak pendukung dari partai-partai ini yang ‘mbalelo’ tidak memilih Anies. Dari simulasi survei, hanya pemilih Gerindra yang paling loyal kepada Prabowo. Jumlahnya mencapai 81,1 persen dan 15 persennya masih ‘bocor’ memilih Anies dan sisanya ke Ganjar 1,5 persen dan belum tahu.
Sementara para kader NasDem, hanya 68,5 persen yang menyatakan memilih Anies, sementara 17,1 persen ke Prabowo dan 8,9 persen ke Ganjar dan 5,6 persen belum menyatakan sikap. Untuk PKS, juga belum full kepada Anies Baswedan. Sebanyak 71 persen ke Anies dan 21 persennya masih ‘bocor’ ke Prabowo dan 2,8 persen ke Ganjar, sisanya 5,2 persen belum tahu.
Yang paling tidak ‘loyal’ kepada Anies adalah pemilih Partai Demokrat. Sbeanyak 39,8 persen masih memilih Prabowo sebagai Capresnya. Sementara yang loyal kepada Aneis hanya 54,4 eprsen dan 4,2 persen ke Ganjar, sisanya 1,6 persen belum tahu. Mungkin para pemilih Demokrat masih menunggu, kapan Ketum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dinyatakan sebagai calon wakil Presiden Anies atau tidak.
Nah, dari bocoran pilihan Presiden menurut pilihan partai yang disampaikan Indikator Politik itu bisa jadi catatan bagi tiga partai koalisi Anies untuk berbenah. Memastikan semua kadernya bergerak memenangkan partai, tapi tidak lupa memastikan suara untuk Anies. Karena, tingkat ‘kebocoran’ yang masih tinggi itu akan berbahaya.
Artinya, strong voter belum tercipta dan akan berbahaya untuk partai itu sendiri. Karena, kecintaan kepada calon Presiden, bisa-bisa mengubah pilihan mereka kepada partai politik. Dengan siswa waktu yang tak banyak ini, pastikan semua elemen bergerak. Untuk Gerindra, meski disebut partai terbesar hari ini, jangan terlalu jemawa. Karena, pemilih Gerindra sekitar 15 persen masih kecantol dengan Anies.
Prof Effendi Gazali yang turut hadir dalam Zoom itu menyebut, dengan naiknya Prabowo, artinya orang yang dulunya ‘marabo’ atau marah sudah mulai kembali. Sudah bisa memaklumi alasan Prabowo masuk ke ranah pemerintah. Tinggal memastikan, siapa yang bisa mengambil hati masyarakat Sumbar jelang pemilihan. Yang pasti, Sumbar hanya akan jadi ajang ‘perang’ Prabowo dan Anies, sementara Ganjar masih jauh.
Yang paling penting, jangan sampai Pilpres 2024 ini menjadikan ajang perpecahan atau permusuhan di internal Sumbar. Karena dua kali Pilpres, masyarakat Sumbar sepakat memilih Prabowo-Hatta dan Prabowo-Sandiaga. Ada kemungkinan, 2024 akan berbeda, karena selisih suara Prabowo dan Anies tidak terlalu jauh.
Mari kita ingat kata Presiden RI pertama Soekarno, “Pemilihan umum jangan menjadi tempat pertempuran. Perjuangan kepartaian yang dapat memecah persatuan bangsa Indonesia.” Baiknya, Pileg dan Pilpres kita bawa happy dan persaudaraan tetap terjaga. (Wartawan Utama)






